Jakarta Sudah Lima Kali Banjir, Anies: Ini Air Lokal Bukan Banjir Kiriman

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat meninjau Pintu Air Manggarai, Selasa (25/2)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat meninjau Pintu Air Manggarai, Selasa (25/2)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Jakarta dikepung banjir. Bukan hanya rute Trans jakarta yang terhambat, ruas jalan tidak bisa dilalui. Sampai-sampai, lebih dari 150 sekolah diliburkan.
Sementara saat meninjau Pintu Air Manggarai, Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengatakan, sejak dini hari petugas bekerja di lapangan, membantu evakuasi terdapak.

”Kita bangun pos pengungsian, dan pasokan kebutuhan pokok, di semua tempat. Saat ini jumlah RW yang terdampak di atas 200 RW yang terdampak, bagi masyarak yang membutuhkan kontak kami di 112 atau datang kelurahan terdekat, kita respon kebutuhan warga,” tuturnya kepada wartawan, Selasa (25/2).

Dikatakan Anies, curah hujan makin deras terjadi sejak pukul Pukul 05.50 WIB. ”Tadi pagi menjelang pukul 06.00 pagi puncaknya di siaga 1 saat ini sudah turun di siaga 2. Kalau Anda lihat, di sini airnya tidak banyak sampah. Artinya itu air lokal. Dan air lokal tidak bergolak, jumlahnya memang cukup besar. Bukan kiriman,” kata dia.

Ketika ditanya, dari tahun baru sampai sekarang tercatata sudah lima kali banjir, Anies menjawab saaat ini konsentrasi pada penanganan. ”Ramalan BMKG sampai Maret, cuaca cukup ekstreem. Sekarang kita konsentrasi ke sana,” imbuhnya.
”Jangankan mau lewat jalan, nyari nafkah saja susah kalau begini,” terang Sanusi warga Karet, Tengsin, Jakarta Pusat.

Senada disampaikan, Sanusi. Pria yang bisa menjajakan jasa ojek di kawasan Palmerah, mengeluh dengan kondisi yang ada. ”Dari pagi bang. Kaga bisa lewat. Order juga sepi. Orang mikirin banjir semua. Tahu nih kapan banjirnye selesai,” tuturnya.

Hujan yang terjadi sejak Selasa dini hari mengakibatkan beberapa kawasan di Jakarta kembali mengalami banjir sehingga menghambat aktivitas normal yang dilakukan oleh warga. Selain menganggu kegiatan belajar mengajar, banjir juga mengakibatkan terhentinya layanan transportasi umum dan aliran listrik.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo angkat bicara terkait kondisi banjir yang menerpa Jakarta. Ia menyebut ada beberapa faktor menjadi pentebab, di antaranya pengambilan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu faktor pemicu banjir. ”Pengambilan air tanah yang cukup banyak berimbas pada penurunan permukaan daratan di Jakarta sehingga menjadi salah satu penyebab banjir,” kata dia di Jakarta.

Pola perilaku masyarakat berpengaruh besar terhadap kondisi sungai-sungai tercemar itu. Meskipun sudah banyak komunitas yang bergerak membersihkan, namun sampah tetap saja kembali dibuang ke sungai. ”Setelah dibersihkan ada yang kembali membuang ke sungai. Akibatnya sampah itu menutupi aliran sungai dan ketika musim hujan seperti sekarang menjadi pemicu banjir,” ujar dia.

Untuk mengatasi itu, Doni menyarankan agar pihak-pihak terkait memberdayakan lebih banyak lagi mesin pompa sehingga air tersebut bisa dialirkan ke laut. “Ketika tidak ada tanaman sama sekali dan curah hujan tinggi maka langsung menerpa tanah dan akibatnya tidak ada resapan,” ujarnya. (ful/fin/jm)

  • Dipublish : 25 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami