Kapolres Kendari Dicopot, Bukan Karena Tewasnya 2 Mahasiswa UHO

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Pasca kematian 2 mahasiswa di Kendari, Sulawesi tenggara akibat demonstrasi, Polri kembali melakukan pencopotan kepada pejabatnya di wilayah tersebut. Kali ini Kapolres Kendari, AKBP Jemi Junaidi dimutasi dalam jabatan baru.

Mutasi tersebut tercantum dalam surat telegram nomor ST/2657/X/KEP./2019 tertanggap 7 Oktober 2019. Posisi Jemi akan digantikan oleh AKBP Didik Efrianto yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Wakatobi. Jemi diangkat dalam jabatan baru sebagai Kepala Bagian Pengendalian Personel Biro Sumber Daya Manusia Polda Kalimantan Tengah.

Sementara itu, AKBP Anuardi yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan dan Operasional Direktorat Lalu Lintas Polda Sulawesi Tenggara akan menggantikan posisi Didik sebagai Kapolres Wakatobi.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo membenarkan mutasi tersebut. “Ya betul,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Muhamad Yusuf Kardawi (kiri), mahasiswa Fakultas Teknik. Himawan Randi, (kanan), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Keduanya berasal dari Universitas Halu Oleo, Kendari. Mereka menjadi korban tewas ketika menggelar aksi protes terhadap penolakan RUU KUHP di Kendari.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara, AKBP Harry Golden Hart membantah pencopotan Jemi karena peristiwa tewasnya 2 mahasiswa saat unjuk rasa menolak RUU KUHP dan mendesak keluarnya Perpu KPK. Menurut dia, rotasi jabatan biasa dilakukan guna pembinaan karir.

“Tidak ada (kaitannya). Rotasi adalah sesuatu yang alami dalam suatu organisasi. Mutasi dalam organisasi Polri hal yang biasa dalam rangka tour of duty dan area, serta untuk meningkatkan kinerja organisasi,” tegas Harry.

Sebelumnya, kerusuhan terjadi pada Kamis (26/9) sekitar pukul 11.00 WITA ketika elemen mahasiswa di Kendari yang berjumlah 2.000 orang menggelar unjuk rasa. Demonstrasi ini awalnya berjalan damai. Bahkan orasi mereka sempat ditanggapi oleh Ketua DPRD.

“Setelah ada tanggapan dari ketua DPRD, tiba-tiba terjadi pelemparan batu kearah petugas dan anggota dewan,” ujar Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara Harry Golden Hart kepada JawaPos.com, Sabtu (26/9).

Akibatnya, pasukan pengamanan langsung melakukan aksi pembubaran dan mendorong masa menjauh dari gedung DPRD guna mencegah kerusuhan meluas. Sekitar pukul 16.00, aparat mendapat informasi ada korban dari pihak pendemo sebanyak lima orang.

Rincian lima korban tersebut adalah Randi, mahasiswa fakultas teknik Universitas Halu Oleo yang tewas dengan luka tembak, Yusuf, 19, kritis dengan luka parah di kepala dan akhirnya dinyatakan meninggali, serta 3 orang yang mengalami luka ringan dan sesak nafas.

Kerugian juga timbul dari aspek materil. Diantaranya rusaknya gedung DPRD karena lemparan batu, pos lantas terbakar, dan sejumlah kendaraan dibakar.

Pasca kerusuhan ini, Polri juga telah lebih dulu mencopot Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Pol Irianto. Dia dimutasi menjadi Irwil III Itwasum Polri. Sebagai penggantinya ditunjuk Brigjen Pol Merdisyam yang sebelum menempati jabatan Dirsosbud Baintelkam Polri. (jp)

  • Dipublish : 8 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami