Kenaikan Harga Ayam Bikin Inflasi Juni 0,18 Persen

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada Juni 2020 sebesar 0,18 persen. Hasil data tersebut berdasarkan pemantuan BPS di 90 kota pada Juni ini.

“Dengan inflasi tersebut, maka inflasi pada Januari hingga Juni 2020 sebesar 1,09 persen dan inflasi tahunan sebesar 1,96 persen,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, kemarin (1/7).

Lebih jauh dia menjelaskan, dari 90 kota yang diobservasi BPS sebanyak 76 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi. Adapun inflasi tertinggi terjadi di Kendari sebesar 1,33 persen dan terendah di Makassar 0,01 persen.

Sementara, kata dia, inflasi terendah terjadi di Makassar sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Ternate dengan -0,34 persen dan terendah di Padang Sidempuan sebesar -0,02 persen.

Inflasi sebesar 0,018 persen, lanjut dia, disebabkan kenaikan harga daging ayam yang sebesar 0,14 persen. Kenaikan harga daging ayam ras ini terjadi di 86 kota. Kenaikan tertinggi di Gunungsitoli sebesar 41 persen dan Lhokseumawe 37 persen.

Inflasi juga disebabkan kenaikan harga telur ayam ras yang sebesar 0,04 persen. Sebaliknya, harga komoditas yang turun menyebabkan deflasi yaitu bawang putih, cabai merah, hingga cabai rawit. “Penurunan harga bawang putih berikan andil inflasi deflasi 0,04 persen, cabai merah 0,03 persen dan beberapa bumbu-bumbuan seperti cabai rawit, minyak goreng, gula pasir 0,01 persen,” ujarnya.

Selain komoditas pangan, inflasi juga disebabkan oleh sektor transportasi sebesar 0,05 persen. Untuk transportasi udara, yakni kenaikan tarif pesawat menyebabkan inflasi 0,02 persen. Sedangkan transportasi antarkota dan ojek online juga menyebabkan inflasi dengan andil 0,01 persen “Kenaikan angkutan udara ini terjadi di 24 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) misalnya saja kenaikan tertingginya di Ternate, ada kenaikan 20 persen,” paparnya.

Untuk sektor informasi, komunikasi, dan jasa keuangan terjadi deflasi yang sangat kecil namun tak berdampak ke deflasi. Kemudian makanan dan minuman restoran terjadi inflasi 0,28 persen dengan andil 0,02 persen. “Makanan dan minuman restoran terjadi inflasi 0,28 persen dan berikan andil 0,02 persen karena di sana ada kenaikan untuk sub kelompok jasa pelayanan makanan minuman,” jelasnya.

Menurutnya, pergerakan inflasi Januari-Juni 2020 ini berbeda dengan periode yang sama tahun lalu di mana inflasi pada bulan tersebut rendah. Padahal, seharusnya tinggi mengingat ada dua momen, yakni Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Rendahnya inflasi tersebut karena adanya pandemi Covid-19. “Pada Ramadan dan Idul Fitri pada April dan Mei, inflasi tahun ini flat. Namun satu bulan setelah Lebaran, pada Juni ini mengalami kenaikan sedikit sebesar 0,18 persen,” ucapnya.

Terpisah, ekonom senior Universitas Perbanas sekaligus Direktur CORE Indonesia Piter Abdullah menilai inflasi pada Juni dan bulan-bulan sebelumnya memang telah diprediksi. “Iya, inflasi tahun ini diperkirakan di kisaran 2,5 persen. Lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hal ini diakibatkan adanya pademi Covid-19 yang memangkas daya beli dan permintaan,” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (1/7).

Piter menjelaskan, bahwa pelonggaran PSBB tidk bisa sepenuhnya bisa mengembalikan perekonomian seperti normal. Sebab pelonggaran tersebut hanya memberikan napas kepada sektor dunia usaha agar tidak semakin tertekan. “Pelonggaran juga tidak mengembalikan mereka yang kehilangan income karena kena PHK. Artinya, daya beli mereka tetap terpangkas. Akibatnya permintaan tetap menurun sehingga inflasi tetap terdorong ke bawah,” ujarnya.

Sementara peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi menilai inflasi 0,18 persen pada Juni dikarenakan adanya tekanan inflasi dari sisi suplly, terutama yang berkaitan dengan transportasi dan distribusi beberapa komoditas yang terganggu karena pembatasan mobilitas orang dan barang antarprovinsi. Di sisi lain, ada tekanan inflasi dari sisi demand yakni adanya penerapan new normal. Kondisi ini aktivias masyarakat lebih leluasa ketimbang masih diterapkan PSBB. “Jadi, inflasi 0,18 persen pada Juni ini bukan karena daya beli yang membaik,” pungkasnya. (din/fin)

 

  • Dipublish : 2 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami