Gelar Latihan Militer Gabungan, China – Rusia Libatkan Lebih 10.000 Personel

Ilustrasi. Kapal induk Liaoning China saat latihan tempur Beijing. Foto/REUTERS
Ilustrasi. Kapal induk Liaoning China saat latihan tempur Beijing. Foto/REUTERS
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JAKARTA – Pasukan militer China dan Rusia menggelar latihan militer gabungan skala besar di wilayah China bagian barat laut. Latihan gabungan ini akan melibatkan lebih dari 10.000 personel militer kedua negara.

Kantor berita Xinhua dalam laporannya menyebut, bahwa latihan militer gabungan ini dimulai sejak Senin (9/8) waktu setempat dan dipimpin oleh Li Zuocheng, anggota Komisi Militer Pusat pada Partai Komunis yang berkuasa di China.

“Bertujuan untuk memperdalam operasi anti-terorisme gabungan antara militer China dan Rusia dan menunjukkan tekad teguh dan kuat dari kedua negara untuk bersama-sama menjaga keamanan dan stabilitas internasional dan regional,” demikian seperti dilaporkan Xinhua, Rabu (11/8/2021)

“Ini mencerminkan ketinggian baru dari kemitraan koordinasi strategis komprehensif Rusia-China untuk era baru dan kepercayaan strategis, pertukaran pragmatis, dan koordinasi antara kedua negara,” sambung laporan Xinhua tersebut.

Sementara itu, surat kabar Rusia, Kommersant juga melaporkan, bahwa latihan militer gabungan ini akan berlangsung hingga Jumat (13/8) mendatang.

Disebutkan juga bahwa dalam latihan gabungan ini, tentara Rusia untuk pertama kalinya akan menggunakan persenjataan China. Kedua negara diketahui telah menggelar latihan militer gabungan sejak tahun 2005.

Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya menyebut militer Rusia mengirimkan jet tempur Sukhoi Su-30SM, unit senapan bermotor dan sistem pertahanan udara dalam latihan gabungan itu. Disebutkan bahwa latihan gabungan ini fokus pada pemberantasan terorisme.

Latihan gabungan China-Rusia ini digelar saat kelompok Taliban semakin menguasai wilayah-wilayah strategis di Afghanistan, yang situasi keamanannya memburuk sejak Amerika Serikat (AS) menarik pasukannya usai dua dekade berperang di sana. Penarikan tentara itu memicu kekhawatiran keamanan bagi Rusia. (fin/jm)

  • Dipublish : 12 Agustus 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami