Gawat, 210 Ribu Warga Mengidap HIV/AIDS

Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Gawat. Sedikitnya 210.000 dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Data ini terakumulasi hingga November 2019. Sementara, perkiraan prevalensi keseluruhan adalah 0,1% di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua, di mana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara penularan utamanya melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung (kondom).

Sementara jumlah kasus kematian akibat AIDS mencapai 5.500 jiwa (data hingga 2019). Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria.

Sejak 30 Juni 2007 misalnya, 42% dari kasus AIDS yang dilaporkan ditularkan melalui hubungan heteroseksual dan 53% melalui penggunaan obat terlarang. Berdasarkan hasil survei, Durex, brand kontrasepsi Reckitt Benckiser (RB) beberapa topik yang jarang didiskusikan oleh masyarakat meliputi topik pernikahan di bawah 20 tahun termasuk risiko kesehatannya hanya dibicarakan oleh 38% responden remaja dan 20% responden orangtua.

Adanya tantangan komunikasi antara orangtua dengan anak yang diperlihatkan oleh 61% responden anak muda takut merasa dihakimi oleh orangtua. Sedangkan 59% orangtua merasa khawatir jika mendiskusikan edukasi seksual seolah mengajarkan hubungan seks pra-nikah. Topik penyakit menular seksual (PMS) termasuk cara pencegahannya hanya dibicarakan oleh 35% responden pasangan menikah.

Ketua Umum Kelompok Studi lnfeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) Hanny Nilasarimenyebutkan, Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu pintu masuk penularan HIV/AIDS. Selama ini usaha pencegahan telah dilakukan melalui kampanye dan edukasi pada populasi sehat terutama pada remaja. “Menahan diri untuk tidak berisiko IMS merupakan hal wajib yang perlu digaungkan, agar bangsa Indonesia sehat dan menghasilkan generasi yang kuat,” kata Hanny, kemarin (21/11).

Lebih lanjut dr Hanny mengajak masyarakat untuk beraksi mencegah IMS mulai dari sekarang. “Stigma bahwa HIV mudah menular juga perlu diluruskan, jauhi penyakitnya bukan penderitanya,” sambung Hanny.

Hasil survei ini mengindikasikan bahwa terdapat aspek tabu dan stigma yang masih menjadi tantangan terbesar di kalangan tiga profil konsumen saat membicarakan kesehatan reproduksi dan edukasi seksual. Sehingga tidak mengherangkan ditemukan sejumlah miskonsepsi pada penyakit menular seksual (PMS) khususnya HlV/AlDS seperti lebih dari 50% responden anak muda, orangtua, dan pasangan menikah percaya bahwa berciuman mampu menularkan penyakit HlV/AIDS.

HIV adalah virus yang ditularkan dari orang ke orang. Seiring waktu, HIV menghancurkan jenis sel penting dalam sistem kekebalan tubuh (disebut sel CD4 atau sel T) yang membantu melindungi kita dari infeksi. Ketika tubuh tidak memiliki cukup sel CD4 ini, tubuh tidak dapat melawan infeksi seperti biasanya.

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh kerusakan yang dilakukan HIV pada sistem kekebalan tubuh. Seseorang menderita AIDS saat mendapat infeksi berbahaya atau memiliki jumlah CD4 yang sangat rendah. AIDS adalah tahap paling serius dari HIV, dan bisa menyebabkan kematian.

Tanpa pengobatan, biasanya dibutuhkan sekitar 10 tahun bagi seseorang dengan HIV untuk mengembangkan AIDS. Pengobatan memperlambat kerusakan yang disebabkan oleh virus dan dapat membantu orang tetap sehat selama beberapa dekade.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono mengatakan menghilangkan stigma dan mengontrol penyebaran HlV/AIDS di Indonesia bukan hal mudah. ”Maka apresiasi saya sampaikan kepada Direksi dan segenap jajaran Reckitt Benckiser Indonesia atas langkah dan upayanya,” kata dia.

Ia mengharapkan bahwa inisiatif ini akan memiliki keberlanjutan jangka panjang. Bersamaan dengan peluncuran hasil survei lengkap ini, Durex RB Indonesia juga menyedikan kampanye yang bertujuan untuk menormalisasi perbincangan seksual dalam Health Hygiene Home, konteks ilmiah namun tetap ringan, bernama Eduka5eks.

Memahami situasi ini, Reckitt Benckiser Indonesia mendorong masyarakat Indonesia untuk menormalisasi komunikasi kesehatan reproduksi dan edukasi seksual antara anak muda dengan orangtua serta pasangan menikah. “Oleh karena itu, kami menyediakan Eduka5eks untuk menyediakan informasi yang kredibel sekaligus membawa perbincangan seksual dalam konteks ilmiah namun tetap ringan” ujar General Manager Reckitt Benckiser Indonesia, Srinivasan Appan.

(dim/fin/ful)

  • Dipublish : 22 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami