Jurus Hadapi Gejolak Ekonomi Tahun 2020

Ilustrasi perlambatan ekonomi
Ilustrasi perlambatan ekonomi
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Tidak lama lagi tahun 2019 akan berakhir. Tahun ini merupakan tahun terberat di mana hampir semua negara mengalami perlambatan ekonomi. Bank Indonesia (BI) memperkirakan kondisi demikian akan berlanjut hingga tahun depan.

Lantas bagaimana agar Indonesia bisa mengantisipasi perlambatan ekonomi global di tahun depan? Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE), Piter Abdullah mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tinggi di atas 5 persen, yakni 7-9 persen, asalkan dengan memaksimalkan pasar domestik.

“(Ekonomi) kita bisa tumbuh bahkan bisa lebin tinggi walaupun di tengah perlambatan ekonomi global, yaitu dengan mengoptimalkan permintaan domestik,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN),

Untuk itu, saran Piter, pemerintah harus melakukan beberapa langkah untuk menjaga permintaan domestik. Dengan demikian, dia meyakini meskipun tahun depan masih dilanda gejolak ekonomi namun ekonomi Indonesia tetap berdiri kokoh.

“Pemerintah harus berkoordinasi mensinergikan kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil,” kata Piter.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo mengatakan, bahwa perlambatan ekonomi terjadi lantaran perang dagang yang tidak kunjung usai antara Amerika Serikat (AS) dan Cina, juga adanya ketidakpastian brexit.

Perlambatan ekonomi dunia juga telah diingatkan oleh International Monetary Fun (IMF). Dody melihat, pada tiga Minggu lalu pertumbuhan ekonomi global memang sedang menurun karena ketidakpastian ekonomi yang menderanya,

“Saya meluhat dari sisi ketidakpastian itu relatif masih ada, dan lanjut sampai 2020,” ujar Dody.

Namun, menurut Dody, selama seminggu terakhir telah terjadi sentimen positif maupun negatif. Untuk sentimen positif adalah menurunnya tensi perang dagang antara AS dan China yang berdampak terhadap Purchasing Manager Index (PMI) Non Manufaktur AS yang mulai membaik.

Kondisi demikian, lanjut Dody, membuat negara-negara berkembang termasu Indonesia memberikan kepercayaan terhadap investor untuk menaruh uangnya di negara berkembang.

“Investor relatif confidence dengan perkembangan yang ada dan mulai mencari return paling besar untuk penempatan dananya dan muncul aliran modal yang masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia dalam jumlah yang banyak,” tukas dia.

Sebelumnya Presiden Jokowi diingatkan oleh Managing Director IMF, Kristalina Georgieva saat di KTT ke-35 ASEAN di Bangkok, Thailand pada Minggu, 3 November 2019, agar berhati-hati mengelola kebijakan ekonomi di tengah gejolak ekonomi.

Jokowi menjelaskan, kondisi ekonomi RI terbilang cukup kuat mengingat pertumbuhan ekonomi masih stabil di kisaran 5 persen. Sedangkan sejumlah negara lain tercatat sudah minus atau bahkan anjlok.

Meskipun demikian, Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyatakan pemerintah mau tidak mau harus berhati-hati dengan tren penurunan ekonomi global yang telah menimpa beberapa negara.

“Kita harus hati-hati dengan kondisi ekonomi saat ini. Ada perang dagang, brexit, negara-negara lain ada yang menuju atau bahkan sudah resesi,” ujar Jokowi.(din/fin)

  • Dipublish : 11 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami