Harga Ideal Mobil Listrik Rp 300 Juta

BANGGA: Jokowi mencoba mesin charger mobil listrik setelah groundbreaking pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat, kemarin. (AGUS SUPARTO/SETPRES)
BANGGA: Jokowi mencoba mesin charger mobil listrik setelah groundbreaking pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat, kemarin. (AGUS SUPARTO/SETPRES)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Pembangunan pabrik sel baterai oleh Hyundai Motor Group bersama LG Energy Solution memberikan harapan bahwa harga mobil listrik (moblis) di Indonesia bisa lebih terjangkau. Pemerintah maupun pelaku usaha otomotif sama-sama berharap harga mobil listrik di Indonesia bisa setidaknya berada di kisaran Rp 300 juta.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier mengakui bahwa harga mobil listrik saat ini masih sangat tinggi. Sebab, harga baterai yang menjadi sumber daya mobil listrik masih mahal. Baterai menyumbangkan sekitar 40 persen dari komponen harga mobil listrik. ”Untuk itu, saat ini Indonesia dalam tahap mengakselerasi pengembangan untuk membuat baterai sendiri dengan cara mendatangkan investasi baru,” ujar Taufiek kemarin (16/9).

Menurut dia, harga mobil listrik di Indonesia setidaknya harus bisa berada di level Rp 300 jutaan agar dapat diterima masyarakat. Regulasi perpajakan dan investasi produksi pun menjadi jawabannya. Dia menyebut Indonesia memiliki ketersediaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan guna menciptakan kemandirian dalam pengembangan baterai kendaraan listrik. ”Untuk memproduksi baterai kendaraan listrik, dibutuhkan bahan baku yang jumlahnya mencukupi di Indonesia, seperti nikel dan kobalt. Selain itu, industri kendaraan listrik mulai berkembang dan memiliki fondasi pasar di dalam negeri hingga potensi ekspor,” urainya.

Untuk sektor refinery bahan baku baterai kendaraan listrik, Taufiek menjelaskan bahwa Kemenperin telah menerima berbagai komitmen investasi. Di Morowali, Sulawesi Tengah, misalnya, PT QMB New Energy Minerals telah berinvestasi USD 700 juta. Selain itu, PT Halmahera Persada Lygend berkomitmen menggelontorkan Rp14,8 triliun di Halmahera, Maluku Utara.

Selanjutnya, untuk produksi baterai cell lithium ion, terdapat investasi Rp 207,5 miliar yang dikucurkan PT International Chemical Industry. Perusahaan itu akan memproduksi 25 juta baterai cell lithium ion yang setara dengan 256 mWh per tahun. ’’PT International Chemical Industry mulai masuk tahap praproduksi komersial pada akhir 2021,” imbuhnya.

Pemerintah telah membentuk tim untuk mendorong dan mengakselerasi keterlibatan industri dalam negeri agar bisa mengembangkan baterai kendaraan listrik. Tim itu terdiri atas BUMN di sektor tambang dan energi seperti Mind.id, PT Antam, PT PLN, dan PT Pertamina. ’’Mind.Id dan PT Antam akan fokus ke raw material dan refinery. PT PLN dan PT Pertamina nanti fokus pada sektor hilirnya,” tegas Taufiek.

Sementara itu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) optimistis efisiensi harga produksi mobil listrik dapat tercapai seiring dengan pembangunan pabrik sel baterai nasional. Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, pembuatan baterai merupakan momentum yang sangat baik bagi peningkatan potensi mobil listrik nasional. ”Pabrik baterai membuat beban operasional pengadaan baterai serta komponen lainnya menjadi berkurang sehingga menciptakan ruang untuk penurunan harga jual mobil listrik. Harga mobil listrik yang saat ini ada di kisaran Rp 500 juta ke atas, harapannya dapat ditekan ke angka Rp 300 jutaan,” ujarnya.

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menambahkan, selain baterai mobil listrik, komponen-komponen lain pendukung kendaraan listrik diharapkan dapat diproduksi di dalam negeri. Hal itu akan mendorong peningkatan komponen dalam negeri dan harga jual mobil listrik berbasis baterai menjadi lebih terjangkau.

Berdasar riset Gaikindo, penjualan mobil listrik berbasis baterai meningkat dari 120 unit pada 2020 menjadi 488 unit pada Januari–Juni 2021. Dari riset yang sama, ditemukan harga kendaraan listrik secara umum masih di atas Rp 450 juta per unit, sementara daya beli kendaraan masyarakat Indonesia sekitar Rp 300 juta per unit. ”Kondisi itu membatasi jangkauan masyarakat untuk membeli kendaraan listrik,” tegasnya.

Hyundai sebagai pabrikan yang menjadi pionir mobil listrik di Indonesia sangat yakin dengan efisiensi yang akan ditimbulkan produksi baterai. COO Hyundai Motor Asia-Pacific Lee Kang Hyun sebelumnya mengatakan bahwa tren harga baterai mobil listrik terus mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi berkat teknologi dan efisiensi produksi yang terus berkembang. ”Saat ini harga baterai berada pada level USD 150 per kWh. Diperkirakan, pada 2024 harganya di bawah USD 100 per kWh,” ujar Lee Kang Hyun.

Sebagai gambaran lain, dia juga membeberkan bahwa pada 2010 harga baterai EV berada pada level USD 1.000. Lima tahun kemudian, harganya sudah berada di level USD 300 per kWh. ”Karena itu, penurunan harga baterai juga akan memengaruhi harga EV secara signifikan,” tuturnya.

Terpisah, pengamat energi Komaidi Notonegoro memandang, kesiapan infrastruktur energi untuk pengembangan kendaraan listrik di Indonesia cukup mumpuni. Terlebih, ada oversupply produksi listrik dari PT PLN. ’’Infrastruktur pendukung, terutama energinya, siap. Karena PLN juga oversupply, sudah kelebihan produksi, di sistem Jawa-Bali itu ada over 60 persen dari produksi normal,’’ ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Terlebih, lanjut dia, Indonesia juga merupakan salah satu negara penghasil nikel terbesar. Bijih nikel merupakan komponen utama dalam pembuatan baterai lithium. Hal tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan atas impor dan menciptakan kemandirian dalam negeri sehingga dapat bersaing dengan bangsa lain.

Komaidi menyebut beberapa tantangan dalam pengembangan kendaraan listrik ke depan. Tantangan utama dari sisi kesiapan masyarakat untuk berpindah dari kendaraan konvensional menuju ke listrik. ’’Akan banyak penyesuaian. Harganya, kebiasaannya, mengisi dari SPBU biasa ke tempat pengecasan yang tentu waktunya tidak secepat di SPBU,’’ jelasnya.

Ke depan, produsen kendaraan listrik juga harus memikirkan baik-baik harga yang akan dipatok untuk produksinya. Sebab, karakteristik masyarakat di Indonesia masih memikirkan harga sebagai salah satu indikator utama. Berbeda dengan masyarakat Eropa yang menomorsatukan kualitas. Pemerintah, lanjut Komaidi, harus tetap membuat iklim investasi lebih kondusif. Terlebih berkaca pada pengalaman Tesla yang mundur dari Indonesia dan lebih memilih negara lain seperti India dan Jepang.

Pengembangan kendaraan listrik dan komponennya juga harus disertai insentif-insentif yang mampu menarik minat investor. ’’Kalau tidak disertai insentif fiskal maupun nonfiskal yang menarik, tentu investor akan berpikir ulang,’’ katanya.

Terpisah, Dirut PLN Zulkifli Zaiki memastikan bahwa pihaknya siap menjamin keandalan pasokan daya listrik pada perusahaan konsorsium LG dan Hyundai. PLN, lanjut dia, akan menjamin penyediaan suplai daya listrik secara berkelanjutan, aman, dan stabil sesuai timeline dan kebutuhan investasi. ’’PLN siap memenuhi kebutuhan listriknya,’’ tuturnya.

Zulkifli menyebut PLN telah menyiapkan sejumlah gardu induk. Perusahaan listrik itu pun akan membahas perjanjian kerja sama dengan kawasan industri Karawang New Industry City (KNIC) sebagai lokasi pabrik HKML Battery Indonesia. ’’PLN siap untuk memenuhi kebutuhan lain terkait kelistrikan untuk calon tenant di KNIC, seperti penyediaan green energy, layanan fasilitas ekstra, multimedia, dan kebutuhan lainnya,’’ katanya. (jpc/jm)

  • Dipublish : 17 September 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami