Jangan Lagi Impor Garam!

FOTO: SESKAB FOR FIN BICARA KUALITAS GARAM: Presiden Joko Widodo memberikan penjelasan kepada wartawan terkait kualitas garam nasional dalam kunjungannya ke Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemarin (21/8)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KUPANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap impor garam ditekan. Terlebih kualitas garam lokal seperti yang dihasilkan seperti di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata lebih baik dibandingkan garam impor dari Australia.

“Saya ke sini hanya ingin memastikan bahwa program untuk urusan garam ini sudah dimulai. Karena kita tahu impor garam kita 3,7 juta ton, yang bisa diproduksi dalam negeri baru 1,1 juta ton. Masih jauh sekali,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan, kemarin.

Menurut Presiden, NTT memiliki potensi tambak garam yang bisa dikerjakan seluas kurang lebih 21 ribu hektare. Dan di Kupang terdapat 7 ribu hektare, sayangnya yang baru dikelola sekitar 600 hektare. Kondisi makin miris karena yang baru diselesaikan hanya 10 hektare. “Masih 10 hektare dari 21 ribu hectare. Masih jauh sekali. Sepuluh hektare ini, di lingkungan ini baru 600 hektare. Jadi memang ini baru dimulai,” ungkapnya.

Dalam peninjauan itu, Presiden Jokowi mengaku ditunjukkan berapa perbandingan garam yang diambil dari luar untuk dibawa ke NTT, yang dari Madura, yang dari Surabaya, dan juga dari Australia. Presiden menilai, garam yang ada di NTT memang hasilnya di sini lebih bagus, lebih putih, bisa masuk ke industri, dan kalau diolah lagi bisa juga menjadi garam konsumsi. “Artinya ini ada potensi, tapi memerlukan investasi yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, ini adalah investasi pertama yang akan dikerjakan,” jelasnya.

Ia berharap di awal tahun 2020 mampu diselesaikan 600 hektare, dengan melibatkan petani tambak. “Pekerja sekaligus ikut di dalamnya. Nanti kayak saham, ikut, sehingga nanti penghasilan masyarakat di sini akan lebih baik,” jelasnya.

“Tapi sekali lagi, ini yang dalam proses baru 600 hektar, itupun yang selesai baru 10 hektare. Tahun depan akan diselesaikan,” harap Presiden didampingi Ibu Negara, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi K. Sumadi, dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

Sejalan dengan itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan A Djalil menegaskan pada tahun 2019 akan menerbitkan 80.000 sertifikat tanah untuk masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Pada tahun 2019 BPN akan menerbitkan 80.000 sertikat tanah di Nusa Tenggara Timur dalam memberikan kepastian hukum atas tanah bagi masyarakat,” ungkapnya.

Masyarakat yang menerima sertifikat tanah yang diserahkan Presiden Joko Widodo berasal dari Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan dan Kota Kupang dengn jumlah sertifikat tanah sebanyak 2.706 sertifikat.

Sofyan A Djalil menambahkan, sertifikat tanah yang diserahkan untuk Kabupaten Kupang berjumlah 1.714 sertifikat tanah, sedangkan 992 sertifikat lainnya didistribuskan kepada masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kota Kupang.

Ia mengatakan sertifikat tanah yang diserahkan kepada masyarakat Kabupaten Kupang merupakan hasil redistribusi tanah objek reforma agraria (TORA) lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Pangung Guna Ganda Semesta (PGGS).

Menurutnya dari lokasi lahan HGU seluas 3.720 ha yang diberikan kepada masyarakat seluas 1.870 hektare dengan jumlah jumlah sertifikat tanah yang diserahkan sebanyak 2.244 sertifikat. “Masih ada sertifikat tanah lagi yang sedang dalam proses pensertifikatan oleh BPN dengan luas 700 hektare,” kata Sofyan A Djalil.

Pemerintah juga telah menyerahkan lahan seluas 1.700 hektare dari lahan bekas HGU PT PGGS berupa hak penguasaan lahan (HPL) kepada pemerintah daerah Kabupaten Kupang bagi kepentingan pembangunan industri garam.

BPN akan terus mendorong masyarakat di Nusa Tenggara Timur untuk memiliki sertifikat tanah. Dikatakannya, pada tahun 2019 BPN akan mensertifikatkan 80.000 lahan milik masyarakat di provinsi berbasis kepulauan ini.

Sebenarnya stok garam di tanah air mampu memenuhi kebutuhan dasar. Jika potensi yang ada benar-benar dimafaatkan. Potensi itu ada di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Tercatat hingga pertengahan Agustus 2019 ini telah mencapai 125 ribu ton.

“Jumlah ini belum mencapai target, karena target produksi yang kami tetapkan pada musim produksi garam saat ini sebanyak 138 ribu ton,” terang Kepala Seksi (Kasi) Kasi Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Budidaya pada Dinas Perikanan dan Kelautan Pemkab Pamekasan Muzanni.

Pihaknya optimistis, produksi garam tahun inia mencapai target. “Kami optimistis target produksi 138 ribu ton ini tercapai, karena kemarau bagus, dan hingga kini produksi garam masih berlangsung,” katanya.

Menurut Muzanni, sebenarnya jika dibanding musim produksi garam tahun lalu, hasil produksi garam kali ini sama. Sebab pada tahun lalu, produksi garam di Pamekasan sebanyak 125 ribu ton, lebih dari target yang ditetapkan, yakni 100 ribu ton. Luas areal tambak garam di Kabupaten Pamekasan saat ini 913,5 hektare, tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Galis, Pademawu dan Kecamatan Tlanakan.

Di Kecamatan Galis, ada empat desa yang menjadi produsen garam, yakni Desa Lembung, Polagan, Konang dan Desa Pandang, dengan luas tambak garam mencapai 458,6 hektare. Di Kecamatan Pademawu desa yang memproduksi garam tersebar di delapan desa, yakni Desa Dasuk, Bunder, Pademawu Timur, Tanjung, Padelegan, Majungan, Pegagagan dan Desa Baddurih dengan luas tambak garam mencapai 445,4 hektare.

Sedangkan di Kecamatan Tlanakan, produksi garam di tiga desa, yakni Desa Tlesah, Tlanakan dan Desa Branta Tinggi dengan total luas tambak garam 9,6 hektare. Dari 15 desa penghasil garam yang tersebar di tiga kecamatan itu, desa dengan luas tambak garam terbanyak ialah Desa Lembung, Kecamatan Galis, yakni 245 hektare dengan total produksi pada tahun 2018 mencapai 1.581 ton, sedangkan yang paling sedikit ialah Desa Tlesah, Kecamatan Tlanakan, yakni 2,6 hektare dengan total produksi 33 ton.

(ful/fin)

 

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 22 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami