Ini Permasalahan dan Kekhawatiran Para Guru Selama Pandemi Covid-19

ILUSTRASI: Suasana belajar tatap muka di SLB Pertiwi Kota Mojokerto Jawa Timur, Selasa (20/10/2020), belajar tatap muka ditengah pandemi tersebut diadakan karena dalam rangka ujian tengah semester, guru dan siswa berkebutuhan khusus kesulitan menerima materi pelajaran secara daring. (Dok JawaPos.com)
ILUSTRASI: Suasana belajar tatap muka di SLB Pertiwi Kota Mojokerto Jawa Timur, Selasa (20/10/2020), belajar tatap muka ditengah pandemi tersebut diadakan karena dalam rangka ujian tengah semester, guru dan siswa berkebutuhan khusus kesulitan menerima materi pelajaran secara daring. (Dok JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Wahana Visi Indonesia (WVI) mengungkapkan persepsi para guru di tengah pandemi. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 27.046 responden guru.

Education Team Leader Wahana Visi Indonesia Mega Indrawati menuturkan, yang dikhawatirkan para guru dari aspek pelaksanaan kebijakan di masa pandemi adalah masalah kepemilikan gawai, kuota dan kapasitas TIK. Begitu juga dengan kendala geografis kunjungan guru ke rumah dan pengambilan tugasz khususnya di 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dan wilayah berisiko tinggi.

“Pelaksanaan kebijakan pendidikan di masa pandemi, bahwa pendidikan khusus secara daring itu sulit, lalu anak berkebutuhan khusus itu risikonya tinggi saat pembelajaran tatap muka sehingga SLB tidak bisa mengikuti kurikulum,” ujarnya dalam webinar Suara Guru di Masa Pandemi Covid-19, Kamis (22/10).

Sedangkan, dari segi aspek tunjangan, sertifikasi dan pra jabatan, permasalahan yang dihadapi adalaj iuran untuk gaji guru honorer di sekolah swasta terdampak sulitnya perekonomian orang gua murid. Kemudian juga tunjangan sertifikasi yang tidak merata, melambat atau berkurang.

“Untuk aspek kesejahteraan guru juga harus ditingkatkan lagi tertutama kesejahteraan guru dari sekolah swasta, dia mengalami dampak,” jelasnya.

Terakhir dari aspek kepemimpinan pendidikan, di mana sistem komando yang terlalu birokratis menjadi permasalahan yang dihadapi para guru. Dengan begitu kepala sekolah dan dinas pendidikan pin cenderung menunggu arahan dari pusat untuk keberlangsungan satuan pendidikan di wilayahnya.

“Aspek kepemimpinan pendidikan, sistem komando yang birokratis dan kurang jelas, di sini dinas penidikan dan kepala sekolah cenderung menunggu instruksi atau belum bisa mengambil keputusan kritis secara mandiri,” tutup Mega. (jp)

  • Dipublish : 22 Oktober 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami