ICU Kritis dan Dokter Spesialis Kian Menipis, Jakarta Darurat Covid-19

Ilustrasi penanganan pasien Covid-19 (Chis/JawaPos.com)
Ilustrasi penanganan pasien Covid-19 (Chis/JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Dokter sudah kelelahan menghadapi pandemi Covid-19. Khusus di Jakarta, selama beberapa hari terakhir angka kasus melonjak di atas seribu kasus. Meski banyak pasien tanpa gejala, tetapi banyak juga pasien kondisi sedang dan berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Kondisi ini membebani ruang perawatan khususnya ruang isolasi dan ICU. Para dokter yang berguguran untuk menangani pasien, membuat SDM kesehatan makin menipis.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Hasbullah Thabrany mengatakan situasi ini bisa terjadi karena memang selama ini kasus bertanbah banyak. Semakin banyak kasus, artinya para pasien Covid-19 bisa menularkan ke orang banyak lainnya.

“Yang terbaik kesadaran masyarakat. Jangan egois. Banyak yang nggak paham kalau mereka terkena penyakit ini mereka tak bisa tertangani karena keterbatasan sumber daya manusianya,” tukasnya kepada JawaPos.com, Rabu (2/9).

Hasbullah mendorong tenaga medis di RS harus bisa memilah mana yang bisa diisolasi di rumah atau di RS dalam kondisi darurat. Kasus ringan jangan membebani para dokter spesialis.

“Pasien yang ringan bisa ditangani dokter umum. Dokter spesialis terbatas. Mereka perlu istirahat. Jangan karena pekerjaan menumpuk begitu banyak. Mereka lupa disiplin diri, lemah dan menjadi korban,” katanya.

Bicara soal dokter spesialis, kata dia, Indonesia kekurangan dokter spesialis paru. Jumlahnya sangat sedikit. “Kita nggak bisa produksi dokter spesialis dalam 1-2 bulan. Butuh jangka panjang. Pendidikan spesialis bisa diberdayakan itupun masih kurang. Kita nggak bisa gunakan mesin layani pasien. Alat-alat bisa kita impor, obat bisa kita datangkan, kalau SDM? Semua tenaga dunia juga sibuk hadapi pandemi,” katanya.

Dengan kondisi seperti ini, Hasbullah menyebut DKI Jakarta sudah darurat. Sebab ruang ICU sudah terisi 77 persen. “(77 persen) Itu sudah kritis. DKI sudah darurat. Betul-betul harus melakukan kampanye massal besar-besaran. Jaga jarak. Kalau perlu harus mulai jam malam. Depok dan Bogor sudah mulai,” tegasnya.

“Ini lebih parah dari awal-awalnya saat PSBB dijaga. Sekarang sudah 1.000 kasus per 10 juta penduduk berarti sudah ada kasus 100 per sejuta penduduk,” jelasnya.

Dia mendorong solusi tercepat harus dipikirkan Pemprov DKI Jakarta. Yakni dengan menyulap berbagai ruang karantina khusus seperti apartemen kosong dan hotel untuk lokasi karantina pasien Covid-19.

“Banyak apartemen kosong. Hotel juga banyak yang tak optimal okupansinya. Segera kontrak oleh Pemda. Harus siap-siap membuka cadangan lokasi karantina,” tegasnya. (jp)

  • Dipublish : 3 September 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami