ICW Usulkan Tim Independen, Anggota Komisi III DPR: Tak Perlu Tim Independen Kasus Novel

Penyidik KPK Novel Baswedan. (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Penyidik KPK Novel Baswedan. (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) mengusulkan agar Presiden Joko Widodo membentuk tim independen dalam mengungkap kasus Novel Baswedan. Tim bertujuan untuk menghindari terjadinya konflik kepentinga.

Namun, usul tersebut dinilai anggota Komisi III DPR Nasir Djamil belum diperlukan. Malah menurutnya, polisi harus didorong agar mengedepankan profesionalisme untuk meraih kepercayaan publik.

“Tim independen tidak dibutuhkan dan buang-buang waktu saja serta kontraproduktif dengan keinginan kita agar kasus ini cepat disidangkan,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/12).

Menurutnya, saat ini Polri dihadapkan dengan pilihan berat karena pelaku penyiraman air keras kepada Novel adalah polisi aktif. Membela korps atau menegakkan kebenaran.

“Saya mendengar sendiri bahwa Kapolri ingin menegakkan kebenaran meskipun terhadap anggota polisi sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, selama ini juga dalam menegakkan disiplin organisasi, banyak anggota Polri yang mengalami sanksi, baik administrasi berupa pemecatan tanpa hormat maupun pidana.

Dia mencontohkan, dalam kasus mantan Ketua KPK Antasari Azhar, ada perwira menengah polisi yang terlibat dan diproses secara hukum dan divonis bersalah serta dihukum penjara dan dicopot dari keanggotaan Polri.

“Saya mengajak masyarakat untuk memberikan kepercayaan dan mendorong institusi Polri agar dalam mengembangkan kasus Novel tetap transparan dan bertanggung jawab,” katanya.

Nasir mengatakan kalau bukan Polri yang dipercaya, lembaga mana yang diharapkan untuk menyelesaikan kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mengatakan demikian. Jokowi meminta masyarakat memberikan waktu dan kesempatan kepada Polri untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Dan dia juga meminta jangan terus membuat kegaduhan.

“Semua mengawasi, dari dulu tam-tim-tam-tim. Tim pencari fakta, apapun yang paling penting dikawal semua,” ujarnya.

“Semua, bareng-bareng mengawal agar peristiwa tidak terulang lagi. Yang paling penting itu. Jangan, sebelum ketemu ribut, setelah ketemu ribut,” lanjutnya.

Jokowi juga mengapresiasi kerja Polri atas penangkapan dua penyerang Novel. Dia meminta tak ada yang berspekulasi negatif atas kasus ini.

“Ini kan peristiwa sudah dua tahun, dan sekarang pelaku sudah tertangkap. Kita sangat hargai dan apresiasi apa yang dikerjakan Polri. Perlu diingat pula jangan sampai ada spekulasi-spekulasi yang negatif. Ini kan baru pada proses awal penyidikan dari ketemunya tersangka itu,” kata Jokowi.

Sementara Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono mengatakan pihaknya akan terus menggali motif kasus tersebut. Selain itu, penyidik juga akan mendalami rangkaian kronologi kejadian dari versi tersangka, RM dan RB.

“Kita ingin menggali seperti apa sih tersangka, keterangannya mulai dari selain identitas itu ‘kan secara umum ya, kemudian ada kita tanyakan kronologinya seperti apa,” tuturnya.

Argo menambahkan, hingga saat ini kedua tersangka, RM dan RB masih menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan masih terus berlanjut.

“Kan sampai sekarang juga belum semuanya kita tanyakan ya, belum selesai. Hari ini sedang mau diperiksa tambahan di Bareskrim ya di situ,” tuturnya.

(fin/jm)

  • Dipublish : 31 Desember 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami