Jelang Natal dan Tahun Baru, Bahan Pokok Dipastikan Aman

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus berupaya menjaga pasokan barang kebutuhan pokok (bapok) dan kestabilan harga berbagai daerah.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional, Arlinda mengatakan lebih dari 2 tahun terakhir ini pemerintah telah berhasil menjaga harga dan pasokan bapok tetap stabil menjelang peringatan hari besar keagamaan nasional (HBKN).

“Kemendag berkomitmen melanjutkan kesuksesan tersebut dengan melakukan upaya-upaya antisipasi dengan berkoordinasi dan bersinergi dengan pihak-pihak terkait bapok di daerah, termasukdi Provinsi Kalimantan Tengah,” ujar Arlinda, Jumat (29/11)

Mewakili Kemendag, Arlinda terjun langsung meninjau harga dan pasokan bapokdi PalangkaRaya, Kalimantan Tengah, Kamis (28/11). Berdasarkan pantauan di Pasar Besar dan Pasar Kahayan, Arlinda mengungkapkan harga bapok relative stabil.

Per Kamis (28/11), harga beras medium Rp10 ribu sampai Rp11 ribu per kilogram (kg), gula pasir Rp13 ribu – Rp15 ribu per kg, minyak goreng kemasan sederhana Rp11 ribu per liter, daging sapi Rp120 ribu – Rp130 ribu per kg, daging ayam broiler Rp40 ribu – Rp45 ribu per kg, telur ayam ras Rp24 ribu – Rp28 ribu per kg, bawang merahRp28 ribu – Rp33 ribu per kg, dan bawang putih Rp27 ribu – Rp32 ribu per kg.

Arlinda mengungkapkan, hasil pantauan di Pasar Besar dan Pasar Kahayan, menunjukkan bahwa harga bapok relative stabil. “Hasil pantauan kami pada hari ini menunjukkan harga bapok stabil dan pasokan cukup. Kondisi harga-harga tersebut diprediksi stabil hingga akhir tahun mengingat distribusi pasokan bapok terpantau lancar,” ujar Arlinda.

Pada pantauan tersebut, Arlinda didampingi Direktur Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri, Ida Rustini; Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Kalimantan Tengah, Aster Bonawati; Pemimpin Wilayah Bulog Kalimantan Tengah, Mika Ranula Kendenan; serta Kepala Satgas Pangan Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili oleh AKBP Edi Siswanto.

Selain meninjau bapok di pasar rakyat, Arlinda meninjau kesiapan pasokan bapokdi Gudang Bulog Divre Kalimantan Tengah, ritel Hypermart dan Swalayan Sendy’s, gudang distributor bapok PT Budi Distrindo Nusa, serta menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Kesiapan Bapok Menghadapi Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Arlinda mengungkapkan, pasokan beras di Gudang Bulog tersebut aman. Lebih lanjut, secara keseluruhan, di Gudang Bulog Divre Kalimantan Tengah, pasokan beras untuk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 8.420 ton yang cukup memenuhi kebutuhan hingga sebelas bulan kedepan.

Sedangkan dari hasil pemantauan, ketersediaan pasokan bapok di ritel modern dipastikan aman dan hargas tabil. Beras, minyak goreng kemasan sederhana, gula pasir, dan daging beku dijual sesuai dengan HET yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sementara itu, pada Rakorda, Arlinda menyampaikan pentingnya koordinasi dan sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Setelah mengidentifikasi pasokan bapok di lapangan, melalui Rakorda ini dikoordinasikan langkah-langkah yang perlu dilakukan pihak terkait dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bapok menjelang Natal dan Tahun Baru.

Rakorda ini dibuka oleh Sekda Provinsi Kalimantan Tengah, Fahrizal Fitri, yang mewakili Gubernur Kalimantan Tengah dan dihadiri oleh Plt. KepalaBiro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi Kalimantan Tengah, Said Halim; Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Setian; serta perwakilan dinas yang membidangi perdagangan dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah.

Selain itu, hadir pula Tim Pengendali Inflasi Daerah, perwakilan Satgas Pangan, perwakilan Bulog, serta pelaku usaha bapok. Untuk menjaga inflasi bahan makanan pada tingkat yang stabil, beberapa komoditas bapok yang perlu diantisipasi pasokannya antara lain yaitu daging ayam, bawang merah, telur ayam ras, dan gula.

“Kami mengimbau Pemerintah Daerah memantau dan melaporkan keamanan dan kelancaran distribusi bapokdan jumlah stok bapok, yang dimiliki pedagang di pasar pantauan,” ujar Arlinda.

Arlinda melanjutkan, hal itu perlu dilakukan guna mengetahui perkiraan kebutuhan stok bapok harian di pasar-pasar tersebut dansegera melaporkan jika ada gejolak harga ataupun hambatan distribusi.

Rakorda ini merupakan salah satu implementasi amanat Rapat Koordinasi Nasional bapok di Jawa Timur pada 4 Oktober 2019.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan telah memberikan arahan untuk segera melakukan langkah antisipasi menjelang Natal 2019 Tahun Baru 2020, mewaspadai tantangan terkait kondisi kekeringan ekstrim, dan menjaga kelancaran pasokan kemasyarakat dan keterjangkauan harga di pasar.

Rangkaian pantauan kepasar rakyat dan Rakorda ini dijadwalkan berlangsung di 15 daerah pantauan pada minggu ke-2 November hingga minggu ke-2 Desember2019. Daerah pantauan utama yaitu Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimanta Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya merayakan Natal.

Sementaraitu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Bali diprediksi berpotensi memberikan andil inflasi cukup tinggi. Selanjutnya, Tim Penetrasi Pasar akan terjun ke 82 kabupaten/kota pantauan untuk mengawal pasokan bapok pada 16-20 Desember 2019.

Pada kegiatan itu, Tim Penetrasi Pasar akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan Daerah.

“Kami ingin agar masyarakat dapat merayakan Natal dan tahun baru dengan tenang tanpa mengkhawatirkan adanya gejolak harga bapok di pasar,” pungkas Arlinda.

Berkaca pada tahun-tahun sebelunya menjelang momen hari besar harga pangan selalu mengalami kenaikan, seperti beras, daging, gula, dan minyak goreng. Karenanya, tahun ini Kemendag akan menjaga bahan pangan tersebut.

Sebelumhya Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto juga memastikan pemerintah akan menjaga stabilitas harga pangan serta kecukuan pasokan.

“Ayam ras cabai, bawang putih. Jadi kita harus stabilkan kebutuhan bahan pokok yang biasa digunakan untuk hari besar keagamaan,” ujar Agus.

Saat ini, kata Agus komoditas bawang merah sudah mengalami kenaikan. Salah satu faktor utama kenaikan dipicu musim kemarau yang panjang, sehingga produksi menjadi berkurang.

“Maka kita waspadai, makanya gunanya untuk penetrasi pasar, kondisi iklim suasana di pasar supaya juga pasokan cukup atau tidak. Apakah nanti ada kenaikan permintaan, bisa kita antisipasi terutama dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pelaku pasar di sana,” ujar dia.

Tak hanya itu, Kemendag juga akan memantau langsung ke pasar-pasar soal harga dan kecukupan bahan pangan. “Jadi semua ini kan pasokan kita masih ada kecukupan memang nanti kita antisipasi dengan perubahan iklim. Untuk sementara ini kita masih lihat masih ada kecukupan,” ucap dia.

Pihaknya juga menjaga inflasi untuk kelompok bahan makanan yang cenderung naik dan musim kemarau yang merata di seluruh Indoensia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), Inflasi pada Oktober 2019 secara bulanan (mont on montn/mon) adalah sebesar 0,2 persen dan inflasi tahunan (year to date/tahun kalender) sebesar 2,2 persen. Untuk kelompok makanan hingga Oktober adalah sebesar 3,09 persen atau tertinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Beberapa faktor utama penyebab kenaikan inflasi itu adalah kenaikan cabai merah akibat faktor kemarau yang panjang.

Hingga Minggu keempat Oktober 2019, secara umum harga barang kebutuhan pokok masih relatif stabil. Misalnya, beras, daging sapi minyak goreng, gula, tepung terigu, dan bawang putih.

(dim/fin/der)

  • Dipublish : 30 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami