Kontak dengan Pasien Terinfeksi Korona, 15 Warga Batam Dikarantina

BEBAS VIRUS KORONA: Penumpang kapal pesiar World Dream antre turun di Kai Tak Cruise Terminal, Hongkong, Minggu (9/2). Sebanyak 3.600 penumpang dan kru diperbolahkan keluar setelah dikarantina lima hari. (Philip FONG/AFP)
BEBAS VIRUS KORONA: Penumpang kapal pesiar World Dream antre turun di Kai Tak Cruise Terminal, Hongkong, Minggu (9/2). Sebanyak 3.600 penumpang dan kru diperbolahkan keluar setelah dikarantina lima hari. (Philip FONG/AFP)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

BATAM,- Pemerintah mengkarantina lima belas warga Batam. Langkah tersebut ditempuh karena mereka pernah melakukan kontak langsung dengan dua pasien positif corona asal Singapura. Dua pasien asal Singapura yang terkena virus Korona itu berada di Batam pada 21-23 Februari lalu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana, mengatakan kondisi orang-orang dalam pengawasan tersebut cukup baik. Mereka tidak mengalami gejala demam, batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas. “Semuanya sehat seperti kita. Satu hal yang pasti, semuanya sudah kami tangani dengan baik dan benar sesuai prosedural,” jelasnya seperti dikutip Batam Pos (Jawa Pos Group), Selasa (3/3).

Seperti diberitakan Batam Pos kemarin, pada Minggu (1/3) lalu, pemerintah Singapura mengumumkan temuan empat kasus baru orang yang positif terinfeksi virus korona. Dua dari empat pasien baru tersebut, menurut pemerintah Singapura, pernah berkunjung ke Batam pada 21-23 Februari 2020 lalu.

Media Singapura, The Straits Times, melaporkan bahwa dua dari pasien corona yang pernah melakukan perjalanan ke Batam itu, pertama, seorang perempuan Singapura berumur 37 tahun. Ia ditetapkan sebagai case 103. Perempuan ini tak pernah tercatat melakukan perjalanan ke Tiongkok, Daegu, dan Cheongdo. “Tapi pernah berkunjung ke Batam pada 21-23 Februari,” tulis laporan itu.

Perempuan ini mulai merasakan gejala yang identik dengan gejala terinfeksi virus corona sejak 20 Februari (atau sehari sebelum pergi ke Batam). Pasien tersebut kini dirawat di National Centre for Infectious Diseases (NCID) Singapura.

Kemudian, seorang perempuan asal Myanmar berusia 25 tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada perempuan case 103. Ia juga tak pernah tercatat melakukan perjalanan ke Tiongkok, Daegu, dan Cheongdo. “Tapi pernah berkunjung ke Batam pada 21-23 Februari,” tulis laporan itu.

Tjetjep mengatakan, dua pasien positif corona asal Singapura itu tidak terinfeksi di Batam. Namun, keduanya telah membawa virus tersebut sejak dari Singapura. Menurut dia, perempuan berinisial Vp itu (case 103), sebenarnya, datang ke Batam dari 20 hingga 23 Februari. Ia dan keluarganya memiliki sebuah rumah di Batam berikut pembantu dan sopir.

Tjetjep memperkirakan selama di Batam Vp telah berinteraksi dengan ratusan orang. Namun, yang bersifat closed contact hanya sebanyak 123 orang, terdiri dari 82 WNA dan 40 WNI. “Selama di Batam, Vp ini sudah ke pasar dan mal. Oleh sebab itu, kami masih meminta keterangan lebih lanjut dari asisten rumah tangganya. Ke mana saja Vp dan suaminya selama di Batam,” katanya.

Tjetjep mengatakan, Vp tidak sendirian. Ia bersama dengan suami, dua orang anaknya dan asisten yang dibawa dari Singapura. Keluarga Vp ini tidak langsung datang dalam satu rombongan. Pertama kali datang ke Batam adalah Vp pada 20 Februari. Lalu disusul suaminya, dua orang anaknya dan asistennya pada 21 Februari.

Selama di Batam, yang berinteraksi cukup aktif dengan Vp adalah sopirnya berinisial P, 33, (WNI) dan satu orang asisten rumah tangga Css, 39. “Vp ini kembali ke Singapura 23 Februari. 26 Februari Vp sekeluarga dikarantina pemerintah Singapura karena pernah berkontak dengan seseorang yang positif terpapar corona,” sebut Tjetjep.

Lalu pada 29 Februari, pemerintah Singapura menyatakan suami VP dan pembantu rumah tangganya positif mengidap virus corona. Kemudian, 1 Maret, Vp dan seorang pembantu rumah tangganya yang lain juga dinyatakan positif corona. Dan kini Vp sekeluarga sudah ditangani pemerintah Singapura.

Tjetjep mengatakan, pihaknya sudah melakukan pencarian terhadap orang-orang yang pernah berinteraksi dengan VP. “Sopir dan asistennya di sini (Batam), sudah kami dapatkan,” jelasnya.

Sopir Vp, kata Tjetjep, sudah melakukan kontak dengan istri dan dua orang anaknya. Sementara itu, asisten rumah tangganya, Css telah melakukan kontak dengan 10 orang yakni beberapa orang saudaranya. “Semua orang ini sudah diamankan di tempat yang tertutup (dikarantina). Termasuk tukang ojek yang mengantar Css, sudah diamankan juga,” ungkapnya. Total semua 15 orang.

Namun, Tjetjep mengaku tidak bisa menyebutkan dimana lokasi tempat karantina ke 15 orang tersebut. Ia beralasan hal tersebut, hanya dapat menimbulkan kegaduhan. “Satu hal yang pasti, semuanya sudah kami tangani dengan baik dan benar sesuai prosedural,” tuturnya.

Tjetjep mengatakan, mereka akan dilakukan pengawasan hingga 8 Maret mendatang. Bahkan, untuk pemeriksaan swap tenggorokan, juga sudah dilakukan. Sampelnya akan dikirimkan hari ini, dan sekitar 4 atau 5 hari sudah didapatkan hasilnya.

Terkait dengan kemampuan penyelidikan tim kesehatan di Kepri, Tjetjep mengaku baru bisa menelusuri hingga tiga kluster saja. “Misalnya gini, mulai dari yang terinfeksi, lalu yang berkontak dekat dengannya. Lalu orang yang berkontak ini, melakukan kontak dengan siapa saja,” jelasnya.

Dibandingkan Singapura, Tjetjep mengaku Kepri masih kalah jauh. Karena pemerintah Singapura sudah bisa menelusuri hingga enam kluster. “Karena SDM mereka serta fasilitasnya seperti CCTv. Kalau kita kesulitannya di situ,” ungkapnya.

Terkait dengan orang-orang yang satu kapal dengan Vp saat datang ke Batam dan pulang ke Singapura, Tjetjep mengatakan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sedang melakukan pengejaran. Kepala KKP Kelas I Batam, Achmad Farchanny, mengatakan jajarannya sedang melakukan penyisiran terhadap orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Vp. Untuk yang melakukan closed contact dengan Vp di kapal feri, Achmad mengaku sudah mendapatkan nomor telepon dan alamat para penumpang tersebut.

Terkait dengan WNA yang satu kapal dengan Vp, Achmad mengatakan, akan berkoordinasi dengan pihak imigrasi. Namun, hingga kini belum dilakukan penyemprotan disinfektan terhadap kapal yang ditumpangi Vp. “Akan kami lakukan segera,” ucapnya.

Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menambahkan jumlah yang sekarang menjalani karantina bisa saja berubah seiring perkembangan kasus ini begitu cepat.

Didi melanjutkan, karantina dilakukan untuk mencegah agar virus tersebut tidak beredar. Tidak hanya kali ini, Batam sebelumnya pernah mengkarantina sejumlah orang terkait suspect corona namun belakangan karena dinyatakan negatif, yang dikarantina dinyatakan aman. “Untuk kali ini, karantinanya kemungkinan di Asrama Haji. Yang lokasi kru kapal dulu,” jelasnya.

Karantina kru kapal yang dimaksud Didi adalah kru kapal terkait suspect corona pada Januari lalu. Belakangan pasien yang sempat diisolasi di RSUD Embung Fatimah tersebut dinyatakan negatif corona.

* Pemko Tanggung Biaya

Dinkes serta tim kesehatan dari KKP sudah melakukan langkah antisipasi pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19 kepada warga Batam. Terhadap orang yang dalam pengawasan atau sedang menjalani karantina, semua biaya kebutuhan mereka akan ditanggung Pemerintah Kota (Pemko) Batam. “Iya, Dinsos yang akomodir. Jadi selama pengawasan dan melewati masa inkubasi tersebut, mereka akan diawasi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi.

Didi menjelaskan, saat ini langkah cegah tangkal lebih dimaksimalkan, seiring adanya tambahan kasus di Singapura. Untuk itu, warga Batam dimohon untuk menjaga kesehatan dan membatasi perjalanan ke Singapura. Hal ini untuk mencegah penyebaran virus.

Saat ini, ada dua rumah sakit yang sudah siap, jika ada temuan kasus corona di Batam. Kedua rumah sakit itu, yakni RSBP dan RSUD Embung Fatimah. Warga diminta menggunakan masker jika berada di keramaian, hal ini sebagai langkah pencegahan.

* Minta Sampel 33 Warga

Beberapa waktu lalu, seorang warga negara (WN) Singapura bernama Alias bin Ali meninggal dunia di Batam. Penyebab kematiannya masih misterius. Namun, sebelum meninggal Alias memperlihatkan beberapa ciri mirip terinfeksi virus corona. Tetapi, setelah dilakukan pemeriksaan, Alias dinyatakan negatif.

Kendati demikian, pemerintah pusat meminta Pemprov Kepri mengirimkan sampel swap tenggorokan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Alias. “Total semuanya itu ada 33 orang,” kata Kepala Dinkes Kepri, Tjetjep Yudiana.

Ia mengatakan, orang-orang yang telah diambil sampel swap-nya, adalah mulai dokter yang melakukan pemeriksaan, petugas room service, sopir hingga keluarga Alias yang berada di kawasan Botania. “Semuanya kami periksa, dan sampelnya sudah dikirimkan ke Jakarta. Tinggal menunggu hasilnya saja,” ungkapnya.

Tjetjep mengatakan, pemeriksaan ini untuk memastikan secara pasti bahwa Alias tidak terpapar virus corona. “Mana tahu, namanya error itu ada dalam pemeriksaan,” ucapnya.

Saat ini, semua orang yang pernah berinteraksi dengan Alias, sedang dalam pengawasan tim kesehatan Provinsi Kepri. Namun, pengembangan belum dilakukan. “Apabila besok memang ada yang positif, barulah kami kembangkan,” tegasnya. (jp)

  • Dipublish : 3 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami