Gagal ke Semifinal, Jonatan Christie Mengaku Kecewa

Jonatan Christie mengaku sangat kecewa karena gagal ke semifinal Indonesia Masters 2020. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Di tengah keriangan Indonesia mengirim lima wakil ke semifinal, ada dua wakil yang kekalahannya cukup disesali. Siapa lagi kalau bukan Jonatan Christie dan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Jonatan tadi malam gagal ke empat besar setelah dikalahkan sang juara bertahan, Anders Antonsen, dengan skor 14-21, 21-10, 12-21.

Itu mengulang hasil tahun lalu. Pemain nomor 6 dunia tersebut juga menyerah di tangan Antonsen. Bedanya, kekalahan itu terjadi di semifinal. So, praktis itu merupakan kemerosotan prestasi yang membuat dia turun ke ranking tujuh dunia pekan depan. Jojo pun mengaku sangat kecewa.

Peraih emas Asian Games 2018 tersebut mengatakan, kondisi angin tidak terlalu bagus untuknya. Itu berbeda dengan pertandingan sebelumnya di 16 besar. Kali ini lebih menguntungkan Antonsen. ’’Dia (Antonsen) bukan pemain yang bertipe long rally. Dia bisa cepat mematikan. Saya mencoba untuk tarik tetapi tidak pas dengan tempo strategi bemain,’’ ungkap Jonatan.

Pemain 22 tahun tersebut menampik anggapan bahwa kali ini dia mencoba bermain aman. ’’Saat game kedua itu, Antonsen memang sengaja melepas dan tidak mau ngadu permainan,’’ jelas Jonatan. ’’Kalau saat itu memaksakan diri, dia bisa habis di game ketiga. Makanya, saat game ketiga, dia kuat. Defense-nya juga kuat jadi cukup menyulitkan bagi saya,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Praveen/Melati turut menjadi korban pasangan sensasional Prancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue. Mereka kalah dalam tiga game ketat 19-21, 21-14, 18-21.

Gicquel/Delrue, peringkat 21 dunia, sebelumnya memulangkan unggulan keempat asal Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, dengan skor telak 21-12, 21-12.

Laga kemarin bisa dibilang kembalinya si raja (dan ratu) error. Game pertama, Gicquel/Delrue memang tampil dominan. Mereka leading sejak awal. Nah, game terakhir bikin gemas.

Sempat leading 10-6, eh malah lawan yang mencapai interval duluan. Setelah itu, skor sangat ketat hingga Gicquel/Delrue merebut tiga poin terakhir. Penyebabnya apa? Sederet error yang dibuat Praveen dan Melati.

’’Waktu poin 11 (setelah interval, Red), banyak bola mati sendiri. Di poin 11 sampai 20, finishing-nya jelek. Mati sendiri di bola gampang, di poin kritis,’’ tutur Melati.

Praveen menjelaskan, mereka juga merasa terbebani. ’’Lawan nothing to lose. Kami main di tempat sendiri dan jadi unggulan. Ya jadi beban,’’ kata Praveen. ’’Tidak apa kalau kami habis dalam turnamen level 500. Tujuan kami All England dan Olimpiade 2020. Di sini kami mendapat banyak pelajaran,’’ imbuhnya. (jp/jm)

  • Dipublish : 18 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami