Kementerian Koperasi dan UKM Bubarkan 81.686 Koperasi

Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Dalam empat tahun terakhir, sebanyak 81.686 koperasi di Indonesia sudah dibubarkan. Pembubaran terbesar terjadi pada 2016 sebanyak 45.629 koperasi. Dilanjutkan 2017 sebanyak 32.778 koperasi, kemudian 2018 sebanyak 2.830 koperasi. Pada 2019 lalu, sebanyak 449 koperasi sudah dibubarkan.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan mengatakan dari sekitar 25 ribuan jumlah koperasi, kini tinggal 13 ribu koperasi. Artinya, sudah hampir 50% dibubarkan atau membubarkan diri. “Saat ini, jumlah koperasi yang ada di Indonesia 126 ribuan,” ujar Prof Rully, Jumat (14/2).

Rully menekankan bahwa pihaknya akan terus melakukan seleksi. “Dengan seleksi ini, koperasi di Indonesia kini dalam kondisi lebih baik,” tegas dia.

Meski jumlahnya menjadi lebih kecil, namun bagi Rully yang terpenting adalah kualitas dari koperasi dan benefit yang diterima anggotanya. “Untuk itu, kami akan terus menggenjot koperasi untuk bermanfaat bagi anggotanya,” tandas Rully.

Selain itu, Rully juga menegaskan, koperasi tidak bisa dilepaskan dari eksistensi UMKM. Apalagi ke depan, UMKM didorong untuk menjadi anggota koperasi. Begitu pun sebaliknya, anggota koperasi didorong untuk menjadi pelaku usaha.

Sebab dengan berkoperasi, menurut Rully, UMKM di Indonesia akan lebih memiliki daya saing. Sebab, jika melihat kinerja ekspor UMKM di Indonesia, masih terbilang kecil di angka 14% karena lemahnya daya saing.

“Kita harus mengubah mindset, kalau koperasi itu skala usaha kecil. Jangan salah, jumlah koperasi besar di Indonesia 0,03% , lebih tinggi dibanding pengusaha besar yang hanya 0,01%,” kata Rully.

Untuk 2020 ini, Kemenkop dan UKM sudah menyiapkan dana bergulir sebesar Rp1,8 triliun. Dana tersebut terutama diperuntukkan bagi koperasi yang bergerak di sektor riil, seperti kerajinan, busana, hingga sektor riil yang menggunakan teknologi tinggi.

“Koperasi seperti apa yang bisa mendapatkan dana itu tentunya harus memenuhi sejumlah persyaratan. Namun tentunya, kita berupaya agar persyaratan itu tidak memberatkan,” pungkas Rully.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memgatakan bahwa produk yang dihasilkan koperasi diharapkan tidak kalah dengan ritel modern maupun produk pabrikan. Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru merupakan koperasi yang sedang tumbuh dan beranggotakan 24 orang ibu-ibu. “Mereka memproduksi aneka produk, mulai dari makanan, minuman, hingga kain,” ucap Teten.

Menurut Teten, produk-produk tersebut sangat potensial untuk dikembangkan dan bisa meningkatkan ekonomi para anggotanya. “Koperasi ini sangat berpotensi untuk dikembangkan dalam skala lebih besar dengan keanggotaan lebih banyak,” tegas Teten.

Menkop Teten pun memberikan kiat agar koperasi itu berkembang pesat. Yaitu, melalui sistem produksi berantai. Selain itu, memanfaatkan pembiayaan perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan sistem mengikuti pertumbuhan usaha.

Teten juga meminta produk yang dihasilkan Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru, harus berbasis pada unggulan daerahnya, agar suplai bahan baku lokal tercukupi. “Saya mendorong produk unggulan saat ini harus berbasis value base comodity,” kata Teten.

Apalagi, bagi Teten, Kalimantan sangat kaya dengan buah-buahan, kayu-kayuan dan herbal. Itu bisa menjadi produk unggulan disini. Dimana dalam pengembangan usahanya, dapat bermitra dengan market atau pasarnya. Apalagi dengan adanya platform online Wako yang dapat menghubungkan anggota koperasi dengan 1200 warung di Kalimantan Selatan.

Teten optimis, jika saran tersebut dijalankan, maka akan terhubung dan dapat meningkatkan ekonomi. Sehingga nantinya, tidak kalah dibandingkan ritel modern maupun produk pabrikan. (fin/jm)

  • Dipublish : 15 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami