Keluarga Korban Kapal Terbakar: Sampai Kapan Saya Menunggu Suami Saya

Sampai kemarin (26/8), kepulan asap masih membubung di KM Santika Nusantara yang terbakar di perairan Masalembu. (BASARNAS)
Sampai kemarin (26/8), kepulan asap masih membubung di KM Santika Nusantara yang terbakar di perairan Masalembu. (BASARNAS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tangis Rismiati Ningsih langsung pecah setelah Basarnas melakukan jumpa pers kemarin (26/8). Sebab, Supriyadi, sang suami, yang jadi salah satu korban KM Santika Nusantara yang terbakar di perairan Masalembu, Kamis (22/8), belum ketemu.

“Sampai kapan Pak saya menunggu suami saya?” kata Rismiati sambil menangis sembari tangannya tetap memegang foto Supriyadi.

Rismiati terakhir mendapat kabar dari sang suami pada Kamis (22/8) sekitar pukul 09.00. Saat itu Supriyadi mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Isinya, Supriyadi sudah berada di dalam KM Santika Nusantara.

Tepat pukul 15.00 kemarin, Basarnas menyampaikan hasil pencarian di sekitar kapal yang terbakar. Bangkai KM Santika Nusantara memang sudah terdeteksi dan ditemukan.

Namun, Basarnas tidak menyampaikan adanya temuan personel atau penumpang kapal yang masih tertinggal di sana.

Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Nugroho Budi Wiryanto menegaskan, sampai saat ini tim SAR gabungan masih bekerja untuk mencari korban. Namun, mereka memang belum menemukan korban lain.

Meski demikian, dia belum berani memastikan tidak adanya korban yang tertinggal. Sebab, Basarnas belum tahu kondisi di dalam kapal yang terbakar. Hal itu baru bisa dipastikan setelah kapal bisa dipadamkan dan didinginkan. ”Proses pendinginan itu nanti tugas perusahaan (PT Jembatan Nusantara, Red),” tegasnya.

Sampai saat ini, sudah ada dua laporan ke Basarnas. Selain laporan Rismiati tadi, Arwas juga melapor karena dua hari lalu Naodah, kerabatnya asal Madura, belum juga ketemu. Sementara itu, jumlah korban yang dievakuasi Basarnas sudah mencapai 311 orang. Jumlah yang jauh melampaui data manifes perusahaan pelayaran yang hanya 277 orang.

Kepala Bidang Keselamatan Berlayar Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Syahrul Nugroho menjelaskan, jumlah penumpang yang dilaporkan perusahaan pelayaran itulah yang disetujui. “Kami tidak mungkin menghitung satu-satu,” katanya.

Alasannya, menghitung satu per satu dianggap tidak efektif. “Kapan kami menyetujui pelayaran kalau menghitung?” tegasnya.

Saat ditanya soal evaluasi mengenai perbedaan manifes kapal dan jumlah korban yang dievakuasi Basarnas, Nugroho enggan menanggapi. “Itu ranah pimpinan,” ujarnya.(jp)

 

Sumber: jawapos.com

  • Dipublish : 27 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami