Gubernur Anies Janji Teruskan Aspirasi, Bu Walikota Risma Malah Marah besar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA– Ada perbedaan antara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat mendatangi masa aksi yang melakukan unjuk rasa menolak Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja pada Kamis (8/10) malam.

Anies Baswedan mendatangi massa yang mulai anarkis membakar sejumlah fasilitas umum di kawasan Bundaran HI Jakarta pada malam itu. Halte TransJakarta di kawasan itu, juga hangus dibakar aksi massa.

Di depan para mahasiswa, Anies berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka ke Presiden Jokowi.

“Bahwa apa yang menjadi aspirasi tadi, kita akan sampaikan dan kita akan teruskan suara-suara ini.” Ucap Anies setelah beberapa menit mendengar keluhan Mahasiswa, Kamis (8/10) malam di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Anies memaklumi, aksi tolak Omnibus Law bukan saja terjadi di Jakarta, tetapi di sejumlah kota lainnya.

“Saya sampaikan ke semuanya bahwa kita harus menahan diri untuk terus menyampaikan aspirasi dengan tertib, dengan baik,” ucap Anies di depan massa aksi.

Pada kesempatan itu, Anies mengatakan ada sekitar 11 halte di Jakarta, rusak akibat demonstrasi itu. Dia memastikan Pihaknya akan secepatnya melakukan perbaikan hingga warga bisa beraktifitas kembali.

“Kami pemprov DKI Jakarta akan segera memastikan bahwa seluruh fasilitas umum berfungsi sesegera mungkin sehingga masyarakat di Jakarta bisa beraktivitas dengan baik, malam ini insya Allah semua sudah bersih.” Ucap Anies.

Nah, apa yang dilakukan Anies di hadapan demonstran, berbeda dengan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Seperti diketahui, aksi protes Omnibus Law juga terjadi di Kota Surabaya. Aksi di Kota Ini juga terjadi kericuhan. Massa aksi juga merusak sejumlah fasilitas umum.

Pukul 16.00 WIB, Risma menghampiri para demonstrasi yang masih memadati kawasan Gedung Negara Grahadi. Risma datang dan menghampiri peserta demonstrasi dengan marah besar.

Dalam video yang viral di sosial media, Risma terlihat masih mengenakan helm. Ia menginterogasi salah satu peserta aksi yang duduk karena kelelahan dengan luka-luka di wajahnya.

“Sampai tanganku patah, belain warga ku. Kenapa kamu hancurin,” teriak Risma kepada pendemo itu.

“Rumahmu mana di Madiun? Setengah mati aku bangun Kota ini. Kamu pikir aku enak-enakan bangun Kota ini,” tegas Risma lagi.

Emosi Risma terus meledak, setelah mengetahui sejumlah fasilitas umum seperti pagar, tanaman, CCTV bahkan tiang lampu juga tak terhindarkan menjadi sasaran amukan para demonstran.

“Tak belain warga ku, kamu rusak kayak gini. Kenapa kamu kesini. Aku tanya kenapa kamu kesini. Kenapa?,” tanya Risma lagi.

”Kita tadi di warung parkir motornya di sana terus ngopi terus ditangkap polisi. Terus didorong ke sana,” jawab demonstran itu.

Risma mengklaim, bukan warga Surabaya yang ikut demonstrasi itu. Tetapi warga dari luar Surabaya.

Risma juga bertanya alasan mereka mengikuti demonstrasi di Surabaya. Suara Risma yang terus meninggi membuat nyali mereka makin menciut.

”Saya lihat kebijakan DPR kurang tepat Bu,” jawabnya. Risma memotong mereka untuk kembali membaca draf RUU Ciker.

”Kamu baca sekarang kamu tahu apa isinya kenapa tiba-tiba ikut ke sini. Coba kamu jelasin kalau kamu benar. Isinya apa? Karena kamu sudah merusak kota ini, saya akan urus kamu. Kalau kamu benar saya mintakan bebaskan dari polisi,” sahut Risma.

Demonstran tersebut menjawab dan meminta maaf. Dia mengaku tidak melakukan pengrusakan. ”Sedikit pun nggak merusak Bu. Saya janji Bu demi Allah saya nggak merusak. Coba tanya Bu ke mereka ini duit duit kami Bu saya nggak tahu apa-apa. Saya disuruh sembunyi aja,” ujarnya.

Di Surabaya sendiri, ada sebanyak 104 para pendemo yang diamankan kepolisian terkait pengrusakan fasilitas umum. (dal/fin).

  • Dipublish : 10 Oktober 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami