Jumlah Orang Miskin Turun Jadi 24,79 Juta

FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Jumlah pendudukan miskin mengalami penurunan tipis menjadi 24,79 juta orang per September 2019. Jumlah itu menurun 0,36 juta orang terhadap Maret 2019 dan merosot 0,88 juta orang terhadap September 2018.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, kendati jumlah orang miskin turun namun disparitas kemiskinan antara desa dan kota masih tinggi.

“Persentase kemiskinan kota sebesar 6,56 persen. Sementara persentase penduduk miskin pedesaan mencapai 12,6 persen,” ujar dia di Jakarta, Rabu (15/1).

Catatan dia, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan periode yang sama tahun lalu, di mana persentase kemiskinan perkotaan 6,89 persen dan pedesaan 13,1 persen.

Penurunan tingkat kemiskinan pada September 2019, dipengaruhi, yakni pertama, perubahan rata-rata upah buruh per hari. Rata-rata upah nominal buruh tani per hari pada September 2019 naik 1,02 persen menjadi Rp54.424 per hari. Sedangkan upah nominal buruh bangun per hari juga naik 0,49 persen menjadi Rp89.072.

Kedua, kenaikan nilai tukar petani (NTP) selama kuartal III 2019 selalu berada di atas 100 dengan tren meningkat. NTP Juli tercatat 102,63, Agustus 103,22 dan September 103,88.

Ketiga, angka inflasi yang rendah di mana selama periode Maret 2019-September 2019 nilainya 1,84 persen.

Keempat, harga eceran beberapa komoditas pokok merosot. Pada Maret-September 2019, harga komoditas yang turun di antaranya beras (turun 1,75 persen), daging ayam ras (turun 2,07 persen), minyak goreng (turun 1,59 persen), telur ayam ras (turun 0,12 persen), dan ikan kembung (turun 0,03 persen).

Kelima, rata-rata pengeluaran per kapita 10 persen penduduk terbawah pada Maret-September 2019 naik 4,01 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan garis kemiskinan 3,6 persen.

Keenam, pelaksanaan program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) yang semakin gencar. Tercatat, jumlah kabupaten/kota penerima program BPNT hingga kuartal III 2019 mencapai 509 kabupaten/kota, lebih banyak dibandingkan kuartal I, 289 kabupaten/kota.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengapresiasi pencapaian penurunan kemiskinan di Indonesia pada September 2019.

Menurut Huda, penurunan kemiskinan disebabkan oleh Program Keluarga Harapan (PKH). PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga miskin yang ditetapkan sebagai keluarga penerima PKH. Kemudian, tidak ada kenaikan harga yang diatur oleh pemerintah sehingga inflasi rendah.

Prediksi Huda, tahun 2020 kemiskinan akan meningkat lantaran adanya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

“Jadi ketika tahun 2020 direncanakan adanya kenaikan tarif dasar listrik maka disinyalir akan meningkatkan kemiskinan. Selain itu, PKH tahun lalu digunakan juga sebagai ‘alat kampanye’ maka ketika sudah terpilih bisa jadi skema PKH dan besaran cakupan PKH berubah. Itu juga bisa meningkatkan kemiskinan,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (15/1).

Sekadar informasi, dalam mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) yang telah digunakan sejak 1998.

Melalui pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.(din/fin)

  • Dipublish : 16 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami