Indonesia Utang Lagi 50 Tahun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia, berimbas pada putaran ekonomi. Bahkan, APBN juga sudah dikeluarkan untuk pembiayaan penangangan wabah virus Corona. Untuk mencegah jebolnya APBN, Pemerintah menerbitkan surat utang berdenominasi USD atau global bond dengan tenor 50 tahun.

“Penerbitan tenor terpanjang yang pernah dilakukan oleh pemerintah secara implisit menggambarkan kredibilitas dan kepercayaan investor,” tegas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Selasa (7/4).

Sri Mulyani mengatakan surat utang seri RI0470 ini mempunyai tanggal jatuh tempo 15 April 2070 dengan nominal penerbitan USD 1 miliar serta imbal hasil 4,5 persen. Proses ini dilakukan secara elektronik tanpa ada pertemuan fisik dan tatap muka dengan calon investor.

Penerbitan obligasi valas ini juga merupakan pertama kali yang dilakukan negara Asia Tenggara atau negara berkembang Asia sejak adanya pandemi COVID-19. Meski saat ini sedang terjadi volatilitas di pasar keuangan dunia dan tantangan dari lingkungan global. “Kita memanfaatkan tenor 50 tahun ini karena preferensi investor global terhadap bond jangka panjang cukup kuat. Sehingga kita bisa melakukan penekanan dan mendapatkan yield cukup baik serta merefleksikan risiko dan appetitte investor,” paparnya.

Dari sisi imbal hasil yang ditetapkan 4,5 persen, Sri Mulyani menyebut yield ini lebih rendah dari global bond dengan tenor 10 tahun yang terbit pada 2018. “Kita juga menggunakan tenor 50 tahun untuk memanfaatkan kurva tenor jangka panjang yang cenderung flat. Artinya dalam jangka panjang tidak ada perubahan yield yang terlalu besar. Sehingga risiko dan biaya tidak akan terlalu meningkat,” imbuhnya.

Ia menambahkan penerbitan surat utang berjangka panjang 50 tahun ini juga bertujuan untuk menciptakan acuan tenor baru bagi Indonesia dan menyeimbangkan rata-rata profil jatuh tempo Surat Utang Negara (SUN) mengingat rata-rata permintaan pasar domestik pada tenor jangka pendek.

Selain menerbitkan RI0470, pemerintah pada saat yang bersamaan juga menerbitkan RI1030 dan RI1050 dengan masing-masing nominal sebesar USD 1,65 miliar. Dengan demikian dari penerbitan tiga seri global bond ini, pemerintah memperoleh pembiayaan USD 4,3 miliar.

Seri RI1030 mempunyai tenor 10,5 tahun dengan tanggal jatuh tempo pada 15 Oktober 2030 serta mempunyai imbal hasil 3,9 persen. Sedangkan seri RI1050 mempunyai tenor 30,5 tahun dengan tanggal jatuh tempo pada 15 Oktober 2050 serta imbal hasil 4,25 persen. “Indonesia menerbitkan ini untuk menjaga pembiayaan secara aman. Sekaligus menambah cadangan devisa bagi Indonesia. Pemanfaatan pembiayaan dari penerbitan ini sangat positif di tengah terjadinya turbulensi di tengah pandemik COVID-19,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis di tengah pandemi COVID-19, defisit transaksi berjalan di Indonesia tetap berada di kisaran 2,5 persen hingga 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) di tengah pandemi COVID-19. “Defisit transaksi berjalan tahun ini bahkan setelah pertimbangkan dampak COVID-19 masih terjaga dan terkendali pada tingkat 2,5 persen sampai 3 persen dari PDB,” jelas Perry di Jakarta, Selasa (7/4).

Dia mengatakan sebenarnya COVID-19 menimbulkan gangguan pada rantai pasok sejumlah barang hingga menyebabkan turunnya harga komoditas serta menekan perekonomian global. Namun, di sisi lain, di Indonesia penurunan impor lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor. Sehingga pihaknya memperkirakan defisit transaksi berjalan tetap di level 2,5 persen hingga 3 persen dari PDB. “Kita lihat defisit transaksi berjalan Indonesia yang penurunan impornya lebih besar. Karena struktur ekonomi kita memerlukan impor yang besar. Jadi penurunannya lebih tinggi daripada ekspor,” paparnya.

Perry menyatakan perkiraan defisit transaksi berjalan tersebut tidak hanya mempertimbangkan penurunan yang terjadi pada ekspor dan impor saja. Melainkan dari faktor lain yang turut mengalami tekanan. Dia menyebut faktor lain tersebut adalah devisa pariwisata dan travel yang mengalami tekanan akibat orang tak melakukan perjalanan di tengah COVID-19.(rh/fin)

  • Dipublish : 8 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami