Kelompok Nelayan Tolak Bantuan Pertamina

Ketua Kelompok Nelayan Sipakkamase I Cempae, Asri Guntur
Ketua Kelompok Nelayan Sipakkamase I Cempae, Asri Guntur
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

PAREPARE– Warga nelayan terdampak tumpahan minyak di Perairan Cempae dan Lakessi, beberapa waktu lalu kecewa. Janji pihak Pertamina yang akan membantu warga terdampak, terutama nelayan, tak sesuai harapan. Karenanya, sebagian nelayan menolak bantuan tersebut. Pihak Pertamina memang telah menyalurkan bantuan alat nelayan sebagai ganti rugi tumpahan minyak yang berada di ring satu, yakni Kelurahan Lakessi dan Watang Soreang.

Namun, saat penyaluran bantuan, beberapa kelompok nelayan menolak bantuan. Ketua Kelompok Nelayan Sipakkamase II Cempae, Sabbang, menyampaikan alasan dirinya dan teman kelompoknya tidak menerima bantuan tersebut. Hal itu, katanya, tidak sesuai usulan nelayan. “Saya tolak karena cuma peti yang diberikan sementara yang kami butuhkan jaring milenium. Alasannya, anggaran tidak cukup,” katanya, di Cempae, kemarin.

Tidak hanya itu, Sabbang, juga mengungkapkan, dana yang digelontorkan Pertamina untuk membeli alat nelayan sangat minim hanya Rp5 juta per kelompok nelayan. Sedangkan, kelompok nelayan yang berada di Kelurahan Watang Soreang ada 12 kelompok, jumlahnya sama dengan ada yang di Kelurahan Lakessi. “Satu kelompok itu ada 10 orang,” katanya.

Senada dengan Sabbang, Ketua Kelompok nelayan Sipakkamase I Cempae, Asri Guntur, juga menyampaikan kekecewaannya kepada Pertamina yang ingin memberikan bantuan kepada rekan seprofesinya. “Jujur, ini sebenarnya bantuan pertama kali yang diberikan Pertamina. Kalau beli peralatan saja tidak cukup, apalagi beli perahu, makanya saya tolak. Kalau begini, sekalian tidak usah berikan bantuan,” ujar Asri.

Makanya, Asri meminta bantuan kepada pihak terkait, terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Parepare agar mengawal terus hal ini. Asri menuturkan, pada saat tumpahan minyak tersebut, hampir setengah bulan dirinya dan beberapa nelayan yang lain tidak melaut dan perolehanya turun hingga 50 persen. Kelompok nelayan di Lakessi, juga melakukan hal sama dengan nelayan di Cempae. Tahir, salah satu kelompok nelayan di Kelurahan Lakessi, menolak diberi satu jaring yang akan digunakan kelompoknya yang berjumlah lima orang.

Apalagi spesifikasi jaring yang diberikan sangat di bawah standar. “Lima orang menggunakan satu jaring, entah bagaimana cara pengaturannya. Makanya kami tolak dan mengembalikan,” ungkapnya. Merespons hal tersebut, Ketua Komisi III DPRD Parepare, Iqbal Chalik, mengaku sangat kecewa akan jumlah dana yang disalurkan tersebut. “Kami DPRD sangat kecewa akan hal ini. Kami tetap menuntut pertamina memenuhi janji sesuai pernyataan Dirut Pertamina pusat saat RDP di DPR RI lalu,” tegasnya.

Dirinya juga berinisiatif akan kembali melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan nelayan, dan Pertamina dalam membahas hal tersebut. “Kami sudah sampaikan ke Pimpinan Komisi VII DPR RI dan segera menindaklanjutinya. Saya akan bicarakan di internal komisi untuk mengundang nelayan,” lanjutnya.
Sayang, pihak Pertamina yang dihubungi terkait hal tersebut, baik melalui pesan WA dan telepon langsung, tak direspons. (mat/ade)

 

Sumber: parepos.fajar.co.id

  • Dipublish : 2 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami