Kabur Dari RSUD NTB, Pasien Suspect Korona Dirawat di Rumah

SIAGA: Petugas berjaga di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta, Rabu (4/3). RS itu menerima sepuluh pasien rujukan terkait virus korona. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
SIAGA: Petugas berjaga di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta, Rabu (4/3). RS itu menerima sepuluh pasien rujukan terkait virus korona. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MATARAM,-Pasien suspect Korona berinisial RO, 71 tahun yang kabur dari RSUD jalani isolasi di rumahnya. ”Kami memantau setiap hari, sudah tidak panas, obat-obatan kita berikan, kita jadikan ODP,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, di kantor gubernur NTB, kemarin (9/3).

Orang Dalam Pemantauan (ODP) merupakan pemantauan terhadap WNI maupun WNA yang datang dari negara terkena wabah virus Korona. Kondisi mereka harus dipantau selama 14 hari sekali pun tidak sakit.

Dalam kasus pasien RO, dr Eka menjelaskan, kondisinya harus dimaklumi sebab dia merupakan lansia. Ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi sikapnya. ”Dia sudah dimasukkan ke ruang isolasi IGD, pemeriksaan sudah selesai semua, tinggal pengambilan swab,” kata Eka.

Sesuai standar operasional prosedur (SOP), pengambilan sampel swab harus dilakukan di dalam ruangan isolasi. Tidak boleh dilakukan di luar atau ruang isolasi IGD. ”Tinggal itu (pengambilan sapel) yang belum dikerjakan,” katanya.

 

Seperti diberirakan sebelumnya Pasien suspect virus Korona berinisial R, 71 tahun kabur dari RSUD NTB. ”Saat pasien mau dipindahkan ke ruang isolasi rawat inap, dia menolak dan meninggalkan ruangan isolasi IGD,” kata Direktur RSUD NTB dr H Lalu Hamzi Fikri, Minggu (8/3).

Petugas sempat mengejar dan memintanya kembali, namun R tetap ingin pulang. ”Petugas berusaha melakukan komunikasi dan edukasi tapi pasien tidak bersedia dan pulang,” jelasnya.

Karena pasien menolak dimasukkan ke ruang isolasi, pihak RSUD tidak bisa memaksa. ”Dalam ketentuan ada hak pasien untuk menolak dilakukan tindakan medis,” imbuhnya. (lombokpost.jawapos.com)

  • Dipublish : 10 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami