Karantina Mandiri, Jamaah Umrah Masak Nasi Sendiri di Kamar Hotel

Dok Foto : (SAUDY MEDIA MINISTRY VIA AP)
Dok Foto : (SAUDY MEDIA MINISTRY VIA AP)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JaringanMedia.co.id – Jamaah asal Indonesia mulai menjalani rangkaian ibadah umrah hari ini (4/11). Kemarin (3/11) seluruh jamaah menjalani uji swab PCR di hotel masing-masing. Sempat beredar kabar bahwa tes swab PCR di hotel di Makkah tersebut dilakukan karena hasil tes swab dari Indonesia meragukan. Selain itu, diduga ada jamaah yang kedapatan keluar kamar saat masa karantina mandiri.

Namun, Kabid Umrah Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Zaky Z. Anshary membantah kabar tersebut. Zaky yang juga direktur utama travel PT Khazzanah Al Anshary sedang berada di Makkah untuk mengikuti kegiatan umrah perdana setelah dihentikan akibat pandemi Covid-19.

”Sejak di atas pesawat sudah ada formulir yang salah satu isiannya memberi tahu akan dilakukan tes swab di hotel menjelang pelaksanaan umrah,” kata Zaky dalam diskusi secara virtual kemarin. Dia memberikan keterangan tersebut sambil menjalani karantina mandiri di kamar hotel.

Zaky menjelaskan, memang sempat ada tiga orang yang dokumen PCR-nya diragukan otoritas Arab Saudi. Tetapi, setelah diperiksa ulang, akhirnya tidak menjadi masalah. Kondisi seluruh jamaah Indonesia sampai saat ini juga baik-baik saja.

Jamaah, tutur Zaky, tidak perlu kaget dengan kewajiban tes swab PCR di hotel pada H-1 kegiatan umrah. Sebab, kebijakan itu menjadi protokol pemerintah Saudi. Dia masih belum bisa memastikan siapa nanti yang menanggung biaya tes swab tersebut. Informasi yang dia terima, biaya tes swab di Saudi sekitar 500 riyal atau Rp 1,93 juta.

Sampai berita ini ditulis, pelaksanaan tes swab di hotel tempat jamaah menginap belum digelar. Setiap hotel wajib menyiapkan 10 persen kamarnya untuk tempat isolasi seandainya ada jamaah yang dinyatakan positif Covid-19. Selain itu, disiapkan satu lantai khusus untuk proses pengambilan sampel swab.

Pengalaman lain diceritakan Kabid Pengembangan Usaha dan Koperasi Amphuri Richan Mudzakar. Dalam diskusi virtual kemarin, bos Arminareka itu terlihat mengenakan pakaian ihram. Dia mengaku sudah berniat ihram ketika berada di pesawat. Tepatnya di atas wilayah Yalamlam yang berjarak sekitar 92 km dari Kota Makkah.

Ada baiknya, tutur Richan, jamaah mempersiapkan bekal untuk melakoni karantina mandiri di hotel selama tiga hari. Richan mencontohkan, dirinya membawa rice cooker dan beras untuk dimasak sendiri di kamar hotel. Bekal penanak nasi dan beras itu ternyata bermanfaat untuk mengganjal perut. Sebab, sarapan diantar ke kamar hotel sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Sedangkan makan siang diantar pukul 14.00.

Richan mengatakan, tidak ada masalah mengenakan kain ihram berhari-hari di kamar hotel. Meskipun AC-nya lumayan dingin. Tetapi bisa jadi bermasalah jika dilakukan jamaah usia lanjut. Jika terlalu sering kedinginan, bisa masuk angin atau malah demam.

Lebih lanjut Zaky mengungkapkan, sudah ada kesepakatan dari sejumlah asosiasi travel haji dan umrah untuk melakukan evaluasi bersama menjelang kepulangan nanti. Tujuannya untuk menyimpulkan apakah umrah di tengah pandemi dengan seluruh protokol kesehatan yang ketat bisa dijalankan masyarakat atau jamaah pada umumnya.

Sementara itu, jumlah jamaah umrah yang terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah di hari kedua kemarin menurun dibanding hari pertama Minggu (1/11). Kemarin penerbangan Saudia Airlines dari Soekarno-Hatta ke Jeddah diisi 150 orang dan 90 di antaranya jamaah umrah. Padahal, Minggu lalu jumlah jamaah umrah 250 orang. Sampai akhir Desember 2020 penerbangan dari Soekarno-Hatta ke Jeddah berlangsung setiap Minggu, Selasa, dan Kamis.

Terpisah, Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Oman Fathurahman meminta travel atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) memprioritaskan pemberangkatan jamaah umrah yang tertunda karena Covid-19. Oman mengungkapkan, sistem di Kemenag mencatat ada 26.328 orang yang tertunda keberangkatannya dan berusia 18 sampai 50 tahun. Sehingga mereka memenuhi kriteria usia yang ditetapkan pemerintah Saudi. (jp)

  • Dipublish : 4 November 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami