Ibu Kota Baru Butuh Kekuatan Militer

ILUSTRASI: Desain ibu kota baru di Kalimantan. (Istimewa)
ILUSTRASI: Desain ibu kota baru di Kalimantan. (Istimewa)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Rencana pemindahan ibu kota baru di Kalimantan Timur (Kaltim), terus digulirkan. Tak hanya membahas soal infrastruktur, konsep sistem pertahanan di Ibu Kota Negara baru yang harus dipersiapkan secara matang. Karena dalam situasi perang, ibu kota akan menjadi sasaran serangan musuh.

“Dalam situasi krisis atau perang, ibu kota suatu negara akan menjadi sektor center of gravity. Karena itu pembangunan sistem pertahanan di ibu kota negara merupakan suatu hal yang mutlak bagi Indonesia,” tegas Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (6/11).

Dia menjelaskan, di bidang pertahanan yang perlu menjadi perhatian adalah pemberlakuan Air Defence Identification Zone (Adis). Selain itu, daerah terbatas dan terlarang (restricted and prohibited area) sesuai PP nomor 4 tahun 2018 tentang Pengamanan Wilayah Udara Republik Indonesia.

Menurut Hadi, dibutuhkan kekuatan militer yang mampu menghadapi segala bentuk ancaman. Tak hanya itu. Diperlukan pula pembangunan sistem pertahanan penangkal serangan rudal, pesawat udara musuh, roket, infiltran sabotase siber, ancaman chemical biology dan radioaktif nuklir. “Serta memiliki jalur pendekatan dalam mobilisasi kekuatan militer. Baik aspek darat laut udara sebagai persiapan rencana kontijensi dan rute evakuasi VVIP,” jelasnya.

Dalam rangka relokasi personil TNI ke Ibu Kota Negara baru, maka konsep penempatan satuan-satuan TNI dan pangkalan militer berada di Penajam Paser Utara. Penempatan tersebut, lanjutnya, bersama Istana Kepresidenan, gedung MPR, DPR, DPD RI, gedung kementerian/lembaga negara dan gedung kedutaan negara sahabat.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengaku punya impian ibu kota RI harus menjadi yang terbaik di dunia. Menurutnya, ibu kota negara baru merupakan hadiah Indonesia untuk dunia. “Mimpi memang harus tinggi. Misalnya Dubai the happiest city on the earth. Nah, ibu kota negara baru nanti harus the best on earth, the cleanest city, the most innovative city dan the most-the most lainnya,” terang di Jakarta, Rabu (6/11).

Kepala negara menyatakan pindah ibu kota tidak sekadar memindahkan bangunan. Namun juga sistem hingga pola pikir masyarakat. “Kita memang harus menginstall sistem baru di kota ini. Ini yang kita harapkan,” imbuhnya.

Jokowi juga meminta masukan mengenai rancangan ibu kota yang baru. Dia membayangkan ada berbagai klaster di ibu kota baru nanti. “Saya bayangkan, di sana nanti ada cluster pemerintahan. Ada klaster teknologi dan inovasi seperti Sillicon valley. Ada klaster pendidikan, universitas terbaik juga ada di sana, cluster layanan kesehatan, dan cluster wisata,” ucapnya.

(rh/fin)

  • Dipublish : 7 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami