Gandeng Netflix, Komisi X Kritik Keras Kemendikbud

Ilustrasi Mendikbud Nadiem Makarim (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Ilustrasi Mendikbud Nadiem Makarim (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mengandeng Netflix untuk menyajikan film dokumenter selama pelaksanaan belajar dari rumah mendapatkan kritikan tajam dari Komisi X DPR. Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan, film dokumenter yang bakal diputar melalui TVRI itu tidak memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas anak bangsa.

Menurut dia, banyak anak bangsa yang lebih kreatif untuk membuat film dokumenter, film pendek, hingga panduan belajar bagi peserta didik selama masa belajar dari rumah. “Ini kenapa Kemendikbud sebagai rumah besar pendidikan di Tanah Air malah mengandeng penyedia layanan streaming dari luar negeri untuk sekadar menyediakan film dokumenter,” terang Huda, Kamis (18/6).

Huda mengatakan, selama proses belajar dari rumah, siswa memang membutuhkan hiburan-hiburan berkualitas yang memuat unsur pendidikan. Walaupun demikian, harusnya kebutuhan tersebut diberikan kepada talent maupun rumah produksi lokal untuk memenuhinya.

“Kita punya Pusat Film Nasional (PFN), kita juga punya banyak mahasiswa dari jurusan desain komunikasi visual. Kenapa tidak diberikan kesempatan bagi mereka?” tutur dia.

Politikus PKB itu menyatkan, keputusan Kemendikbud bekerjasama dengan Netflix sejak awal tahun lalu sempat memicu kontroversi di masyarakat. Penyedia layanan streaming tersebut dinilai belum memenuhi kewajibannya sebelum memulai bisnis di Indonesia. Selain itu, Netflix juga dianggap bisa mengancam eksistensi berbagai badan usaha lokal yang bergerak di bidang industri kreatif.

Menurut dia, tentu itu agak aneh. Sebab, institusi bisnis yang jelas belum memenuhi kewajibannya malah digandeng instansi negara. “Ini kan seolah melegitimasi institusi lain untuk mangkir kewajiban, toh nantinya tetap bisa bergandengan tangan dengan pemerintah,” urainya.

Huda menegaskan bahwa Kemendikbud harusnya segera melakukan perbaikan kurikulum agar sesuai dengan situasi pandemi. Menurutnya, kurikulum yang adaptif dengan situasi pandemi jauh lebih penting bagi peserta didik daripada sekedar film dokumenter yang tayang seminggu sekali.

Kurikulum pandemi akan memberikan panduan bagi stakeholder pendidikan untuk memberikan kejelasan target kompetensi dan metode belajar. “Yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi peserta didik,” terangnya.

Sebelumnya, Kemendikbud mengumumkan akan menghadirkan film dokumenter Netflix yang ditayangkan melalui program belajar dari rumah (BDR) yang ditayangkan melalui TVRI mulai 20 Juni 2020. Upaya itu dilakukan Kemendikbud untuk memastikan agar dalam masa yang sulit, masyarakat terus mendapatkan kesempatan untuk melakukan pembelajaran dari rumah, salah satunya melalui media televisi dengan jangkauan terluas di Indonesia. (jp)

  • Dipublish : 18 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami