IDI Sebut Dokter yang Meninggal Kebanyakan Tak Bertugas di RS Rujukan

Ilustrasi: Tim dokter saat merawat pasien Covid-19. IDI memberikan keterangan terkait dokter yang meninggal di tengah penanganan wabah Covid-19 (AFP)
Ilustrasi: Tim dokter saat merawat pasien Covid-19. IDI memberikan keterangan terkait dokter yang meninggal di tengah penanganan wabah Covid-19 (AFP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA, – Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih mengungkapkan banyak dokter yang terpapar virus Korona dan meninggal merupakan yang tak bertugas di rumah sakit rujukan pemerintah untuk penanganan pasien Covid-19. Daeng mengatakan, dokter yang tertular Covid-19 itu kebanyakan yang bekerja di rumah sakit bukan rujukan dan menerima pasien yang ternyata suspect Covid-19. Termasuk dokter yang membuka praktik pribadi dan menerima pasien dengan gejala virus Korona.

“Dokter terpapar itu kebanyakan dokter yang tidak secara khusus bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19. Tapi bekerja di rumah sakit lain atau praktik pribadi,” ujar Daeng dalam diskusi secara virtual di Jakarta, Sabtu (18/4).

Daeng berujar, saat dokter tersebut bekerja atau praktik secara pribadi, mereka tertular oleh masyarakat yang sudah positif terkena virus Korona. Itu saat masyarakat mendatangi praktik pribadi dokter atau rumah sakit yang bukan rujukan.

“Dia tertular pasiennya. Jadi ini banyak sekali orang tanpa gejala yang sudah terinfeksi dan yang besangkutan tidak tahu terinfeksi dan si dokter pun tidak mengetahui serta kewaspadaanya kurang,” ungkapnya.

Bahkan, kebanyakan dokter-dokter yang meninggal dunia tersebut disebabkan karena si dokter tidak mengetahui pesien tersebut ternyata tertular Covid-19.

Oleh sebab itu IDI meminta kepada semua dokter yang membuka praktik sendiri untuk berhati-hati. Termasuk juga membatasi kegiatan praktiknya. Seperti tetap berpraktik tapi tanpa adanya tatap muka dengan si pasien.

“Sudah meminta ke semua dokter membatasi praktiknya. Kalau bisa praktik tatap muka tidak dilakukan kecuali pada kasus emergency,” tuturnya.

“Kalau dia terpaksa melakukan praktik tatap muka. Maka semua pasien yang dihadapi, Covid-19 atau bukan, kita minta memakai APD sesuai dengan petunjuk pencegahan penularan Covid-19‎,” pungkas Daeng. (jp)

  • Dipublish : 18 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami