Kementan Dukung Penuh Ekspor Edamame dan Porang di Masa Pandemi

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memerkan produksi porang. Foto: Kementan
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memerkan produksi porang. Foto: Kementan
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id– Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Bambang menyebut pihaknya memberikan dukungan penuh dalam upaya peningkatan ekspor edamame dan porang di tengah pandemi Covid-19.

Dukungan ini sejalan dengan gerakan tiga kali lipat ekspor (gratieks) seperti diarahkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. “Kami sangat terbuka dan mendukung ekspor produk andalan seperti edamame dan porang.

Silakan menghubungi Barantan di daerah masing-masing untuk berdiskusi dan berkoordinasi apabila ada kendala,” ujar Bambang dalam webinar yang digelar Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN), Minggu (8/8).

Bambang menjelaskan pihaknya berupaya meningkatkan ekspor melalui berbagai kegiatan gratieks, peningkatan informasi, dan menjalin kerja sama dengan entitas terkait baik di pusat maupun daerah. Harapannya agar dapat menambah kemanfaatan atau kesejahteraan bagi petani dan pelaku argobisnis.

Presiden Direktur PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT) Erwan Santoso menjelaskan bahwa mereka mulai membudidayakan edamame sejenis kacang-kacangan yang memiliki protein dan antioksidan tinggi.

Semenjak 2015, GMIT membeli edamame dari para petani mitra dan menjualnya ke pasar domestik. Jenis produk edamame untuk pasar domestik antara lain edamame segar, edamame beku (edashi), mukimame (edamame kupas). Di pasar ekspor, perusahaan menjual produk edamame beku, mukimame, dan okra beku.

“Tren pasar ekspor edamame sangatlah bagus. Di kala pandemi, ada kenaikan permintaan di negara tujuan ekspor. Baru tahun lalu, kami mulai ekspor edamame,”ujar Erwan.

Di dalam negeri, produk edamame segar menjadi pilihan konsumen yang sebagian besar diserap kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Pilihan produk segar menunjukkan pertumbuhan ketika munculnya pandemi Covid-19.

“Sekarang ini, konsumen beralih kepada produk segar. Perusahaan dapat menjual ratusan ton edamame segara ke berbagai kota besar terutama Bali. Sebab, banyak wisatawan terutama asal Jepang yang mengunjungui Bali,” ujarnya..

Ketua DPW Pegiat Petani Porang Nusantara Deny Welianto mengatakan bahwa saat ini belum ada standarisasi harga porang secara nasional.

“Itu yang menjadi problem bagi petani untuk pengembangan budidaya porang secara masif,” kata dia. Selain itu, serapan pasar, tidak ada keseluruhan pabrik yang ada di wilayah tertentu.

Saat ini ada kurang lebih sekitar 18-19 pabrik yang terpisah-pisah dan itu akan membuat jarak mobilisasi petani menjadi lebih berat, atau menambah biaya post produksi ketika panen.

“Di sektor budidaya, untuk mulai budidaya porang itu tidak harus skala besar atau satu hektare dua hektare. Memulai budi daya porang itu berkaitan dengan budget dan target,” kara Deny. (jpnn/jm)

  • Dipublish : 9 Agustus 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami