Indonesia Carter Pesawat Batik Air Untuk Evakuasi WNI di Wuhan, Batam Menjadi Tempat Karantina

FOTO: AFP Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh penumpang di bandara Mutiara SIS Al Jufri di Palu, Sulawesi Tengah kemarin.
FOTO: AFP Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh penumpang di bandara Mutiara SIS Al Jufri di Palu, Sulawesi Tengah kemarin.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pemerintah memastikan akan mengevakuasi warga negara Indonesia yang berada di Provinsi Hubei, China, Sabtu (1/2). Kabarnya pesawat yang akan membawa WNI akan mendarat di Batam, Kepulauan Riau. Meski demikian sejumlah tempat karantina telah disiapkan di berbagai lokasi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh pesawat carter yang akan menjemput WNI berasal dari maskapai Batik Air jenis A330. Surat permohonan izin prinsip carter flight beredar di kalangan wartawan. Surat itu dilayangkan oleh manajemen Batik Air ke Dirjen Perhubungan Udara.

Dalam surat bernomor 007/DZ-ID/EXT/I/2020 yang ditandatangani oleh Dirut Batik Air Achmad Luthfie itu Batik Air meminta izin prinsip ke Kemenhub pesawat Batik Air nomor penerbangan ID 8618 dan 8619.

Rencananya pesawat akan terbang pada Sabtu (1/2) pukul 06.00 WIB dari bandara Soekarno-Hatta. Pesawat akan kembali ke Indonesia dan Mendarat di Batam, Kepulauan Riau.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, membenarkan pemerintah menggunakan maskapai Batik Air berjenis Airbus 330 untuk mengevakuasi WNI dari Wuhan.

“Benar, dengan Airbus 330,” ujarnya Jumat (31/1).

Namun untuk lebih lanjut mengenai mekanismenya, Danang enggan mengutarakan lebih lanjut.

“Nanti akan dikabari lagi ya,” jawabnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Didi Kusmarjadi juga membenarkan pesawat yang membawa WNI dari Wuhan akan mendarat di Batam.

“Iya, lewat Batam, kami masih rapat dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Batam untuk berkoordinasi mengenai teknisnya bagaimana,” katanya.

Ia mengatakan kedatangan penumpang WNI dari Wuhan itu ditangani KKP sedangkan Dinkes hanya mendukung saja.

Didi Kusmarjadi menyatakan untuk lokasi pasti karantina di Batam masih dibahas.

“Sepertinya memang dikarantina, salah satu tempat di Asrama Aji Batam Center,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan Survilance Epidemiologi KKP Batam, Romer Simanungkalit menyatakan pihaknya bersiap dengan segala kemungkinan.

“Bila pun ada penerbangan WNI yang singgah di Batam kami sudah siap karena telah berulang kali melakukan simulasi,” katanya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Wiendra Waworuntu mengatakan pihaknya telah menyiapkan tempat karantina dengan berbagai sumber daya dan fasilitas di sejumlah wilayah. Termasuk rumah sakit rujukan dalam proses pemulangan WNI dari Hubei.

“Kami siap di manapun landing pesawat, di manapun posisinya adalah karantina. Kami juga menyiapkan asupan gizi dan juga tenaga kesehatan untuk memantau WNI selama 14 hari masa karantina,” kata Wiendra dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat(31/1).

Keputusan melakukan karantina, merupakan standar operasional prosedur mengikuti Regulasi Kesehatan Internasional (IHR 2005) yang telah ditetapkan. Hal itu dikarenakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan wabah penyebaran novel coronavirus (2019-nCov) sudah menjadi kedaruratan global.

Disebutkannya, pesawat yang terbang ke Wuhan untuk menjemput WNI akan diisi oleh delapan petugas pengamanan dari TNI AU.

“Lalu ada lima tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat, dokter umum, dokter spesialis paru, dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dan dokter spesialis kesehatan jiwa,” katanya.

Dijelaskannya, WNI yang akan dipulangkan dari Wuhan akan dilakukan pengecekan kesehatan sebelum keluar dari negara China. Selama penerbangan kesehatan WNI akan terus dipantau.

“Sampainya di Indonesia, WNI termasuk petugas keamanan dan kesehatan yang mendampingi akan dikarantina selama 14 hari. Masa karantina tersebut mengikuti masa inkubasi virus corona tipe baru,” jelasnya.

Wiendra mengatakan pihaknya juga telah membuat panduan mengenai kegiatan yang akan dilakukan dalam masa karantina. Mulai dari menu makanan, kegiatan olahraga, dan kegiatan lain untuk mencegah stres.

“Kami juga menyiagakan rumah sakit rujukan khusus untuk penyakit infeksi baru di Jakarta yaitu RSUP Persahabatan, RSPI Sulianti Saroso, dan RSPAD Gatot Subroto. RSPI Sulianti Saroso menyebut telah menyiagakan 11 ruangan isolasi yang ketat untuk masing-masing satu pasien, dan 150 petugas terkait proses isolasi,” bebernya.

Terpisah Presiden Joko Widodo mengatakan proses evakuasi menunggu antrean. Sebab semua negara ingin melakukan evakuasi warganya. Namun, dia mengaku Indonesia sudah di antrean terdepan sehingga bisa mengevakuasi WNI di Wuhan.

“Masih dalam proses. Masih kita proses karena yang ingin evakuasi bukan hanya Indonesia saja. Tetapi antrean kita sudah di depan,” kata Presiden Jokowi di Kulon Progo, DI Yogyakarta.(fin/jm)

  • Dipublish : 1 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami