Ingin Naik Pesawat Komersil Saat Penerapan PSBB, ini Aturannya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) memberlakukan aturan bagi calon penumpang pesawat komersil pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal itu dilakukan sebagai upaya mendukung pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19.

Kepala KKP Kelas 1 Bandara Soekarno-Hatta, Anas Ma’ruf mengatakan aturan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan (Pemenhub) Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi untuk Mencegah Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Rujukan lainnya yakni Permenhub Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H dan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Sesuai regulasi dari pemerintah tersebut, maka penerbangan hanya dikhususkan bagi calon penumpang dengan keperluan perjalanan dinas, pengusaha dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru pulang ke Tanah Air dari luar negeri atau repatriasi. Penumpang dengan kriteria tersebut harus memenuhi syarat sebelum naik pesawat.

“Pembatasan penerbangan sudah dibatasi sesuai Permenhub 25 Tahun 2020. Yang boleh terbang hanya untuk logistik dan Warga Negara Indonesia (WNI) repatriasi. Kemudian ada SE Nomor 4 Gugus Tugas bahwa penerbangan (komersil) dibuka hanya untuk orang-orang tertentu seperti yang memiliki tugas (dinas),” ujarnya melalui keterangan tertulis, Kamis (21/5).

Anas menuturkan, KKP memberlakukan tiga pemeriksaan atau check point bagi calon penumpang sebelum naik ke pesawat. “Kita melakukan pengawasan mulai dari pintu masuk check point,” ucapnya.

Awalnya, penumpang akan diperiksa temperatur suhu dan saturasi oksigen oleh tim Gugus Tugas. Apabila calon penumpang bersuhu tubuh 38 celcius atau lebih, maka petugas akan membawa yang bersangkutan ke ruang isolasi.

Selanjutnya, pemeriksaan kelengkapan dokumen kesehatan dan perjalanan lainnya, seperti surat keterangan sehat dan hasil rapid test. Dokumen kesehatan ini penting untuk menjamin perjalanan seluruh penumpang dan kru kabin dalam keadaan sehat dan tidak ada penularan virus.

“Beberapa kasus yang kami temukan adalah dokumen kesehatan tidak valid. Misal punya surat kesehatan, tapi tidak membawa surat (hasil) rapid test,” tuturnya.

Anas menganjurkan bahwa hasil rapid test yang dibawa adalah hasil tes yang dilakukan maksimal 7 -10 hari sebelum perjalanan. Apabila lebih dari itu, maka hasil rapid test sebagai syarat dokumen perjalanan tidak akan diterima.

Syarat lain yang harus ditunjukkan ke petugas Gugus Tugas adalah surat tugas dari dinas atau perusahaan yang bersangkutan. Kemudian, kartu pengenal seperti KTP, SIM, paspor atau Kartu Keluarga, serta tiket maskapai.

Setelah melalui check point pertama, penumpang akan mendapatkan surat izin kesehatan. Penumpang diperbolehkan melanjutkan pemeriksaan selanjutnya sesuai protokol bandara dan maskapai penerbangan.

Anas menganjurkan agar calon penumpang datang ke bandara tiga jam sebelum terbang. Seluruh calon penumpang pesawat juga diimbau memenuhi aturan protokol kesehatan selama di bandara.

Penumpang diharapkan dapat membawa dokumen persyaratan yang ditentukan sebelum naik pesawat. “(Kalau syarat lengkap) Prosesnya cepat. Tapi, kami anjurkan (calon penumpang datang ke bandara) tiga jam sebelum penerbangan,” jelas Anas.

Selain menerapkan pemeriksaan dokumen calon penumpang pesawat, KKP juga memberlakukan protokol kesehatan. Antara lain, menjamin kebersihan lingkungan dan sterilisasi fasilitas bandara dengan cairan disinfektan.

Selain itu, mengatur jarak aman di tiap kursi ruang tunggu pesawat. KKP juga memberlakukan jarak aman di dalam kabin pesawat pada masing-masing maskapai.

“Kursi pesawat dikurangi 50 persen (untuk jaga jarak). Selain tempat duduk diatur, protokol di dalam pesawat juga harus diikuti. Pesawat kita awasi, sanitasi pesawat kita awasi. Kru pesawat juga harus menunjukkan surat keterangan sehat,” pungkasnya. (jp)

  • Dipublish : 21 Mei 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami