Harga Minyak Dunia Terus Merosot, PHK di Sektor Migas Mengintai

ILUSTRASI penambangan minyak lepas pantai. (dok. JawaPos.com)
ILUSTRASI penambangan minyak lepas pantai. (dok. JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Harga minyak mentah masih mengalami penurunan seiring dengan memburuknya wabah penyebaran virus korona Covid-19 di luar Tiongkok yang angkanya makin meningkat. Perang harga antara Saudi Arabia dan Rusia juga terus berlanjut.

Mengutip laman Reuters, perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, anjlok 7,1 persen menjadi USD 23,15 per barel pada pukul 05.13 WIB. Sedangkan, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, kehilangan 5,6 persen, atau USD 1,17, menjadi USD 20,34 per barel.

Pasar minyak mengalami gejolak ganda pada permintaan karena virus pandemi Covid-19 dan perang harga Saudi-Rusia telah membanjiri pasar dengan pasokan tambahan. Angka kematian yang disebabkan oleh virus tersebut sekitar 32 ribu orang dan membuat lebih dari 500 ribu orang sakit di seluruh dunia.

Virus itu membuat industri penerbangan di seluruh dunia berhenti beroperasi dan membuat sekitar 3 miliar orang dalam karantina untuk membatasi penyebarannya. Dengan banyaknya orang menghindari penggunaan kendaraan, analis memperkirakan permintaan bahan bakar di seluruh dunia bisa menyusut sebanyaknya 20 persen pada bulan mendatang.

Meski demikian, perang harga antara Arab Saudi dan Rusia tetap berlanjut. Perusahaan minyak Rusia memperkirakan perang.

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah yang diperdagangkan di lokasi-lokasi utama seperti Midland, Texas, diperdagangkan lebih murah beberapa dolar AS dari harga minyak berjangka AS.

Adapun produksi minyak AS saat ini sekitar 13 juta barel per hari. Inin adalah sebuah rekor, tetapi diperkirakan turun lebih dari 1,4 juta barel per hari pada akhir kuartal ketiga 2021.

Pekan terakhir ini, jumlah rig yang beroperasi menurut Baker Hughes turun hingga 40, terbesar sejak 2015, karena perusahaan dengan cepat membatasi pengeluaran. Sejumlah besar perusahaan minyak global telah mengumumkan rencana untuk mengurangi pengeluaran modal dan ratusan pekerja diberhentikan untuk mengantisipasi harga minyak jatuh melewati USD 20 per barel. (jp/jm)

  • Dipublish : 30 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami