Kenangan Masuk ke KRI Nanggala-402

KESEMPATAN LANGKA: Kru kapal selam KRI Nanggala-402 saat mengecek ruang mesin pada 6 September 2012. (DITE SURENDRA/JAWA...
KESEMPATAN LANGKA: Kru kapal selam KRI Nanggala-402 saat mengecek ruang mesin pada 6 September 2012. (DITE SURENDRA/JAWA...
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JARINGAN MEDIA, SURABAYA — Wartawan Jawa Pos THORIQ S. KARIM dan fotografer DITE SURENDRA pernah diizinkan melihat langsung bagian dalam KRI Nanggala pada 2012. Mengunjungi ruangan demi ruangan dan menyaksikan gambaran keseharian di dalamnya. Berikut petikan ulang cerita dan foto mereka.

Cara masuk kapal selam berbeda dengan kapal permukaan. Kami ingat betul, kalimat yang kali pertama diucapkan Suraji adalah siapkan mental. ”Jangan dibayangkan seperti kapal perang yang biasa dilihat orang,” ungkapnya kala itu.

Pengalaman tersebut kami rasakan ketika KRI Nanggala-402 masih bersandar di dermaga Koarmatim (sekarang Komando Armada II) di Tanjung Perak, Surabaya. Pintu masuk berada pada bagian punggung kapal yang dibuat pada 1977 tersebut. Suraji mempersilakan saya masuk lebih dulu.

Ruang pintu itu berbentuk elips. Diameternya sekitar 50 sentimeter alias hanya cukup untuk satu tubuh orang dewasa. Dindingnya terbuat dari besi. Karena itu, perlu berhati-hati saat naik atau keluar dari kapal melalui lorong tersebut. Salah sedikit, tubuh bisa terbentur dinding yang terbuat dari besi.

Kala itu kami membayangkan, pada kondisi darurat, awak buah kapal harus tenang. Pintu keluar hanya cukup dilewati satu orang. Penyelamatan diri harus ekstrasabar. Selain itu, awak buah kapal harus mengatur siasat waktu muncul ke permukaan air agar tidak mengalami dekompresi. Cukup berisiko.

Perlahan, kaki kami menuruni tangga di lorong pintu masuk tersebut. Kami menuruni sekitar 10 anak tangga. Lalu, berganti ke tangga lainnya. Dari atas, Suraji memberi aba-aba. ”Tangga satunya untuk masuk ke dalam,” ujarnya.

Kami pun mengikuti instruksi tersebut. Anak tangga berikutnya tidak sampai ke lantai. Hanya menggantung. Selesai menginjak anak tangga terakhir, kaki saya arahkan ke lantai. Selanjutnya, saya menunggu Suraji yang menyusul masuk kapal itu.

Untuk kali pertama, saya masuk ke ruang kapal selam. Memang benar yang diungkapkan Suraji. Harus siap mental. Saya bagai berada di lorong lemari. Tak lama, Serma Suraji sampai di dalam kapal. Dia melihat raut muka saya yang agak aneh. Dia hanya tersenyum. ”Coba tebak ini ruangan apa?” tanyanya saat itu.

Ruangan yang dimaksud adalah tempat saya memijakkan kaki kali pertama di ruangan tersebut. Spontan, saya menjawab bahwa itu ruang tamu. Dia tidak membenarkan. ”Ini ruang makan,” jawab dia.

Luasnya 50 x 100 sentimeter. Sepintas, tidak ada meja di ruangan tersebut. Suraji lalu menarik papan yang menempel di dinding kapal tersebut. Sekali tarik, papan itu sudah menjadi meja. ”Nah, ini mejanya. Awak buah kapal sering melepas penat di ruangan ini,” jelasnya.

Suraji lantas mengajak kami menuju ruang berikutnya. Seperti memasuki lorong dengan lemari di kanan dan kiri. Panjang lorong itu hanya 4 meter. Lebarnya tidak lebih dari 40 sentimeter. Kalau ada awak buah kapal yang bersimpangan, keduanya harus memiringkan badan.

Suraji membuka salah satu benda yang menyerupai lemari pada sisi kiri. Luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi. Ada meja dari besi. Di atasnya terdapat kotak yang menyerupai tabung. ”Ini ruang dapur,” ucapnya.

Dia menjelaskan, meja besi itu adalah wajan. Lalu, kotak di atasnya merupakan tempat pembuangan asap. ”Di ruang ini, asap tidak boleh menyebar,” tegas dia.

Maklum, ruang dalam kapal selam berukuran sekitar 15 x 2 meter. Oksigen juga terbatas. Awak buah kapal yang bertugas memasak sudah paham. Mereka sudah terlatih memasak dengan meminimalkan asap dari wajan tersebut. ”Kompornya juga elektronik. Jadi, tidak ada pembakaran,” ujarnya.

Saat saya masih takjub dengan kondisi di sekitar ruangan itu, Suraji tiba-tiba berjongkok. Dia menarik lantai dapur yang terbuat dari lempengan besi. Saat lempengan itu dibuka, tampak dua lemari di bawah ruangan tersebut. ”Itu tempat bahan makanan dan lemari es,” terangnya.

Kapal Selam KRI Nanggala-402 saat di pangkalan Ujung, Surabaya pada 2012. Pada Rabu (21/4), kapal selam buatan Jerman itu dikabarkan menghilang di Utara Bali. (Dite Surendra/Jawa Pos)Lorong itu hanya cukup dimasuki satu orang. Saya berpikir, pola kehidupan di kapal selam harus dipenuhi rasa kekeluargaan. Ruangan sempit dan antarawak buah kapal harus saling membantu. Mereka harus saling menjaga emosi.

Selesai melihat dapur, Suraji ganti menunjukkan lemari pada sisi kanan. Ruangan ini agak lebar. Sekitar 200 x 40 sentimeter. Ruangan tersebut adalah tempat tidur untuk komandan kapal. Suraji tidak menjelaskan lebih lanjut ruang kamar tersebut. Dia lalu menunjukkan kotak menyerupai lemari yang berada sejajar dengan ruang dapur. Saya melihat ke dalam ruangan itu dan langsung bisa menebak. Ada kloset dan shower di ruangan tersebut. ”Ini kamar mandi,” ujarnya.

Tapi, kamar mandi di kapal selam tidak seperti kapal permukaan. Bisa jadi, kamar mandi hanya digunakan untuk buang air kecil dan besar. Itu pun kalau sudah tidak mampu menahannya. Maklum, ketersediaan air kapal selama berlayar sangat terbatas.

Selesai menjelaskan lorong, Suraji mengajak ke tempat paling ujung. Ruangan ini relatif besar. Banyak perangkat elektronik. Itu ruang kemudi. Ada beberapa layar monitor, ruang periskop, dan ruang kontrol kemudi.

Di ruangan itu juga terdapat meja untuk berkoordinasi terntang perencanaan perjalanan, kondisi arus, dan beragam permasalahan lainnya. Suraji tidak menjelaskan lebih detail karena itu merupakan rahasia internal awak kapal tersebut.

Saya bertanya tentang ruangan di bawah. Suraji mengatakan hanya untuk mesin, baterai, gudang makanan, dan tempat penyimpanan lainnya. Tidak ada ruang untuk awak buah kapal. Penghuni kapal berada di bagian tengah atau yang saya tempati kala itu.

Lalu, di mana mereka tidur? Suraji mengajak saya kembali ke ruang semula. Yakni, ruang makan. Dia menunjukkan lipatan papan yang menempel pada dinding. Ditariknya lipatan itu sehingga membentuk papan data bertingkat. ”Awak buah kapal tidur di sini,” ungkapnya.

Tempat tidur itu hanya cukup ditempati 20 orang. Padahal, awak buah kapal berjumlah lebih dari 40 orang. Suraji menyatakan bahwa jam tidur digilir. Sebagian tidur, sebagian berjaga. Itu bergantian selama berlayar.

Lalu, bagaimana membedakan malam dengan siang? Suraji menunjukkan lampu pada salah satu atap ruangan tersebut. Lampu itu berwarna merah. Lampu menyala saat siang dan mati saat malam.

Saya sempat nyeletuk, apakah bisa ibadah salat berjamaah? Terutama salat Jumat. Sebab, dibutuhkan tempat yang luas. Suraji tersenyum. Dia lalu memanggil dua rekan di dalam kapal tersebut. ”Bantu saya melipat semua partikel,” pintanya.

Mereka lantas melipat partikel di ruangan tersebut. Pembatas kamar, dapur, meja, dan tempat tidur, semua dilipat. Saya terkejut. Sekat-sekat itu menyingkir sehingga ruangan tampak lebih luas. ”Kami beribadah bersama di ruangan ini,” ujarnya.

Suraji menegaskan, pelayaran kapal selam lebih berisiko. Awak buah kapal selalu pasrah. Kalau ada gangguan dengan kapal, sulit mendeteksinya. Sebab, kapal berada di bawah permukaan laut. Tidak tampak.

Upaya penyelamatan diri juga berisiko. Karena itu, awak buah kapal selalu mengutamakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. (jpc)

  • Dipublish : 24 April 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami