Kementan Beri Pelatihan Pemupukan Berimbang, Diikuti Seluruh Penyuluh di Indonesia

Mentan Syahrul Yasin LImpo di Istana Negara
Mentan Syahrul Yasin LImpo di Istana Negara
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JARINGAN MEDIA, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar Training of Trainers (ToT) dengan bertema “Pemupukan Berimbang Tingkatkan Produktivitas dan Daya Saing Pertanian” secara online yang diikuti oleh penyuluh dari seluruh Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam arahannya menjelaskan saat ini dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tak ada yang tak bisa ditanam di Indonesia ini.

“Keuntungan kita matahari terus bersinar, awan membawa hujan, angin tidak pernah berhenti dan kita punya banyak sungai. Ada 273 juta orang yang butuh makan, namun mereka sudah terbiasa dengan pertanian,” papar Mentan Syahrul dari AWR Kanpus Kementan pada Jumat (23/4). Kendati begitu, Mentan SYL melihat ada satu kekurangan yakni ilmu yang lebih efektif agar pertanian kita lebih efisien.

“Inilah tugas pemerintah. Melalui Kostratani mari kita wujudkan petani yang sejahtera. Penyuluh tidak boleh membiarkan ada lahan menganggur yang tak menghasilkan uang. Usai panen langsung tanam lagi,” ucap SYL -panggilan Syahrul Yasin Limpo.

Sebagaimana diketahui, tahun ini sektor pertanian berhasil memperkuat PDB negara cukup tinggi. Dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, sektor ini terus tumbuh sebesar 16,4 persen. Selain itu, ekspor pun meningkat dari Rp 390,16 triliun menjadi Rp 450,79 triliun, dan nilai tukar petani (NTP) pun naik 103,25 persen. Sektor pertanian juga menyerap tenaga kerja 38,2 juta jiwa. Di sisi lain, khusus mengenai masalah pupuk, dia menegaskan tidak kelangkaan di lapangan. Sebab, yang terjadi adalah kekurangan.

BACA JUGA:  THR Bermasalah Pekerja Diimbau Adukan ke Disnaker

“Dalam RDKK yang dibuat, kebutuhan pupuk itu 24 juta ton. Sementara uang yang disiapkan negara hanya 7,8 juta ton. Jadi, bukan langka tetapi karena kurang,” ucap Mentan SYL. Mantan gubernur Sulawesi Selatan itu juga menjelaskan masalah pupuk itu uangnya tak ada di Kementan, melainkan di Kementerian Keuangan “Nilainya Rp 23 triliun. Kami dapat tambahan 3,4 juta ton, maka uangnya menjadi Rp 25 triliun.

Dengan penambahan itu maka pupuk saat ini yang tersedia 8,9 juta ton dari kebutuhan 24 juta ton,” kata SYL. Sementara urusan distribusi pupuk subsidi ada di Kementerian BUMN yang memiliki industri dan rantai distribusi sampai ke tingkat agen paling bawah.

“Saat ini distribusinya dipegang oleh PT Pupuk Indonesia. kami hanya meneruskan RDKK kalian saja. Saya sekarang sedang berusaha untuk bisa ditambah pupuk ini,” ucap Mentan SYL menegaskan. Oleh karena itu dia meminta agar penyuluh ikut berperan aktif mengawasi distribusi pupuk tersebut. Sebab, dia tidak ingin dipersalahkan akibat persoalan pupuk bersubsidi di lapangan.

“Saya tidak mau salahnya di kita, padahal yang main-main mereka. Pupuk subsidi itu untuk yang miskin, bukan perkebunan kaya. Tidak boleh ada korupsi. Di Kostratani bisa dilihat siapa yang dapat, siapa yang tidak. Kita harus jelaskan terbuka kepada rakyat apa yang ada. Jangan sampai mereka berharap, jangan sampai kita PHP,” terang Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menjelaskan pemupukan berimbang akan meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian.

Untuk itu, Dedi berharap ToT ini dapat menghasilkan setidaknya dua hal. Pertama adalah penguatan perencanaan RDKK. “Jadi, nanti penyuluh bisa all out untuk perencanaan RDKK. Kedua, dalam rangka implementasi pemupukan berimbang di lapangan,” ujar Dedi.

Pihaknya berharap peserta yang terdiri dari para penyuluh di seluruh Indonesia benar-benar dapat memahami agar mampu mengimplementasikan pemupukan berimbang. “Tentu ini terkait dengan efisiensi penggunaan pupuk,” ucap Dedi menegaskan. Pemupukan berimbang adalah pemberian sejumlah pupuk sesuai kebutuhan dan kesuburan tanah agar terjadi keseimbangan hara di dalam tanah, sehingga terjadi kondisi kondusif bagi tumbuh kembang tumbuhan.

“Kata kuncinya adalah keseimbangan hara di dalam tanah. Dengan begitu, tanaman akan menyerap unsur hara secara efektif, sehingga pertumbuhan produktivitas dan produksi tanaman akan maksimal.

Gunakan pupuk seperlunya saja, jangan berlebihan,” kata Dedi. Sebab, kata Dedi, ada beberapa komponen yang telah mengandung unsur hara seperti tanah, jerami hingga air irigasi juga ada unsur haranya. “Sebagian unsur hara, makanan tanaman, sudah disediakan tanah, jerami dan air irigasi. Penambahan pupuk, kekurangannya saja,” pungkas Dedi. (*/jpnn)

  • Dipublish : 24 April 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami