Gereja Mulai Dibuka Juli, Jemaat Diimbau Terapkan Protokol Kesehatan

Penyemprotan disinfektan di dalam gereja. Gereja rencananya mulai dibuka pada Juli dan umat diminta terapkan protokol kesehatan (Robertus Risky/Jawa Pos)
Penyemprotan disinfektan di dalam gereja. Gereja rencananya mulai dibuka pada Juli dan umat diminta terapkan protokol kesehatan (Robertus Risky/Jawa Pos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Pdt Paulus Kariso Rumambi mengajak jemaat gereja untuk mematuhi protokol kesehatan selama beribadah, salah satunya dengan menggunakan masker. Pada Juli mendatang, gereja akan mulai dibuka bertahap, baik untuk Kristen dan Katolik.

“Selama peribadatan seluruh jemaat menggunakan masker. Kami juga mengimbau agar ketika memuji Tuhan tetap menggunakan masker. Bila perlu untuk menjaga keamanan, menyanyi dalam hati. Ada song leader yang menyanyi dengan face shield. Jemaat baiknya menyanyi setengah suara atau dalam hati,” ujarnya melalui keterangan resmi, Sabtu (20/6).

Sejak awal Juni 2020, GPIB sudah mengeluarkan panduan untuk seluruh gereja di 26 Provinsi, termasuk pelosok pedalaman. Sebab, ada lebih kurang 300 cabang induk di daerah pedalaman.

“Selama Juni, mereka mempelajari panduan kami. Kami akan memulai ibadah di bulan Juli. Tapi harus memenuhi syarat utama yaitu surat keterangan rumah ibadah aman Covid -19 dari gugus tugas daerah,” terangnya.

Protokol kesehatan yang harus dijalani jemaat saat beribadah di gereja, kata Paulus, yakni berupa pemeriksaan suhu tubuh, pemberian masker jika tidak menggunakan, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, pengambilan nomor untuk masuk ruang ibadah, serta pengisian buku kehadiran ibadah.

Setelah itu, jemaat baru akan diarahkan petugas sesuai nomor kursinya. “Saat memasuki gereja, mereka sudah memakai masker,” tegasnya.

Ada sejumlah tahapan dalam pelaksanaan ibadah di gereja saat pandemi. Pertama, sosialisasi yang berlangsung selama dua minggu pertama di bulan Juni. Sosialisasi ini dihadiri para pemimpin umat, baik anggota majelis maupun pengurus komisi.

Tahap selanjutnya adalah adaptasi. Tahapan ini berlangsung selama kurang lebih empat minggu. Dalam tahap ini, pelaksanaan ibadah di gereja hanya diikuti maksimal 25 persen dari total kapasitas gedung. Jemaat juga diharuskan tetap menjaga jarak sekitar 1,5 m.

Terakhir, tahap pemantapan. Dalam tahap ini, peribadatan sudah bisa diikuti 50 persen total kapasitas gereja. Namun, hal itu juga harus menyesuaikan dengan status zona di wilayahnya. (jp)

  • Dipublish : 20 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami