Imbas Covid-19, Ekonomi RI Menukik di Posisi 2,97 Persen

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pandemi virus corona atau Covid-19 yang berkepanjangan telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I/2020 hanya tumbuh 2,97 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekonomi kuartal IV/2019 di level 4,97 persen.

Namun Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato berpandangan, angka 2,97 persen masih cukup baik di tengah wabah corona dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya.

“Seperti prediksi yang disampaikan oleh IMF, ada tiga negara yakni Indonesia, Cina, dan India yang pertumbuhannya positif. Jadi ini terlihat bahwa dengan penurunan di kuartal pertama ini senada dengan apa yang terjadi di 213 negara di global dan kita masih dalam posisi positif,” ujarnya dalam konferensi daring, kemarin (5/5).

Lebih jauh mantan Menteri Perindustrian itu mengatakan, bahwa angka pertumbuhan ekonomi demikian sudah diprediksi pemerintah sebelumnya karena akibat adanya wabah corona.

“Pada kuartal kedua ini pemerintah menerapkan PSBB sebagai upaya untuk memotong penyebaran dari virus corona. Nah, dari pemotongan ini dari segi kesehatan siklus yang terjadi tidak terjadi akselerasi bahkan beberapa perkiraan mengatakan bahwa di bulan Mei akan ada flattening off. Untuk pemerintah tengah mempersiapkan strategi untuk kelaur dari pandemi Covid-19,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal berpandangan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2020 yang tercatat rendah, maka tahun ini ekonomi nasional akan mengalami kontraksi di kisaran -2 persen hingga 2 persen. “Saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini -2 persen sampai 2 persen. Ya, kemungkinan tahun ini lebih mengarah ke kontraksi,” ujarnya.

Bahkan, ia memproyeksikan perekonomian Indonesia pada kuartal II/2020 melambat lebih dalam lagi yakni di kisaran -7,5 persen hingga -1.9 persen. Dengan demikian, menyarankan pemerintah harus fokus menanggulangi wabah corona sehingga pemulihan ekonomi semakin cepat.

Di sisi lain, menurut dia, pemerintah harus memperbanyak stimulus ekonomi agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan juga membantu pelaku usaha dapat bertahan hidup selama pandemi ini.

Senada, Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan, rendahnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2020 merupakan sebagai bukti bhwa ekonomi Indonesia sangat buruk. Pertumbuhan 2,97 persen ini meleset dari prediksi pemerintah yakni di atas 4,5 persen, dan Bank Indonesia (BI) 4,7 persen. “Kita memang masuk ke dalam skenario terburuk. Ya, asumsi pemerintah meleset jah dari kuartal pertama,” katanya.

Artinya, kata dia, rendahnya pertumbuhan ekonomi menunjukkan secara umum sejumlah sektor-sektor terdampak wabah corona. “Penurunan pertumbuhan ekonomi karena telah memukul sektor-sektor, dan apalagi katakanlah awal Maret itu larangan bepergian dan sebagainya di DKI Jakarta ternyata berpengaruh secara nasional, nah itu yang dampaknya kita rasakan di triwulan I-2020,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2020 tersebut merupakan pertumbuhan yang terendah sejak kuartal 1/2001. “Pertumbuhan ekonomi 2,97 persen ini jauh dari perkiraan, tapi tidak bisa dibandingkan karena situasi sekarang berbeda,” katanya.(din/fin)

  • Dipublish : 6 Mei 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami