Indonesia Akan Evakuasi 243 WNI dari Wuhan, Asrama Haji dan Wisma Atlet Jadi Lokasi Karantina

KAMI BAIK-BAIK SAJA: Beberapa mahasiswa Indonesia setelah berbelanja di sekitar area kampus Hubei Polytechnic University, Provinsi Hubei, Tiongkok, Kamis (29/1). (WENDY FOR RADAR TARAKAN)
KAMI BAIK-BAIK SAJA: Beberapa mahasiswa Indonesia setelah berbelanja di sekitar area kampus Hubei Polytechnic University, Provinsi Hubei, Tiongkok, Kamis (29/1). (WENDY FOR RADAR TARAKAN)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Tiongkok, segera dilakukan. Rencananya, besok (1/2) pesawat carter melakukan misi penjemputan. Setidaknya ada 243 WNI di kota yang saat ini diisolasi karena mewabahnya virus korona tersebut.

Presiden Joko Widodo menegaskan, sejak awal pemerintah memiliki opsi untuk memulangkan para WNI tersebut.

Hanya, memang ada prosedur yang harus dilalui untuk bisa mengevakuasi mereka. Langkah-langkah evakuasi secara detail dibahas menjelang sore di kantor Kementerian Sekretariat Negara kemarin (30/1).

”Masuknya nanti (ke Wuhan) seperti apa. Kemudian setelah dibawa ke sini apakah ada karantina dalam jumlah banyak itu di mana,’’ ujarnya setelah membuka rakornas Kemenristek di Puspiptek Serpong kemarin.

Menurut presiden, proses evakuasi tidak bisa dianggap enteng dan asal dilakukan. ”Harus disiapkan betul karena ini menyangkut, sekali lagi, virus,’’ tegasnya.

Jokowi mengakui, ada pelibatan TNI dalam proses evakuasi. Yang paling siap saat ini, kata dia, memang TNI dari divisi kesehatan. ’’Dan, mereka (TNI) menyatakan sudah siap,’’ tutur dia.

Dengan kata lain, pemerintah tinggal memutuskan langkah selanjutnya sembari melihat perkembangan di Wuhan. Sebab, bagaimanapun kawasan tersebut merupakan teritori negara lain. Ada aturan yang harus diikuti Indonesia meski untuk mengevakuasi warganya sendiri.

Menlu Retno Marsudi setelah rapat di Kemensesneg enggan berbicara mengenai keputusan dalam rapat lintas kementerian itu. Dia berdalih harus melapor kepada presiden terlebih dahulu.

”Bapak Presiden sudah memerintahkan agar evakuasi WNI di Provinsi Hubei dilakukan segera,’’ kata Retno setelah bersama sejumlah menteri menemui presiden di Lanud Halim Perdanakusuma.

Misi evakuasi akan menggunakan pesawat sipil Lion Air jenis Airbus 330 dengan pertimbangan efisiensi waktu dan kecepatan. Cukup satu pesawat sudah bisa melakukan direct flight dan sekali angkut. Sepuluh personel TNI akan dilibatkan untuk pengamanan.

Menurut sumber Jawa Pos, WNI dijemput pada 1 Februari dan dijadwalkan tiba di tanah air esok harinya (2/2). ”Ada dua skenario landing di Bandara Halim Perdanakusuma atau Bandara Kertajati dengan tempat penampungan atau karantina di Asrama Haji Kertajati atau Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta,” tuturnya. Jika ada yang bergejala seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan, penderita itu diisolasi.

Sumber tersebut menyebutkan, ada tiga rumah sakit yang disiapkan. Yakni, Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, RSPAD Gatot Soebroto, serta RS Persahabatan. ”Diskenariokan kedatangan Minggu, 2 Februari, dengan JT A330. Ada medical team onboard dari unsur kesehatan TNI,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan paparan Direktur Keamanan Penerbangan Kemenhub Muhammad Alwi di Forum Merdeka Barat (FMB) 9 kemarin. Dia menyatakan bahwa berdasar rapat di Kementerian Luar Negeri belum lama ini, Ditjen Perhubungan Udara telah menyiapkan dua opsi untuk evakuasi. Pertama, menggunakan Lion Air B737-900 ER sebanyak tiga unit. Kedua, menggunakan Batik Air A330-300 sebanyak satu unit.

”Pesawat yang membawa penumpang yang bergejala akan melapor ke ATC, lalu akan diarahkan ke parking stand sendiri. Sehingga petugas kantor kesehatan pelabuhan (KKP) akan masuk untuk memastikan terjangkit atau tidak,” jelas dia.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan, ketika evakuasi dilakukan saat masih lockdown, pemerintah akan mengirimkan dokter untuk mendampingi selama penerbangan. Namun, dokter Indonesia hanya berwenang saat penerbangan menuju Indonesia. Saat para WNI masih di Hubei, wewenang ada di pemerintah setempat. ”Kalau pulangnya masih dalam karantina, kita akan berlakukan karantina,” ucapnya.

Menurut dia, karantina berbeda dengan isolasi. Karantina bertujuan mengamati apakah mereka yang dipulangkan dalam kondisi sehat atau tidak dalam kurun waktu tertentu. Anung menjelaskan, jika nanti ada yang mengalami gagal napas, diperlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit yang memiliki alat bantu napas yang mumpuni.

Sementara itu, Dirjen Asia-Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Desra Percaya mengatakan, Dubes RI di Beijing Djauhari Oratmangun terus diminta untuk segera memastikan segala persiapan dengan otoritas Beijing dan Provinsi Hubei. Diakui, ada kendala teknis dalam pemulangan tersebut. Salah satunya soal pergerakan dari Wuhan ke exit city.

Mantan juru bicara Kemenlu itu menjelaskan, pergerakan dari exit city memerlukan perjalanan darat hingga enam jam. ”Kita hitung bagaimana kita bisa menjangkau, siapa yang jadi sopir, siapa yang mau ke sana. Karena kalau lockdown kan tidak ada yang bisa masuk,” katanya.

Dalam opsi saat ini, Kemenlu akan bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok. Mereka sedang mematangkan proses eksekusinya. ”Misalnya, apakah mereka sewa mobil disopiri, kemudian ditentukan bertemu di Wuhan.”

Selain itu, kesiapan di dalam negeri menjadi fokus pemerintah. Jika sudah masuk ke Indonesia, para WNI tersebut tidak bisa langsung berbaur. Mereka harus dikarantina. Australia, kata dia, bahkan menyiapkan pulau khusus untuk karantina warganya yang kembali dari Wuhan. Mereka ditempatkan di Christmas Island untuk diisolasi selama 2 x 14 hari. ”Ini kan tidak semata-mata membawa warga pulang, membaur. Tapi, juga ada proses karantina,” tutur Desra.

Desra meluruskan beberapa hal soal anggapan bahwa pemerintah tidak serius dalam memulangkan WNI yang saat ini terisolasi di Wuhan. Dia menegaskan, sejak terjadi outbreak, Kemenlu sudah memiliki opsi evakuasi. ”Evakuasi sudah diperhitungkan. Kami sudah buat contingency plan,” jelasnya.

MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA: Para mahasiswa Indonesia di asrama Central China Normal University, Wuhan, Tiongkok, Selasa (28/1). (BRANDY JUAN FOR JAWA POS)

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto membenarkan soal opsi penggunaan pesawat sipil untuk proses evakuasi WNI dari Wuhan. Hal itu sepenuhnya menjadi pertimbangan pihak Kemenlu. ”Tapi, TNI juga diminta untuk menyiagakan pesawat dan medis,” ujarnya.

Ada dua pesawat jenis Boeing dan satu pesawat Hercules yang telah stand by. ”Tinggal menunggu komando kapan berangkat. Kapan Ibu Menlu butuh bantuan, kami siap,” sambungnya.

Dari sisi medis, pihaknya telah menyiapkan tenaga dan sejumlah peralatan sejak lima hari lalu. Mulai baju pelindung hingga alat pemeriksa suhu tubuh.

Sesuai hasil rapat yang dipimpin Kementerian Luar Negeri, sejauh ini TNI hanya menyiapkan sarana, prasarana, serta personel. Di antaranya, pesawat angkut serta prajurit TNI dari batalyon kesehatan (yonkes).

”Menyiapkan tiga pesawat dengan perangkat dan personel kesehatan,” ungkap Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Sisriadi.

Jenderal bintang dua TNI-AD itu menegaskan bahwa pihaknya mempersiapkan semua itu untuk membantu pemerintah. Setiap langkah yang akan dilakukan menyesuaikan permintaan dari pemerintah. ”Mendukung rencana kontinjensi Kemenlu saat diperlukan evakuasi WNI dari Wuhan,” terang dia. Termasuk rencana dan strategi teknis saat pemulangan lebih dari 200 WNI dari Hubei.

Secara lebih teperinci, Sisriadi menyampaikan, semua persiapan evakuasi WNI diurus oleh Kemenlu. ”Oleh Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu,” ungkap dia.

Terpisah, Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayjen TNI Bambang Dwi Hasto mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mendapat arahan dari panglima TNI untuk bersiaga mengantisipasi dan menangani virus korona.

”Seluruh rumah sakit dan seluruh batalyon kesehatan TNI disiagakan,” tegasnya.

Dikonfirmasi soal penunjukan Lion Air dalam misi evakuasi, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro enggan berkomentar. Dia hanya mengirim emoticon nyengir saat ditanya soal belum adanya izin dari pemerintah untuk berbicara kepada publik. ”No comment, Mbak,” tandasnya.

Sementara itu, Menko Polhukam Mohammad Mahfud MD menjelaskan, pemerintah Tiongkok sangat ketat soal keluar masuk orang dari Wuhan. Karena itu, rencana evakuasi WNI dari sana menunggu izin otoritas Tiongkok. ”Evakuasinya sekarang masih menunggu izin untuk masuk dari China dan izin keluar,” imbuhnya. (jp/jm)

  • Dipublish : 31 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami