Inggris Siap Produksi Vaksin Korona Desember

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Pandemi korona mungkin segera berakhir. Vaksin AZD1222 yang dikembangkan AstraZeneca dan ilmuwan Oxford University, Inggris, menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Vaksin yang masih dalam uji klinis tahap III itu terbukti mampu memicu peningkatan respons imun tubuh tanpa efek samping. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan jurnal medis The Lancet pada Senin (20/7).

Saat ini di berbagai penjuru dunia ada 23 vaksin SARS-CoV-2 yang sudah masuk uji klinis. Namun, AZD1222 diyakini sebagai yang terdepan dalam penelitian. Vaksin itu mungkin selesai lebih dulu daripada yang lain. Sebanyak 140 penelitian vaksin lainnya masih memasuki tahap awal pengembangan.

Profesor Sarah Gilbert yang ikut meneliti vaksin tersebut mengungkapkan, yang dipaparkan saat ini adalah hasil uji klinis tahap awal pada 1.077 orang. Yakni, vaksin yang diinjeksikan itu bisa melatih sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi dan sel darah putih yang bisa menyerang virus. Level T-cell naik 14 hari setelah vaksinasi dilakukan. Sedangkan level antibodi baru meningkat setelah 28 hari. Uji klinis tahap ketiga saat ini masih berlangsung dan belum keluar hasilnya.

Efek samping dari pemberian vaksin itu sangat kecil. Sekitar 70 persen relawan mengaku mengalami demam atau sakit kepala. Tapi, keluhan tersebut bisa diatasi dengan parasetamol. ”Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kami bisa mengonfirmasi bahwa vaksin ini bisa membantu menangani pandemi Covid-19,” ujar Gilbert seperti dikutip BBC. Salah satunya adalah menguji coba vaksin itu ke orang yang tertular SARS-CoV-2.

Awalnya para peneliti yakin vaksin bisa siap pada September nanti. Namun, kasus penularan di Inggris menurun setelah kuntara. Artinya, kesempatan untuk menguji coba vaksin ke orang yang terinfeksi menjadi kecil. Karena itu, para peneliti harus menguji cobanya di Afrika Selatan, Brasil, dan mungkin di Amerika Serikat (AS).

Direktur Jenner Institute di Oxford University Profesor Adrian Hill mengungkapkan bahwa vaksin bisa saja siap pada Desember nanti, tapi dengan catatan: ada cukup banyak orang yang bisa direkrut untuk jadi relawan pada September. ”Mungkin sekitar 50 ribu orang untuk menjalani uji coba selama enam pekan,” terangnya.

Itu termasuk uji coba yang dilakukan di AS. Jika dalam uji coba tersebut vaksin AZD1222 bekerja secara efektif, proses produksi bisa dilakukan. Meski begitu, Hill juga tidak terlalu yakin. Bisa jadi sampel relawan baru memadai pada November atau sedikit sebelum itu. Maka, dibutuhkan otorisasi darurat untuk menyelesaikan dan memproduksi vaksin dalam sebulan.

Pemerintah Inggris sejatinya sudah menyiapkan diri. Menteri Kesehatan Matt Hancock sudah menyerukan kepada penduduk untuk menjadi relawan. Pemerintah telah meluncurkan registrasi nasional sebagai relawan uji coba vaksin. Harapannya, 50 ribu relawan itu bisa dipenuhi pada Oktober. ”Vaksin yang aman dan efektif adalah harapan terbaik kami untuk mengalahkan virus korona dan kembali ke kehidupan yang normal,” ujar Hancock.

Sementara itu, kerja sama riset dilakukan Oxford bersama dengan AstraZeneca, salah satu perusahaan farmasi. Wakil Presiden Eksekutif Penelitian dan Pengembangan Biofarmasi AstraZeneca Mene Pangalos cukup optimistis dengan percobaan itu. Oxford dan AstraZeneca akan melakukan pengembangan klinis. Kemudian memproduksi vaksin secara global. Pemerintah Inggris mendanai proyek itu sebesar Rp 1,6 triliun untuk membantu percepatan pengembangan vaksin tersebut.

”Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, data hari ini meningkatkan kepercayaan diri kami bahwa vaksin dapat berfungsi,” ujar Mene. Menurut dia, AstraZeneca berencana melanjutkan produksi vaksin dalam skala besar jika uji klinis tahap akhir terbukti berhasil. Sejauh ini komitmen untuk memasok lebih dari 2 miliar dosis vaksin telah disepakati oleh Inggris, Amerika Serikat, Aliansi Vaksin Inklusif Eropa (IVA), The Coalition for Epidemic Preparedness (CEPI), Gavi the Vaccine Alliance, dan Serum Institute of India.

Ketua Gugus Tugas Vaksin Inggris Kate Bingham mengungkapkan, negaranya beruntung memiliki peneliti-peneliti luar biasa. Apalagi, mereka telah bekerja sama dengan tim global. ”Kemitraan ini bekerja dengan kecepatan luar biasa untuk menunjukkan hasil uji klinis,” bebernya.

Kemarin AstraZeneca dan Universitas Oxford juga menandatangani perjanjian pengembangan dan produksi vaksin Covid-19 untuk masyarakat Inggris. AstraZeneca akan memproduksi 100 juta dosis untuk Inggris secara total.

Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Rob Fenn mengatakan, terlalu dini untuk menyatakan kemenangan. ”Saya merasa optimistis, tapi tetap hati-hati,” tuturnya.

Dalam kondisi normal, pengembangan vaksin biasanya membutuhkan waktu 10-15 tahun. Meskipun hasil uji klinis dari Universitas Oxford sangat positif. ”Inggris tetap percaya bahwa sebaiknya kita tidak terlalu mengandalkan satu jenis vaksin saja,” kata Rob. (jp)

 

  • Dipublish : 22 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami