Korban Gangguan Jiwa Akibat Game Online Bertambah

Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Korban yang mengalami gangguan jiwa akibat game online bertambah banyak. Kasus terakhir terungkap di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dua dua remaja di Kabupaten Bekasi, mengalami gangguan jiwa dan terpaksa harus dirawat di yayasan gangguan jiwa setempat. Mereka menjadi korban dari game online

“Ini contoh nyata penggunaan telepon seluler secara berlebihan sebagai dampak perkembangan game,” kata Ketua Yayasan Al Fajar Berseri Tambun Selatan, Marsan, Kamis (17/10).

Dikatakan Marsan, kedua remaja itu sudah sekitar setahun dirawat di yayasan yang ia dirikan. Mereka adalah Nv (17) asal Cikarang Selatan dan Ty (17) asal Cibitung.

Kesehariannya mereka hanya berdiam diri dan sesekali berinteraksi. Tapi ketika melihat telepon genggam, keduanya langsung bereaksi.

“Jadi, (sehari-hari) cuma biasa saja, diam saja. Makan juga bisa. Cuma kalau ada HP, langsung direbut, diambil, dimainin. Misalnya, ada HP di-charge, langsung direbut. Ini karena mereka sudah terlalu ketergantungan dengan game di HP,” ucap dia.

Informasi dari pihak keluarga, keduanya sudah sangat berlebihan menggunakan ponsel. Bahkan mereka mengoperasikan gawai dari sejak bangun tidur hingga malam, menjelang tidur. Ketergantungan itu bahkan mengganggu kehidupan nyata. Malahan sampai mereka bolos sekolah.

“Bahkan buat makan pun mereka kadang lupa. Lebih parah lagi, kalau dilarang mereka mulai emosional. Bukan cuma marah tapi sampai melawan orangtuanya. Ada beberapa kasus, termasuk yang dua ini,” katanya.

Nv dan Ty, lanjut Marsan bukan pasien gangguan kejiwaan pertama yang dirawat karena penggunaan gawai. Sebelumnya ada satu pasien asal Medan yang mengalami hal serupa.

“Namanya Wh. Katanya sudah (mengunjungi) ke beberapa tempat sampai akhirnya ke kami. Empat bulan di sini, sekarang sudah pulang,” katanya.

Menurut dia penggunaan gawai seharusnya sudah mulai dikendalikan. Orangtua berperan besar mengatasi ini sejak dini.

“Orang tua harus paham di dalam HP itu kan mengandung magnet yang bisa merusak otak. Itu mengapa ada dua orang yang tinggal di sini sekarang,” kata dia.

???????

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bekasi, Muhammad Rozak menyebut efek gawai sangat berbahaya. Meski demikian, dia mengaku belum menangani atau menerima laporan terkait anak yang terganggu jiwanya karena telepon genggam.

Namun, dalam beberapa kasus kekerasan terhadap anak, salah satu faktor penyebabnya yakni penggunaan telepon genggam.

“Sebagai contoh kasus tawuran, itu awalnya dari HP. Begitu juga kasus pencabulan anak oleh anak yang sebelumnya sering mengoperasikan telepon genggam, baik mengakses situs porno atau aplikasi dewasa seperti bigo dan lainnya,” kata dia.

Rozak mengatakan setidaknya KPAD Kabupaten Bekasi menangani tujuh sampai sepuluh kasus per bulan terkait kekerasan anak. Ironisnya dari hasil penelusuran, sekitar 30 persen di antaranya diawali dari gawai.

“Bulan ini saja, Oktober, sudah tujuh kasus. Beberapa di antaranya karena gawai. Sering terjadi tindak kekerasan membuat anak jadi pelaku pidana pencurian, atau justru pelaku pencabulan. Ini menjadi ironis,” ungkapnya.

Sementara berdasarkan data Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat sejak 2016 hingga saat ini sudah ada 209 pasien yang kecanduan main handphone.

Mereka anak remaja mulai dari usia 5 hingga 15 tahun dan harus ditangani dengan cara rawat jalan, bahkan ada juga pasien yang harus dirawat inap.

“Sejak tahun 2016 pemakaian tempat tidur untuk pasien anak yang kencanduan ponsel sudah lebih dari 60 persen jadi trennya memang ada kenaikan, secara keseluruhan totalnya ada 209 pasien,” ujar Direktur RSJ Provinsi Jawa Barat, dr Elly Marliyani, di RSJ Cisarua, Selasa (15/10).

Sedangkan Sub Spesialis Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, RSJ Provinsi Jawa Barat, dr. Lina Budianti mengatakan, penyebab utama anak kecanduan handphone yang sudah ditangani RSJ Cisarua selama ini yaitu bermain game online secara berlebihan.

“Kalau dulu kan sulit anak bermain game online dan browsing internet melalui handphone. Tapi sekarang mereka sangat mudah,” katanya.

Dikatakannya, dalam sepekan saja, pihaknya menangani 2 hingga 3 pasien yang kecanduan game online di handphone.

(gw/fin)

Sumber: fin.co.id
  • Dipublish : 18 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami