Investasi Asing Bakal Anjlok Dikarenakan Aksi Tolak RUU KUHP

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Dua hari berturut-turut, Senin (23/9) dan Selasa (24/9) para mahasiswa dari berbagai penjuru melakukan aksi demonstrasi menolak pengesahan UU KPK dan RUU KUHP. Dalam aksi ini, berpotensi pada penurunan investasi secara drastis.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengatakan, sebaiknya pengesahan RUU KUHP ditunda dulu agar tidak memberikan kegaduhan sehingga membuat investor menahan investasinya dan atau hengkang memilih negara lain yang iklim politiknya kondusif.

“Pengesahan RUU KUHP sebaiknya ditunda dulu, atau sampai akhir pelantikan presiden. Kenapa ditunda? karena ini menguras energi pemerintah, serta energi dan pikiran para investor yang mau masuk ke Indonesia,” ujar Bhima di Jakarta, Rabu (25/9).

Menurut Bhima, sejak DPR menetapkan revisi UU KPK, telah terjadi polemik, dan hal ini kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia semakin menurun. Apalagi ditambah dengan pengesahan RUU KUHP.

“Eskalasinya semakin parah karena DPR dianggap tidak mendengarkan aspirasi dari kawan-kawan mahasiswa dan aktivis,” kata Bhima.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah menilai apalabila RUU KUHP disahkan akan berdampa pada ketidakpastian hukum di Indonesia.

“Bila RUU disahkan ada potensi semakin besar ketidakpastian hukum. Dengan masih lemahnya penegakan hukum, akan sangat mudah seseorang dikriminalisasi dengan tuduhan-tuduhan yang sesungguhnya sulit dibuktikan. Misalnya saja seseorang dituduh melakukan zina,” ujar Pieter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (25/9).

“Di bidang ekonomi dampaknya akan besar. Ketidakpastian hukum akan merambat ke banyak hal,” tambah Pieter menjelaskan.

Sementara Country Director Asian Development Bank (ADB), Winfried F Wicklein mengatakan, pihaknya belum bisa menilai dampak dari aksi para mahasiswa yang berujung rusuh selama dua hari itu.

“Terlalu dini untuk kita bisa proyeksi itu. Kami belum memasukkan variabel itu dalam analisis itu. Tapi kami akan analisis,” kata dia.

Lanjut dia, pelemahan investasi juga dipicu faktor eksternal seperti ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina yang masih terus berlanjut. Meskipun demikian, dia optimis pemerintah bisa menjaga pertumbuhan ekonmi sesuai target 5,3 persen di tahun 2020.

“Ini belum terlambat dan banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Permudah investasi untuk domestik dan asing. Ini krusial. Investasi infrastruktur juga harus terus dilanjutkan. Lalu sumber daya manusia juga,” kata Winfried.

Selain itu, kata dia, yang bisa menggeliatkan investor adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM), sehingga bisa bersaing dengan negara lain.

“Investor mencari tenaga kerja terlatih, yang bisa berpikir kritis. Investasi di bidang teknologi, mereka mencari young tech savvy people. Indonesia harus terus bersaing dengan negara lain, terus me-reform, karena negara lain juga terus melakukan perbaikan,” ucap dia.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan menyebutkan aksi mahasiswa yang teradi di Jakarta maupun di daerah kemarin merupakan dinamika dalam demokrasi. Artinya tidak akan memengaruhi perekonomian Indonesia, khususnya keuangan perbankan. “Dampaknya minim, kalau dilihat simpanan itukan tergantung suku bunga, ekonomi, inflasi dan aliran modal, ujar dia.

Terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani menyatakan akan terus menjaga fundamental perekonomia nasional dalam menjaga stabilitas pasar. Seperti diketahui, aksi demo penolakan pengesahan RUU KPK dan RUU KUHP telah memberikan tekanan terhadap pasar keuangan nasional, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah melemah.

“Kita akan jaga selama ini stabilitas di sektor keuangan fundamental kita dari sisi makro ekonomi yang biasanya mendrive sentimen,” ujar Sri.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu akan memantau neraca keuangan perusahaan, dan memastikan laporan keuangan perusahaan terbuka dalam kondisi yang baik.

“Pokoknya kita akan jaga fondasinya aja sehingga kita akan tetap komunikasikan kepada pelaku usaha mengenai Indonesia yang stabil dan tetap terkeola dengan baik,” ujar dia.

Melansir Bloomberg, di pasar spot, Selasa (24/9), Rupiah melemah 0,20 persen ke Rp14.151 per dolar AS. Sementara pada kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,16 persen ke Rp14.099 per dolar AS. (fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 26 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami