Kemenhub Siapkan Penerbangan untuk TKI dan Pebisnis

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan penerbangan khusus untuk mengangkut WNI dari luar negeri dan pebisnis.

Hal itu disampaikan Menhub Budi Karya Sumadi setelah rapat terbatas virtual yang dipimpin Presiden Joko Widodo kemarin (27/4). Mengenai pemulangan WNI, terutama TKI, pihaknya menyiapkan enam klaster penerbangan. Yakni, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Timur Tengah, dan Eropa.

’’Kami hanya menyediakan satu tempat penerbangan menuju Jakarta,’’ terangnya. Kemudian, sesampai mereka di Jakarta, Kemenkes bisa menjalankan protokol kesehatan. KBRI nanti menyiapkan titik untuk menerbangkan para WNI dari setiap klaster.

Sementara itu, di dalam negeri, ada usul dari para pebisnis agar mereka tetap diperbolehkan terbang untuk urusan bisnis. Menurut Budi, pada prinsipnya, pihaknya setuju. ’’Kami menyediakan hanya 1 atau 3 flight. Tapi, protokol jangan di kami,’’ tutur mantan Dirut PT Angkasa Pura II itu. Bila terlaksana, akan diberlakukan hal yang sama pada angkutan darat dan laut.

Budi menambahkan, selama pemberlakuan larangan mudik, angkutan logistik harus tetap jalan. Terbukti, sampai saat ini, transportasi darat dan KA di bidang logistik tetap normal, bahkan meningkat sekitar 15 persen. ’’(Angkutan) laut kapasitasnya sama, turun 20 persen. Udara kapasitasnya sama, turunnya agak banyak lah. Tanya sendiri. Saya gak tega ngomongnya,’’ tambah Budi.

Sektor udara memang terkena imbas paling besar. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan pelayanan kargo.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/Inaca) menaksir, total kerugian maskapai nasional selama tiga bulan terdampak pandemi korona mencapai USD 1,56 miliar.

Ketua Umum Inaca Denon Prawiraatmadja menjabarkan, kerugian dari market internasional adalah USD 748 juta dan domestik USD 812 juta. ”Penurunan terasa sejak Februari, di mana revenue turun 9 persen, lalu Maret turun 18 persen, hingga April semakin turun ke 30 persen,” ujar Denon kemarin (27/4).

Penurunan penumpang domestik dan internasional tersebut terjadi di hampir semua bandara besar. Dengan penurunan tajam itu, hampir semua maskapai kini melakukan efisiensi operasional dengan merumahkan sebagian besar karyawan.

Sementara itu, untuk menjaga pemasukan, beberapa maskapai seperti Garuda Indonesia dan Lion Air tetap melayani penerbangan barang atau kargo. ”Ada pengecualian yang bisa melakukan kegiatan penerbangan, yaitu pimpinan negara, penerbangan darurat atau insidental, kemudian penerbangan yang melakukan kegiatan repatriasi dan kargo,” tutur Denon.

Denon menambahkan, dalam kondisi ini, insentif diperlukan untuk menyelamatkan industri penerbangan agar tetap eksis. Insentif tersebut meliputi keringanan yang berupa penangguhan bea masuk impor suku cadang, penangguhan biaya bandara dan navigasi, serta pemberlakuan diskon biaya bandara. ”Selain itu, yang kami harapkan adalah penundaan pembayaran PPh,” ucap dia. (jp)

  • Dipublish : 28 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami