Karhutla Tahun Ini Diyakini Tak Lebih Parah Ketimbang 2018

DIKEPUNG API: Salah seorang personel BPBD Banjarbaru coba memadamkan api kebakaran hutan & lahan di wilayah Landasan Ulin pada Kamis (8/8) siang. Saat ini total luasan lahan di Banjarbaru yang terpapar Karhutla mencapai 70 hektare. (BPBD Banjarbaru for Radar Banjarmasin)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Meski sudah muncul sejak Maret lalu, intensitas kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) meningkat sejak Juli hingga Agustus sekarang. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, sejak awal 2019 sudah ada 66 kejadian Karhutla.

Kecamatan Landasan Ulin dan Liang Anggang menjadi wilayah terdampak paling dominan. Kasubbid Kedaruratan dan Logistik, BPBD Banjarbaru, Bahrani menyebut, luasan lahan yang terbakar sudah mencapai 70 hektare.

“Sampai sekarang ada 70 hektare dengan total kejadian Karhurla 66 titik. Namun untuk besaran luasan per titik tergolong masih kecil, paling 2-3 hektare,” katanya dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Sabtu (9/8).

Dalam sehari, kejadian bencana tahunan ini beragam. Dari mulai hanya sekali hingga menyentuh angka 7 kali dalam sehari.

“Beberapa hari tadi ada sampai 7 kali dan personel melakukan pemadaman sampai malam,” sambungnya.

Meski tampak intens, rupanya jika secara data, menurut Bahrani Karhutla tahun ini tergolong jinak. Sebab jika dikomparasikan pada 2018, ia yakin persentase Karhutla tahun ini bakal menurun.

Salah satu yang jadi tolok ukur adalah wilayah terparah tahun lalu. Yakni wilayah Bandara Syamsudin Noor, khususnya di Guntung Damar dan Tegal Arum sekitarnya.

“Tahun ini sampai per tanggal 7 Agustus, wilayah sana tidak ada kejadian Karhutla. Makanya kami sangat yakin Karhutla tahun ini lebih rendah ketimbang dahulu,” yakinnya.

Atas dasar itu, ia mengklaim wilayah Bandara masih aman dari kabut. Padahal pada tahun sebelumnya kabut asap di Bandara sangat berdampak.

Selain ancaman kesehatan, operasional penerbangan juga sempat terganggu gara-gara kabut asap. Adapun data 2018 lalu, Banjarbaru menjadi salah satu daerah yang terparah terpapar Karhutla.

Totalnya mencapai 650 hektare lahan yang terbakar dengan titik kejadian totalnya 266. Melihat berbagai upaya pencegahan, Bahrani optimistis Karhutla di Kota Idaman tak akan separah dahulu.

“Dari prakiraan puncak musim kemarau beberapa bulan mendatang juga akan berakhir. Nah, sampai sekarang ada 70 hektare yang terdata, tentu kalau dibanding sebelumnya (2018) masih lumayan jauh. Kami berharap semoga tidak ada peningkatan signifikan,” harapnya. (jp)

 

Sumber: jawapos.com

  • Dipublish : 10 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami