Indikasi Demo Rusuh di Berbagai Daerah Ada Kaitannya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Aksi unjukrasa di berbagai daerah pada Selasa-Rabu (24-25 September 2019) bahkan hingga Kamis, berakhir rusuh. Polisi menduga kerusuhan tersebut saling terkait dan ditunggani kelompok tertentu.

Aksi mahasiswa berujung rusuh selain di Jakarta juga terjadi di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Dari peristiwa tersebut polisi terpaksa mengamankan orang-orang yang dianggap sebagai provokator. Diduga mereka berasal dari kelompok-kelompok seperti anarcho-syndicalism.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan di Jawa Timur, polisi mengamankan 4 provokator dan tindakan vandalisme. Kemudian, di Jawa Barat diamankan 35 orang yang dari hasil pemeriksaan terbukti ada 4 orang melakukan tindak kejahatan dan sudah ditetapkan tersangka, sisanya dipulangkan.

“Dari tersangka ini diduga kita menemukan jejak kelompok Anarcho syndicalism bermain dalam rangka memprovokasi bertindak anarkis. Keempatnya, yakni MD, RR, HJ dan BF diketahui positif juga gunakan narkoba, mereka diduga melakukan perusakan dsn kekerasan ke aparat,” kata Dedi di ruang kerjanya, Kamis (26/9).

“Sampai saat ini, keempat tersangka masih terus didalami petugas Polda Jabar. Untuk korban, dari data yang diterima dari massa ada 4 orang dan sebanyak 12 orang dari pihak aparat. Untuk materil sampai saat ini masih di data,” sambung Dedi.

Berikutnya, di wilayah Polda Sulawesi Selatan. Dedi menyebut, dalam aksi unjuk rasa di daerah ini polisi mengamankan 207 pendemo dan langsung ditindak lanjuti guna menjalani pemeriksaan di Polda Sulsel dan Polres Makasar.

“Ya, dari hasil pemeriksaan petugas dua orang ditetapkan tersangka berinisial MK dan AM. Mereka terbukti melakukan provokasi ke mahasiswa untuk bertindak anarkis, dan petugas kami berhasil juga menyita barang bukti satu buah pelontar dan enam buah anak panah dari keduanya,” ujarnya.

Untuk korban, Polda Sulsel mendata ada 44 orang massa dan tiga anggota dibawa ke rumah sakit. “Soal kerugian materil saat ini masih didata juga,” ucapnya.

Selanjutnya, di Sumatera Utara (Sumut) hasil dari penegakan hukum, anggota mengamankan 56 orang. Dimana dari jumlah itu, ada 40 orang kasusnya ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan, 15 dipulangkan.

“Dari semuanya itu ada satu yang menonjol, karena ternyata tersangka ini merupakan DPO terduga teroris jaringan JAD Sumut. Tersangka ini berinisial RSL, dari tangannya kita sita barang bukti saat geledah rumahnya ada beberapa busur, senjata angin dan panah,” ungkap Dedi.

Dedi menyebut, tersangka yang tergabung dalam kelompok JAD memiliki rekam jejak panjang, bersama rekan-rekannya yang sudah lebih dulu ditangkap berinisial RA, A dan JA pada 9 juni 2019. Bahkan, diakui Dedi, yang bersangkutan sudah pernah berangkat ke Suriah sebanyak 2 kali.

“Tersangka ini juga pernah diketahui untuk memprovokasi massa aksi GNKR pada Pilpres 2019 lalu, di depan kantor DPRD. Hingga kini, dia masih diperiksa intensif oleh petugas. Terkait jumlah korban di Sumut, ada 7 orang diduga perusuh dan 3 anggota polri, selain itu ada 9 kendaraan yang rusak, termasuk fasilitas publik juga,” terangnya.

Terakhir aksi unjuk rasa di ibukota yang berlangsung didepan gedung DPR RI, dan sampai hari ini juga masih ada. Terkait kasus kerusuhan ini, diakui Dedi, pihaknya menyerahkan penanganannya ke Polda Metro Jaya.

“Nanti disampaikan Kabid humas, tapi intinya kemarin itu ada 94 orang yang diamankan, Selasa (24/9) lalu itu, ada 49 diantaranya sampai kini masih didalami dan situ juga termasuk ada 12 orang anak-anak. Nanti kita serahkan prosez hukumnya ke Polda gimana,” imbuhnya.

Dedi menambahkan, pihaknya meyakini dari semua unjuk rasa yang berakhir anarkis di berbagai wilayah ini ada kelompok yang bermain didalamnya. Dan kelompok itu tak lain anarcho-syndicalism. Dan mereka memiliki simbol.

“Kita perlu sampaikan unjuk rasa yang terjadi di beberapa wilayah ini memang ditumpangi oleh perusuh yang sengaja memprovokasi mahasiswa, dan masyarakat melakukan tindakan anarkis. Kita masih dalami terus siapa master mind dari kerusuhan ini,” tegasnya.

Selain itu, Dedi memastikan, semua tersangka yang diamankan akan dikoneksikan dari beberapa Polda, untuk mengetahui keterkaitannya. Sebab demo yang seharusnya damai pada ujungnya rusuh.

“Yang jelas polri dalam melakukan pengamanan selalu mengedepankan pendekatan dialogis, namun apabila menjelma rusuh maka tindakan tegas dilakukan agar demo tidak meluas. Demo anarkis merugikan semua pihak. Kecuali pihak yg memang bermain,” pungkasnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menyampaikan, 94 orang mahasiswa yang diamankan dalam aksi unjuk rasa, pada Selasa (24/9) lalu, sebanyak 56 orang telah diserahkam ke pihak kampusnya masing-masing, sedangkan 49 lainnya masih didalami.

“Ya siang ini, saya di dampingi Dosen dari Universitas Buana Perjuangan dan Unsika Karawang menyampaikan, bahwa 56 dari yang kita amankan merupakan adik-adik mahasiswa Universitas itu. Dan setelah dilakukan pembinaan, dan pemeriksaan mereka semua kita serahkan ke pihak kampus masing-masing untuk dilakukan pembinaan lebih lanjut,” kata Argo di Polda Metro Jaya.

“Harapan kami, setelah diberi pembinaan beberapa hari disini, adik-adik mahasiswa ini dapat melanjutkan kuliah dan belajar. Tentunya, dengan harapan nanti semua bisa baik dan berguna bagi bangsa negara,” sambung Argo.

Argo menegaskan, dari 56 mahasiswa yang diserahkan pihaknya ini seluruhnya telah menjalankan proses pemeriksaan, dan memang tidak terbukti mwlakukan pelanggaran tindak pidana apapun. Tapi sebaliknya, ada 49 lainnya yang hingga kini masih didalami dan dikembangkan lebih lanjut.

“Sudah diperiksa semua, dan tak terbukti melakukan tindak pidana. Dan sekali lagi kami harap dari pembinaan yang diberikan disini, mereka semua bisa lebih baik, serta berguna buat bangsa ini kedepannya,” tandas Argo.

(Mhf/gw/fin)

 

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 27 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami