Jalur Laut Rawan Peredaran Narkoba

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MAKASSAR – Peredaran narkotika jalur laut masih terbilang cukup rawan. Jalur tersebut bisa memanfaatkan pengangkutan logistik atau barang melalui kontainer-kontainer besar.

Ketua Gerakan Anti Narkotika dan Psikotropika (Granat) Sulsel, Muhammad Arman Mannahawu mengatakan, jalur laut masih bisa menjadi alternatif bagi jaringan besar narkotika untuk menyusup ke wilayah-wilayah perkotaan.

Terlebih, belum ada teknologi canggih yang bisa mendeteksi keberadaan narkoba itu jika disalurkan melalui jasa logistik.

“Kalau kita memakai perspektif perbandingan, kalau lewat udara saja (yang melewati pemeriksaan x-ray) bisa bobol, berarti mereka sangat berpotensi untuk lewat laut,” tutunya kepada FAJAR, Minggu, 7 September.

Arman menilai, butuh peran serta pemerintah dalam meminimalisasi peredaran narkoba lewat laut itu. Salah satunya dengan mendatangkan teknologi canggih melalui pos anggaran tertentu. Setidaknya, detektor semacam itu bisa mencegah lalu-lintas narkoba melalui jalur laut.

Selain itu, pengangkutan logistik juga menjadi hal yang patut diwaspadai. Kontainer memiliki ukuran yang sangat besar. Sedangkan, narkotika seperti sabu-sabu masih bisa diselipkan dalam berbagai cara.

Meski beratnya mencapai beberapa kilogram, ukurannya masih jauh lebih kecil untuk diselundupkan via kontainer.

“Yang punya kewenangan pemeriksaan (kontainer) sekarang kan pihak Bea dan Cukai. Apakah juga ada teknologi detektor atau cara kerja yang bisa mendeteksi jika seandainya barang narkotika diselipkan di kontainer itu. Di situ ruangnya ada (kemungkinan penyelundupan),” jelas mantan Ketua KNPI Makassar ini.

Sebenarnya, potensi itu disadari oleh pihak Bea dan Cukai Makassar yang berkantor di area Pelabuhan Soekarno-Hatta. Apalagi, baru-baru ini mereka dikejutkan dengan penangkapan jaringan narkotika jenis ganja melalui pengiriman logistik via udara.

Bahkan, distribusi sabu-sabu via pelabuhan kecil juga terjadi di Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone. Seorang perempuan diringkus aparat setelah kedapatan menyimpan sabu-sabu seberat 1,5 kilogram dalam tasnya.

Ia diringkus setelah berlabuh di pelabuhan antarprovinsi itu. Diduga, narkoba itu berasal dari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pihak Bea dan Cukai Makassar pun bakal menggandeng pihak pelabuhan untuk mencegah perluasan jaringan pengiriman itu. Tak ketinggalan, peran Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel sebagai ujung tombak dalam upaya tersebut.

“Kita akan terus lakukan sinergi untuk mencegah peredaran narkotika. Tidak hanya lewat bandara, tetapi juga menggalang sinergi dengan pihak pelabuhan,” ungkap Kepala Kantor Bea dan Cukai Makassar, Gusmiadirrahman. (mam/rif)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 9 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami