Jokowi Target Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, Demokrat: Jangan Pencitraan Berlebihan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Demokrat, Syarief Hasan menilai, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen itu tidak realistis. Apalagi saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.

Menurutnya, target itu terlalu muluk-muluk dan sangat tidak relevan dengan kondisi Indonesia yang tengah dilanda pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Semestinya, pemerintah memiliki sejumlah pertimbangan dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi.

Mulai dari anjlok dan minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan PHK yang terjadi di mana-mana.

“Serta daya beli masyarakat semakin rendah dan kemampuan Pemerintah harusnya menjadi pertimbangan dalam penentuan target,” ujar Syarief Hasan.

Semestinya, ujar Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini, pemerintah lebih dulu membuat grand desain ekonomi Indonesia.

“Jangan hanya sekedar membuat target tinggi, lalu melakukan revisi target di tengah jalan seperti yang terjadi dalam kurun tahun 2020,” ujar Syarief.

Dalam kondisi normal sejak 2014 saja, sambungnya, pertumbuhan ekonomi saat itu sudah 4,9-5,0 persen.

Namun, Pemerintah juga tidak pernah berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih dari 5,2 persen

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,5 sampai dengan 5 persen.

Hal itu disampaikan Presiden dalam pidato penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2021 beserta Nota Keuangan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jumat (14/8).

Jokowi juga meminta agar tingkat pertumbuhan ekonomi itu didukung peningkatan konsumsi domestik dan investasi.

“Tingkat pertumbuhan ekonomi ini diharapkan didukung oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama,” kata Jokowi.

Untuk diketahui, beberapa waktu yang lalu, BPS RI mengeluarkan rilis resmi terkait pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok ke minus 5,32 persen pada Kuartal II 2020.

Bahkan, proyeksi dari Kemenko Perekonomian RI menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan minus pada Kuartal III 2020. Artinya, Indonesia sudah dalam kondisi resesi.

Angka itu diperparah dengan data dari Kemenaker RI menyebutkan jumlah pengangguran bertambah sebesar 3,05 juta selama Pandemi Covid-19.

Bahkan, survei LIPI bersama FEB UI pada (2/5) memprediksi sebanyak 25 juta pekerja terancam kehilangan pekerjaannya.

Banyaknya PHK ini akan berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. (jpc/ruh/pojoksatu)

  • Dipublish : 17 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami