Kerusuhan Polsek Ciracas: 29 Tersangka, Semua dari TNI-AD

Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur dibersihkan petugas agar tetap bisa melayani masyarakat. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur dibersihkan petugas agar tetap bisa melayani masyarakat. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Sebanyak 29 personel TNI Angkatan Darat (AD) ditetapkan sebagai tersangka kasus perusakan Polsek Pasar Rebo dan Polsek Ciracas, Jakarta Timur. Tapi, insiden tersebut ternyata tak cuma melibatkan prajurit dari matra darat.

Danpuspom TNI Mayjen TNI Eddy Rate Muis mengakui adanya indikasi keterlibatan prajurit dari matra laut dan udara. Itu disimpulkan setelah Puspom TNI bersama tenaga ahli yang mereka miliki meneliti sejumlah rekaman CCTV (closed circuit television).

Berapa personel TNI-AL dan TNI-AU yang diindikasikan terlibat tersebut? Temuan sementara, jumlah mereka delapan orang. Terdiri atas tujuh prajurit TNI-AL dan satu prajurit TNI-AU. ”Baru sebatas delapan orang (terduga pelaku di luar TNI-AD) di sekitar TKP (tempat kejadian perkara). Apa dan bagaimana keterlibatannya masih pemeriksaan,” kata Eddy dalam jumpa pers di markas Pusat Polisi Militer TNI-AD (Puspomad) di Jakarta kemarin (3/9).

Untuk mendapat kepastian, Puspom TNI sudah berkoordinasi dengan TNI-AL dan TNI-AU. Dia menyebutkan, pihaknya sudah mengontak komandan satuan delapan prajurit tersebut.

Jenderal bintang dua TNI-AD itu memastikan, pihaknya akan memeriksa mereka. ”Kami sedang proses untuk menghadirkan yang bersangkutan,” kata Eddy.

SASARAN AMUK MASSA KERUSUHAN: Sebuah mobil menjadi sasaran perusuh di Polsek Ciracas, Jakarta Timur. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Bila benar terlibat, pihaknya akan memproses mereka sesuai ketentuan yang berlaku. Dirinya sudah mendapat perintah langsung dari Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto untuk mengusut tuntas kasus tersebut. ’’Siapa pun yang terlibat, dari instansi mana pun juga, dari matra mana pun juga,” ujarnya.

Sampai kemarin (3/9), sudah ada 29 tersangka. Seluruhnya merupakan personel TNI-AD. Dari Arundina, penyidik menelusuri aksi tak terkendali tersebut sampai ke Polsek Ciracas, Jakarta Timur. Mereka mendapat puluhan laporan dan temuan yang terus didalami.

Sesuai janji Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, Komandan Pusat Polisi Militer TNI-AD (Danpuspomad) Letjen TNI Dodik Wijanarko membeber pekerjaan yang sudah mereka lakukan selama kurang lebih satu pekan.

Kepada awak media di Jakarta kemarin, Dodik menyebutkan, sudah 51 personel TNI-AD yang dipanggil. ”Dinaikkan statusnya sebagai tersangka dan sudah diajukan penahanan sebanyak 29 personel,” kata Dodik dalam jumpa pers yang sama.

Merujuk laporan masyarakat dan keterangan saksi yang menyebut jumlah personel TNI yang beraksi Sabtu dini hari lalu (29/8) lebih dari seratus orang, bukan tidak mungkin angka tersebut akan terus bertambah. ”Proses penyidikan masih terus berjalan sampai tuntas semuanya,” tegas Dodik.

Jenderal bintang tiga TNI-AD itu menyatakan, pihaknya sudah menggali keterangan tersangka. Mereka mendapatkan beberapa motif di balik aksi tersebut.

Di antaranya, para tersangka terprovokasi oleh berita bohong yang disebar Prada Muhammad Ilham. Berita bohong tersebut lantas memotivasi rekan-rekan Ilham untuk membalas pelaku pengeroyokan.

SASARAN AMUK MASSA KERUSUHAN: Petugas mengevakuasi mobil yang menjadi sasaran perusuh di Polsek Ciracas, Jakarta Timur. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Selain itu, jiwa korsa terhadap Ilham disebutkan sebagai motif para pelaku berbuat onar. Jawaban yang tidak memuaskan dari petugas polsek, lanjut Dodik, diduga turut pula melatari aksi tersangka di Polsek Ciracas.

”Mereka datang ke sana (polsek) menanyakan, jawabannya MI kecelakaan tunggal. Itulah yang mungkin menyebabkan (perusakan polsek) itu,” bebernya.

Atas perbuatan tersebut, para tersangka dikenai dua pasal sekaligus. Yakni, pasal 170 KUHAP dan pasal 406 KUHAP. Ancaman hukuman masing-masing pasal itu adalah 5 tahun 6 bulan penjara dan 2 tahun 8 bulan penjara. ”Pasalnya menyesuaikan peran dan perbuatan yang dilakukan,” kata Dodik.

Khusus Ilham, sampai kemarin penyidik belum menaikkan statusnya menjadi tersangka. Alasannya, yang bersangkutan masih dalam perawatan di Rumah Sakit Ridwan Meuraksa.

Ilham mendapat perawatan intensif lantaran terluka setelah mengalami kecelakaan tunggal di Arundina. Berdasar hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan TNI-AD dan Polres Jakarta Timur, hasil visum, rekaman CCTV, serta keterangan sembilan saksi, Ilham tidak dikeroyok siapa pun. Namun demikian, dia malah melapor kepada rekan-rekannya menjadi korban pengeroyokan.

Laporan tersebut yang kemudian memicu ratusan prajurit TNI mengamuk. Karena itu, meski belum ditetapkan, sangat mungkin Ilham juga menjadi tersangka. Hanya, pasal yang dijeratkan kepada Ilham bisa jadi berbeda dengan pasal yang sudah diterapkan kepada 29 orang tersangka. Sebab, Ilham tidak ikut dalam aksi yang dilakukan para tersangka.

Dodik sudah menyampaikan indikasi penerapan pasal berbeda terhadap Ilham. ”Prada MI (dengan) tersangka lain (bisa dijerat) menggunakan pasal yang tidak sama,” imbuhnya.

Yang pasti, mantan staf khusus panglima TNI itu menegaskan, pihaknya memastikan pasal-pasal tersebut mengikat. Sehingga memenuhi syarat penetapan tersangka dan bisa diproses hukum sampai berkekuatan hukum tetap.

SASARAN AMUK MASSA KERUSUHAN: Kendaraan operasional polisi ikut menjadi sasaran perusuh di Polsek Ciracas, Jakarta Timur. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Sementara itu, Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menyampaikan, pihaknya masih terus menginventarisasi kerugian akibat aksi ratusan prajurit TNI di Jakarta Timur. Posko pengaduan yang berada di Koramil 05/Kramat Jati masih terbuka. Mereka siap menerima laporan dari mana pun. Dudung menjamin setiap laporan yang diterima akan ditindaklanjuti.

Apabila laporan itu terbukti benar, ganti rugi langsung diberikan. Berikut dengan santunan dari TNI-AD. ”Ganti rugi itu atas seizin pimpinan TNI-AD. Itu dilakukan untuk membantu pemulihan perekonomian, pemulihan kesehatan, dan pemulihan psikologis sosial,” bebernya.

Pihaknya tidak mengelak sedikit banyak insiden tersebut memengaruhi pandangan masyarakat terhadap TNI. Untuk itu, perlu dilakukan pemulihan psikologi masyarakat. Dengan begitu, kepercayaan masyarakat kepada TNI pulih kembali. ”Kejadian tanggal 28 (yang puncaknya 29 dini hari) dilakukan oleh segelintir oknum TNI yang tidak bertanggung jawab,” jelas Dudung. (jp)

 

  • Dipublish : 4 September 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami