Jokowi Siap Bertemu Benny Wenda

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Presiden Indonesia Joko Widodo membuka pintu dialog dengan separatis di wilayah paling bergolak di Papua. Ini berangkat dari sikap pemerintah setelah mendapatkan masukan dari jajaran kabinetnya.

Tawaran itu, ternyata belum direspon. Kelompok sparatis Papua cukup berhati-hati dengan langkah yang diajukan pemerintah, pasca tujuh minggu kekerasan yang dipicu oleh cercaan rasis yang ditujukan pada mahasiswa Universitas Papua oleh anggota pasukan keamanan.

Menjawab sejumlah pertanyaan wartawan Presiden Jokowi menegaskan siap untuk bertemu aktivis Papua yang selama ini menuntut referendum kemerdekaan. “Ya, tidak ada masalah. Dengan siapa pun, saya akan bertemu jika mereka benar-benar ingin bertemu,” tegasnya, kemarin (2/10).

Bahkan, Presiden Jokowi menyebut kelompok perusuh bersenjata itu berasal dari pegunungan Wamena yang telah mengeksploitasi ketegangan hingga menyebabkan situas dan kondisi begitu kacau.

Menanggapi pernyataan Presiden Jokowi, juru bicara sekaligus Sekretaris Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Victor Yeimo menegaskan pembicaraan harus dimediasi oleh badan internasional, seperti PBB, atau negara asing.

“Kita perlu berbicara tentang referendum dan akar penyebab di balik seruan kita untuk kemerdekaan,” terang Vicor Yeimo dalam sebuah pesan yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN).

Sementara itu, sebuah portal berita Papua mengutip pemimpin separatis lainnya, Benny Wenda, kepala Gerakan Pembebasan Bersatu untuk Papua Barat (ULMWP), yang mengaku siap untuk bertemu Jokowi.

“Tapi kami hanya akan bertemu jika semua pasukan (militer dan polisi, red) ditarik dari tanah Papua. Karena tidak mungkin bertemu jika masih ada ancaman terhadap nasib rakyat Papua,” terang portal, tabloidjubi, mengutip pernyataan Benny Wenda.

Selama ini, kedua kelompok itu dituduh mendalangi protes yang mengguncang Papua dalam beberapa pekan terakhir. Dari data yang diterima, sudah 37 orang tewas dan sejumlah orang terluka dalam bentrokan di Wamena dan Jayapura.

Hingga kemarin, suasana mencekam masih menyelimuti Wamena. Ribuan penduduk yang ketakutan dievakuasi setelah hari pertumpahan darah terburuk di Papua dalam beberapa dekade. Sejumlah aktivis kemerdekaan Papua menyebut 25 dari 33 yang tewas bukan warga setempat.

Kantor-kantor pemerintah dan rumah-rumah yang dibakar belum dilakukan renovasi apalagi perbaikan. Sementara 250 mobil dan motor hancur, saat penduduk asli Papua dan pasukan keamanan bentrok. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi Komnas HAM telah bergerak melakukan pendalaman atas peristiwa yang terjadi. (fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 3 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami