Gol Sebelum Jeda Itu Sangat Krusial

Evan Dimas Darmono (Angger Bondan/Jawa Pos)
Evan Dimas Darmono (Angger Bondan/Jawa Pos)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Mestinya Evan Dimas Darmono yang memperdaya Virgil van Dijk itu. Mestinya Evan, setelah membuat bek Liverpool tersebut terjengkang, yang kemudian membobol gawang Adrian.

Mestinya Evan yang memberi assist Takumi Minamino yang mencetak gol kedua Red Bull Salzburg ke gawang Liverpool kemarin dini hari WIB itu. Dan, mestinya Evan yang mendapat pujian dari Jesse Marsch, pelatih klub Austria tersebut, seperti dikutip Liverpool Echo, ”Gol sebelum jeda itu sangat krusial.”

Ya, mestinya…kalau saja sistem pembinaan sepak bola di tanah air berjalan dengan becus. Sebab, Hwang Hee-chan yang mengecoh Van Dijk dalam laga Liga Champions yang berkesudahan 4-3 untuk tim tuan rumah itu adalah pemain segenerasi Evan, yang pernah menjadi saksi langsung kedahsyatan bakat arek Suroboyo tersebut enam tahun silam.

Pada malam yang diguyur hujan deras, 15 Oktober 2013 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Evan menjadi bintang kemenangan 3-2 tim nasional (timnas) U-19 Indonesia atas timnas U-19 Korea Selatan. Ketiga gol tuan rumah diborong Evan, yang sebulan sebelumnya juga mengantarkan tim yang sama menjuarai Piala AFF U-19.

Hwang yang berposisi sebagai striker menjadi bagian dari tim Korsel malam itu. Dia tak mencetak satu gol atau assist pun malam itu. Kedua gol Korsel juga hanya lahir dari bola mati.

Tapi, lihatlah enam tahun kemudian. Saat Evan hanya bisa mempersembahkan perunggu dalam SEA Games 2017, tersingkir di perempat final Asian Games 2018, dan kini menghabiskan karirnya di Liga 1 yang sarat masalah, Hwang telah melesat ke pentas dunia.

Di usia yang baru 23 tahun, setahun lebih muda daripada Evan, Hwang telah merasakan atmosfer Piala Dunia 2018. Dia bermain 23 menit saat Korsel mempermalukan sang juara bertahan Jerman 2-0 di fase grup.

Bersama kawan-kawannya dari tim yang dikalahkan oleh Evan cs enam tahun silam, Hwang juga jadi tulang punggung Korsel saat merebut emas sepak bola Asian Games 2018. Dia juga bagian penting Red Bull Salzburg yang mendominasi Bundesliga Austria beberapa tahun terakhir. Pernah pula mencicipi Bundesliga Jerman saat dipinjamkan ke SV Hamburg.

Dan, Liga Champions, ajang antarklub kelas paling wahid di dunia, kini jadi lapangan bermainnya. Pada matchday pertama melawan KRC Genk, dia terlibat dalam tiga gol. Mencetak 1 gol dan membukukan 2 assist kala Salzburg berpesta 6-2.

Dan, kemarin dini hari WIB dia mempermalukan Van Dijk, bek yang musim lalu mencatat 50 laga tanpa ada pemain yang bisa mendribel bola melewati dia. ”Saya mulai bermain sepak bola setelah Piala Dunia 2002 (saat usia enam tahun, Red),” ujar Hwang sebelum Piala Dunia 2018 kepada Football Tribe.

Di tahun yang sama, Evan kecil juga telah getol bermain sepak bola di Surabaya. Bakatnya berkembang di Mitra Surabaya, sempat pula mencicipi latihan di Akademi La Masia, Barcelona. Sebelum akhirnya memperlihatkan bakat hebatnya bersama timnas U-19.

Kiriman pesan dari Jawa Pos sampai tengah malam kemarin belum dibaca Evan yang tengah melawat bersama timnas ke Dubai, Uni Emirat Arab. Tapi, siapa pun tahu, di bawah sistem pembinaan dan kompetisi yang baik, Evan punya potensi menyamai atau bahkan melebihi Hwang. Dan, siapa pun tahu, Evan bukan bakat hebat pertama yang jadi ”korban”.

Enam tahun setelah malam membanggakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno itu, kita hanya bisa melihat Hwang tampil gemilang di Anfield seraya menggumam, ”Ah, kalau saja Evan…(jp)

  • Dipublish : 4 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami