Konsep Pancasila Ditawarkan untuk Perdamaian Korut-Korsel

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Dalam pidatonya di Seoul, Korea Selatan, Kamis (29/6), Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri menyetujui, musyawarah dan mufakat, untuk mendorong perdamaian Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) ke arah yang lebih baik.

Menurutnya, musyawarah mufakat merupakan metode demokrasi yang ada di Pancasila, yang mencerminkan tindakan afirmasi negara kepada rakyat.

“Saya menawarkan kembali metode demokrasi yang ada di Pancasila, yaitu musyawarah dan mufakat. Saya sangat berharap setelah perdamaian Semenanjung Korea, segera mendapat persetujuan dengan kesepakatan baru, yang perlu langkah-langkah konkret kerja sama antardua negara,” kata Megawati.

Putri Proklamator RI, Soekarno ini menjelaskan, musyawarah mufakat adalah prinsip demokrasi yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara dasar Indonesia. Lima prinsip yang menjadi penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu ketuhanan Yang Maha Esa, nasionalisme, internasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial.

“Musyawarah mufakat adalah suatu metode komunikasi politik yang membuka ruang dialog terbuka tanpa hasrat dominasi terhadap pihak lain. Tema-tema yang telah disetujui, lalu dibicarakan tidak dengan paradigma yang disetujui dan dihargai,” terangnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Korea Selatan Lee Nak Yeon menyatakan, topik pembicaraan di DMZ adalah hal menarik. Menurutnya, penyebab Korut dan Korsel sudah lebih dari 70 tahun, akhir-akhir ini ada perubahan lebih baik.

“Memang belum sempurna, tetapi kesadaran belum dimulai,” ujarnya.

Ia menuturkan, zona demiliterisasi Korea (Zona Demiliterisasi Korea / DMZ) sebagai wilayah terdepan dari konflik kedua negara, saat ini sudah lambat menuju zona damai. Berbagai langkah terus dilakukan. Perubahan-perubahan ke Arah lebih baik juga berjalan.

“Memang jalan menuju perdamaian tak mulus, tapi kita punya tujuan sama menuju perdamaian. Karena hanya dengan kita mencapai kesejahteraan bersama,” ungkapnya.

Dapat diketahui, Megawati menjadi salah satu pembicara utama Forum Internasional DMZ tentang Ekonomi Perdamaian bersama mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder, mantan PM Jepang Yukio Hatoyama, Presiden pertama Mongolia Punsalmaagiin Ochirbat, serta beberapa tokoh penting lainnya dari Rusia, AS, dan Norwegia. (der/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 31 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami