Iran Ancam Kembali Serang AS

Syrian demonstrators burn the US flag as they gather in the central Saadallah al-Jabiri square in the northern Syrian city of Aleppo on January 7, 2020, to mourn and condemn the death of Iranian military commander Qasem Soleimani, and nine others in a US air strike in Baghdad. (Photo by - / AFP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

TEHERAN – Anggota kepala staf gabungan Iran, Abdollah Araghi mengancam akan kembali melancarkan aksi balas dendam yang lebih keras terhadap Amerika Serikat (AS).

Balas dendam dilakukan untuk menuntaskan kesumat mereka atas pembunuhan yang dilakukan oleh AS tersebut terhadap perwira senior Iran Qassem Soleimani pada akhir pekan lalu.

“Balas dendam akan dilakukan Garda Revolusi dalam waktu dekat,” kata Abdollah, seperti dikutip dari Associated Press, Jumat (10/1).

Sementara itu, penjabat komandan penjaga Iran, Jenderal Ali Fadavi mengatakan, balas dendam sebenarnya sudah dilakukan Iran saat meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer Irak yang digunakan tentara AS. Tapi, serangan rudal yang dilakukan belum seberapa

“Itu hanya salah satu manifestasi dari kemampuan kami. Kami masih akan mengirim lusinan rudal ke jantung pangkalan AS di Irak supaya mereka tidak dapat melakukan apa pun,” katanya

Jenderal Amir Ali Hajizadeh, yang memimpin program kedirgantaraan Iran mengatakan, bahwa sementara Iran hanya menembakkan 13 rudal di dua pangkalan AS.

“Kami siap meluncurkan ratusan,” ujarnya

Tak hanya melancarkan serangan rudal, ia mengatakan Iran juga secara bersamaan telah melakukan serangan cyber terhadap sistem pemantauan AS.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, respons yang sangat berbahaya akan dilakukan terhadap AS jika negara adidaya tersebut membuat kesalahan lain terhadap Iran.

“Jika AS membuat kesalahan lain, itu akan menerima respons yang sangat berbahaya,” katanya.

Meskipun mendapatkan ancaman dari Iran, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa negaranya tidak akan membalas. Wakil Presiden A.S. Mike Pence mengatakan, langkah dilakukan karen pihaknya melihat para milisi Iran sudah mulai mengendurkan serangan.

“Kami mendengar beberapa intelijen untuk menyarankan bahwa Iran mengirim pesan kepada milisi untuk tidak bergerak maju,” katanya kepada Fox News Channel.

Dewan Perwakilan Amerika Serikat sepakat untuk membatasi kewenangan militer Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran. DPR merancang resolusi ini, karena Trump telah mengambil tindakan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan parlemen.

Ketua DPR Nancy Pelosi bersikeras, bahwa hanya Kongres yang dapat menyatakan perang.

Dikutip dari AFP, dalam pemungutan suara yang digelar Kamis (9/1) waktu setempat, sebanyak 224 anggota menyetujui resolusi itu, sedangkan 194 menolak.

Meski resolusi ini digagas Demokrat, namun ada tiga anggota dewan dari partai pengusung Trump, Republik, turut menyetujui.

Matt Gaetz, anggota Kongres yang dikenal sebagai pendukung Trump mengaku persetujuan itu bukan berarti dia mengkritik Trump. Akan tetapi, kata dia, terlibat dalam perang di Timur Tengah akan menjadi keputusan yang salah.

“Jika militer kami saja berani untuk pergi dan mati dalam perang, sebagai Kongres, kita harus memiliki keberanian untuk memilih atau melawan mereka,” kata Gaetz.

Keputusan Trump untuk menyerang perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani itu menuai kecaman karena dilakukan tanpa sepengetahuan Kongres.

Namun Trump berkeras bahwa dia tidak membutuhkan persetujuan seorang pun untuk melancarkan serangan. “Saya tidak harus,” kata Trump. (der/afp/fin)

  • Dipublish : 11 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami