Isdianto, Gubernur Bukan Hasil Pilkada

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id–Isdianto cetak sejarah baru di Indonesia. Sebab, bukan dari hasil pilkada. Keunikan lain adalah dalam satu periode (2015–2020) terdapat tiga orang berbeda yang menjadi Gubernur Kepri. Yakni H.M. Sani (almarhum), Nurdin Basirun, dan Isdianto. Isdianto merupakan adik kandung dari Sani.

”Jadi pelantikan Isdianto sebagai Gubernur Kepri definitif Senin (27/7) sore sebagai sejarah baru yang belum pernah terjadi di Indonesia. Dalam satu periode pun ada abang dan adik yang memimpin Kepri,” ucap pengamat politik Endri Sanopaka seperti dilansir dari Antara di Tanjungpinang pada Selasa (28/7).

Dalam perspektif politik, lanjut dia, karir Isdianto hingga menjabat sebagai Gubernur Kepri, menarik untuk diteliti. Isdianto menggunakan saluran selain pilkada untuk menggapai jabatan itu. Saluran demokrasi itu memiliki legitimasi, meski Isdianto tidak pernah tercatat sebagai calon Gubernur Kepri pada pilkada.

Terkait kepercayaan publik terhadap Isdianto, Endri mengatakan, sejauh ini belum tampak reaksi negatif dari publik yang mengemuka. Namun dia yakin publik masih menilai.

Salah satu faktor yang lagi-lagi menguntungkan Isdianto yakni pandemi Covid-19. Sehingga fokus publik menyelamatkan diri agar tidak tertular virus tersebut.

”Masyarakat mungkin memaklumi keterbatasan pemerintah pada masa pandemi. Selain itu, bantuan sosial yang langsung diserahkan Isdianto juga secara otomatis meningkatkan popularitasnya,” terang Endri.

Sejalan dengan persoalan itu, menurut Endri, Isdianto memiliki waktu hingga Desember untuk membuktikan dirinya berkualitas sebagai pemimpin di Kepri. Masyarakat akan menilai kinerjanya. Kepercayaan publik dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Isdianto akan tampak jelas dari hasil pilkada 9 Desember, apakah Isdianto yang digadang berpasangan dengan Suryani meraup suara terbanyak atau sebaliknya.

”Ini menarik untuk diteliti, mulai dari proses awalnya hingga berhasil menjabat sebagai Gubernur Kepri,” kata Endri yang juga ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang.

Berdasar catatan, H.M. Sani, abang kandung Isdianto, berhasil memenangkan Pilkada 2015 berpasangan dengan Nurdin Basirun. Sana-Nurdin dilantik 12 Februari 2016 sebagai pemimpin di Kepri. Namun Sani yang sudah dua periode menjabat sebagai Gubernur Kepri meninggal dunia pada 8 April. Tampuk kekuasaan pun beralih ke Nurdin Basirun.

Nurdin menggantikan Sani. Kesempatan itu diambil Isdianto untuk menempati posisi Wakil Gubernur Kepri. Isdianto yang saat itu menjabat sebagai pejabat Eselon II Pemprov Kepri mendaftarkan diri sebagai Wakil Gubernur Kepri setelah mendapat dukungan dari partai pengusung H.M. Sani-Nurdin Basirun yakni Partai Demokrat, Partai Nasdem, PPP, dan PKB.

Namun pergulatan politik yang terjadi mulai pertengahan 2016 hingga awal 2018 tidak membuahkan hasil. Akhirnya Isdianto masuk ke PDIP untuk memuluskan langkah sebagai Wakil Gubernur Kepri mendampingi Nurdin Basirun. 27 Maret 2018 Isdianto menggapai cita-citanya sebagai Wakil Gubernur Kepri dari kader PDIP.

Isdianto akhirnya menjabat sebagai Plt Gubernur Kepri setelah Nurdin Basirun ditangkap KPK pada 10 Juli 2019. Setelah proses persidangan, Nurdin divonis empat tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 9 April 2020.

Kondisi politik perlahan-lahan berubah. Hubungan Isdianto dengan pengurus PDIP retak hingga akhirnya dia dikeluarkan dari PDIP menjelang Pilkada Kepri 2020. Setelah setahun lebih tiga bulan, Isdianto akhirnya dilantik sebagai Gubernur Kepri. (jp)

  • Dipublish : 28 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami