Kabar RSUD dr Soetomo Tidak Menerima Pasien Covid-19, ini penjelasan Dirut RSUD dr Soetomo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

SURABAYA – Pihak RSUD dr Soetomo dibuat geger seharian Minggu (17/5). Sebab, beredar informasi bahwa rumah sakit yang dikelola Pemprov Jatim itu belum bisa menerima pasien Covid-19 untuk sementara waktu. Dalam kabar yang beredar tersebut disebutkan, penutupan itu disebabkan skrining di IGD rumah sakit. Informasi itu juga dikuatkan dengan munculnya pengumunan yang terpampang di depan pintu masuk IGD.

Direktur Utama RSUD dr Soetomo Dr dr Joni Wahyuhadi SpBS menyatakan, informasi tersebut tidak sepenuhnya benar. ’’Hanya ditutup sekitar 25 menit pada pagi (kemarin, Red). Mengapa? Kami melakukan disinfeksi ke seluruh ruangan,’’ ungkapnya. Artinya, pasien baru hanya menunggu sebentar, lalu ditangani. Joni menuturkan, langkah itu diambil sebagai bentuk sterilisasi area IGD.

’’Tadi ada 35 pasien yang belum masuk ruang isolasi khusus karena harus menunggu proses skrining itu. Nah, proses skrining dilakukan di IGD. Supaya pasien lain tidak tertular, kami lakukan disinfeksi ini. Begitu yang benar,’’ ujar dia.

Tertahannya pasien di luar IGD pun tidak berlangsung lama. Kemarin siang seluruh pasien dimasukkan ke ruang isolasi khusus. ’’Jadi, saya minta tolong jangan menyebarkan informasi tanpa konfirmasi. Bisa hancur semua ini,’’ kata Joni.

Dia geram dengan ulah sekelompok orang yang menyebarkan informasi secara asal sehingga membuat gaduh masyarakat. ’’Saya ndak habis pikir. Kok masih banyak orang seperti ini. Keterlaluan,’’ tegasnya.

Sebelum ini, rumah sakit juga pernah geger karena adanya kesimpangsiuran informasi yang beredar di masyarakat. ’’Kami sudah berjuang sekuat tenaga. Tolong jerih payah kami dihargai. Minimal dengan tidak membuat kegaduhan,’’ tuturnya.

Joni menjelaskan, langkah penutupan itu sebenarnya justru diambil karena melihat banyaknya pasien Covid-19 yang datang ke IGD. ’’Ini juga menjadi perhatian serius. Command Center 112 sering membawa pasien tanpa berkoordinasi dengan kami. Mereka sering meletakkan pasien begitu saja di IGD. Ini kan merepotkan sekaligus berbahaya,’’ terangnya.

Sebab, di IGD bukan hanya pasien Covid-19 yang ditangani. Ada pula pasien lain yang menunggu kamar. ’’Jangan asal main antar saja dong. Niat bagus itu baik. Tapi, prosedur juga penting. Harus ada koordinasi sebelumnya supaya kami bisa melakukan penanganan dengan baik dan benar,’’ kata Joni.

Dia mengakui, kerja seluruh tim medis terganggu dan terpecah dengan adanya pemberitaan seperti itu. Joni berharap diperlukan pertimbangan atau tabayun sebelum membeberkan informasi tersebut. Tujuannya, mencegah mispersepsi yang berkembang di masyarakat.

Saat ini seluruh pasien Covid-19 sudah teratasi di ruang isolasi khusus. Setidaknya ada lima ruangan dengan jumlah bed lebih dari 100 unit. ’’Sekarang sudah penuh semua. Kami mengorbankan beberapa ruangan untuk dialihkan ke penanganan Covid-19. Kurang berjuang apa lagi coba?’’ tegas Joni dengan nada kesal.

Dia menyatakan, sejak pagi hingga dini hari, tim medis bahu-membahu menangani pasien Covid-19. Bahkan, beberapa di antara mereka tidak bertemu dengan keluarga. ’’Pasien korona saat ini menjadi prioritas. Kami akan memberikan yang terbaik untuk menangani mereka,’’ tuturnya.

Ke depan, dia ingin masyarakat juga ikut andil dalam menyaring informasi yang berkembang. Selain itu, rekan media diharapkan bisa lebih berimbang dalam memberikan informasi kepada masyarakat. ’’Semua harus menjalankan tupoksi dengan baik dan benar supaya korona ini bisa cepat selesai,’’ tandas Joni. (jp)

  • Dipublish : 18 Mei 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami