Imbas Corona Jumlah Pengangguran Bertambah

Petugas PMI Kota Tangerang melakukan penyemprotan Disinfektan di aera kampus Budi Luhur, Jakarta, (17/3). Penyemprotan cairan disinfektan tersebut dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus COVID-19 atau virus Corona. FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Petugas PMI Kota Tangerang melakukan penyemprotan Disinfektan di aera kampus Budi Luhur, Jakarta, (17/3). Penyemprotan cairan disinfektan tersebut dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus COVID-19 atau virus Corona. FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JAKARTA – Virus corona atau Covid-19 telah meluluhlantakkan perekonomian global. Termasuk ekonomi nasional mengalami pelemahan. Dikhawatirkan jika pandemi corona ini terus berkepanjangan juga berimbas jumlah pengguran akan bertambah.

Menurut ekonom sekaligus Ketua Asosasi Kader Sosio-Ekonomi Strategi (AKSES) Suroto apabila wabah penyakit ini tak tertangani dengan baik bakal menjadi masalah sosial, yakni jumlah pengguran akan bertambah.

Dalam situasi seperti ini, kata dia, orang menjadi takut tertular. Masyarakat akan mengurangi aktivitas dan bahkan mengunci diri. Alhasil, aktivitas ekonomi menjadi berkurang atau bahkan stuck dan aktivitas tertier atau tidak penting ditiadakan.

Sehingga, lanjut Suroto, secara ekonomi akan mudah sekali menyerang kelompok rentan. Yang dimaksud kelompok rentan itu seperti penganggur terbuka, sektor usaha mikro, pekerja informal/ outsourching, dan buruh tani.

“Mereka menjadi rentan karena selama ini usahanya juga bersifat subsisten atau cukup hanya untuk bertahan hidup dengan penghasilan hari ini habis untuk hari ini juga. Tidak memiliki tabungan atau harta benda yang berarti untuk digadaikan atau yang lainnya,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (22/3).

Kelompok rentan, Suroto menjelaskan yang tidak memiliki uang yang cukup untuk dibelanjakan, tidak memiliki persediaan makanan yang cukup dan tidak memiliki perlindungan sosial maupun kesehatan yang memadai.

”Jadi Keselamatan mereka tidak hanya menjadi paling mudah terancam wabah penyakit, tapi juga terancam hidupnya karena kesulitan mencari sumber pendapatan,” papar dia.

Dia menyebutkan, di Indonesia kelompok rentan ini dominan. Adapun pengangguran terbuka sebanyak 5 persen atau 6,8 juta orang dari 136 juta angkatan kerja. Usaha mikro sebanyak 99,2 persen atau 63 juta jumlah pelaku usaha. Pekerja informal jumlahnya adalah sebanyak 74 juta orang atau 71 persen dari jumlah tenaga kerja kita. Buruh tani jumlahnya adalah 74 persen dari jumlah petani kita sebanyak 35 juta orang.

“Sementara yang kita tahu bahwa kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan dan dapat mengancam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan untuk menuju kondisi chaos sudah mendapatkan bahan bakarnya yang terbaik,” tutur dia.

Dikatakan dia, berdasarkan laporan lembaga riset bereputasi internasional Credit Suisse (2019), 82 persen dari 173 juta orang dewasa Indonesia hanya memiliki kekayaan di bawah 10 ribu Dolar Amerika Serikat (AS). Jauh diatas rata-rata dunia yang hanya 58 persen.

Sementara itu, hanya 1,1 persen dari orang dewasa yang memiliki kekayaan di atas 100 ribu Dolar AS. Jauh sekali di atas rata-rata dunia yang angkanya hingga 10,6 persen.

Dengan kondisi ini, menurutnya, terjadi ketimpangan kekayaan atau Rasio Gini Kekayaan Indonesia menjadi sangat tinggi sekali, yaitu 0,83. Diperjelas dalam laporan Suisse tersebut, hanya 1 persen kuasai 45 persen kekayaan Indonesia.

Berdasarkan data World Bank (2020), kata dia, 115 juta rakyat Indonesia dalam kondisi rentan miskin. Di mana jika ekonomi tergoncang sedikit saja, separuh masyarakat Indonesia akan langsung terjun bebas menjadi miskin. “Kasus corona ini dan juga gejala krisis konjungtur yang sudah dapat kita rasakan di awal tahun telah menyambut,” ucap dia.

Sebagai solusinya, kata dia, ada empat yang perlu dilakukan pemerintah dalam mitigasi virus corona yang telah menjadi pandemi global ini.

Pertama, perlu kebijakan alokasi fiskal yang langsung menyasar pada kelompok rentan. Seperti mengalokasikan pendanaan langsung untuk pencegahan meluasnya wabah dan alokasi bantuan langsung bagi mereka yang menganggur baik dari pengangguran terbuka dan mereka yang kehilangan pekerjaan dan usahanya karena dampak wabah minimal untuk bertahan hidup selama tiga sampai empat bulan.

Kedua, mengembangkan diskresi pajak lebih tinggi bagi seluruh kegiatan bisnis skala menengah dan besar dan pajak kekayaan orang dengan kepemilikkan aset di atas 1,5 miliar secara khusus untuk menanggulangi dampak ekonomi langsung dan dialokasikan langsung ke kelompok rentan.

Ketiga, mengajak seluruh bisnis yang masih wajib operasi seperti produsen bahan makanan dan jalur distibusinya untuk merekrut tenaga kerja temporer kelompok rentan tanpa syarat.

“Terakhir, membangun protokol khusus penanganan dampak ekonomi wabah dan memastikan kebijakan kelembagaan-kelembagaan pemerintah yang fokus di bidang sosial ekonomi tepat pada sasaranya,” ujar dia.

Dalam menanggulangi penyebaran virus corona, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah mengeluarkan paket stimulus jilid I dan II. Dan, selanjutnya akan menerbitkan stimulus jild III pada sektor kesehatan yang akan menyasar pada social safety net alias jaring pengaman sosial dan jaminan sosial.

Pada stimulus jilid pertama, pemerintah memberikan insentif diskon tiket pesawat bagi wisatawan mancanegara dan domestik. Tujuannya, untuk merangsang kembali minat wisata dari kedua jenis turis. Namun belakangan, insentif bagi turis luar negeri diundur karena Indonesia menutup akses penerbangan dari dan menuju beberapa negara yang merupakan epicentrum virus corona.

Sementara pada jilid kedua, pemerintah menebar insentif gratis pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, 22, dan 25 kepada pekerja industri manufaktur dan perusahaan. Tujuannya, untuk menumbuhkan daya beli masyarakat di tengah tekanan pandemi virus corona. “Untuk stimulus yang ketiga ini masih mengikuti, fokus yang pertama kesehatan,” kata Sri Mulyani.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2019 sebesar 5,28 persen atau mencapai 7,05 juta orang. Angka pengangguran tersebut naik secara jumlah dibandingkan Agustus 2018 sebesar 7 juta orang atau turun secara persentase sebesar 5,34 persen.

“Tingkat pengangguran terbuka tercatat turun (secara presentase) dari 5,34 persen pada Agustus 2018 menjadi 5,28 persen pada Agustus 2019, Tingkat pengangguran tertinggi masih berasal dari lulusan SMK, tetapi trennya mulai menurun,” kata Kepala BPS Suhariyanto.

BPS merinci, tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2019 untuk lulusan SMK mencapai 10,42 persen, turun dibandingkan Agustus 2018 sebesar 11,24 persen. Disusul oleh lulusan SMA sebesar 7,92 persen yang turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar sebesar 7,95 persen. Lalu lulusan diploma dan universitas masing-masing sebesar 5,99 persen dan 5,67 persen, turun dibanding periode yang sama tahun lalu 5,89 persen dan 6,02 persen.

Jumlah tenaga kerja pada sejumlah sektor juga mengalami penurunan, terutama pada sektor pertanian yang turun 1,12 juta atau 1,46 persen. Selain itu, menurut dia, terdapat penurunan tenaga kerja pada sektor jasa keuangan dan pertambangan, tetapi jumlahnya tak terlalu signifikan. (din/fin)

  • Dipublish : 23 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami